Laporan mendalam

Musabab Kilang Padi Lokal Gulung Tikar dan Berlabuhnya Gabah ke Medan

·
Musabab Kilang Padi Lokal Gulung Tikar dan Berlabuhnya Gabah ke Medan
Kilang padi milik Rizal Aswandi yang berada di Gampong Babah Jurong, Kecamatan Mila, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Rizal Aswandi, 32 tahun, warga Gampong Krueng, Kemukiman Andeu Lala, Kecamatan Mila, Pidie, membeli sebuah kilang padi yang berada di Gampong Babah Jurong sekitar dua tahun lalu.

Beroperasi selama satu tahun lebih, kilang tersebut akhirnya terpaksa gulung tikar karena ia tak memiliki modal untuk membeli mesin dryer (mesin pengering padi).

“Saat itu, kilang padi saya memproduksi hanya lima ton beras. Kalau kilang padi besar dengan perlengkapan lengkap bisa mencapai 45 ton per hari. Apalagi, kilang padi saya tidak dilengkapi dengan alat pengering padi atau dryer. Kalau tidak dilengkapi alat tersebut, tidak boleh diolah langsung, misalkan kita beli padi basah, harus dijemur dulu, harus mengeluarkan biaya untuk pekerja yang bertugas menjemur padi,” kata dia.

Kata Rizal Aswandi, kilang padi besar dengan perlengkapan mesin dryer mampu mengolah gabah basah menjadi beras dalam sekali pencet tombol.

“Butuh modal besar agar mampu bersaing dengan kilang padi besar, sehingga mampu memproduksi lebih banyak beras,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Rizki, pemilik kilang padi di Gampong Lingkok Busu, Kecamatan Mutiara. Kilang padi miliknya sudah sekitar lima tahun tidak beroperasi lagi.

“Karena persaingan dengan pabrik lain yang lebih besar dan lebih banyak modal, sehingga kilang padi ini sulit bersaing dengan kilang padi yang lebih besar dan lengkap dengan alat-alat terbarunya,” ungkapnya.

Fakta bahwa kilang padi kecil tergerus oleh kilang padi besar terkonfirmasi, salah satunya, dengan keberadaan kilang padi yang terletak di tengah-tengah hamparan sawah di Gampong Tangkueng, Kecamatan Sakti, Pidie, milik Muhammad Yusuf. Kilang padi tersebut sudah beroperasi selama puluhan tahun.

Salah seorang pekerja di kilang padi tersebut, Musafir, 34 tahun, kepada sinarpidie.co mengatakan,  dalam sehari, kilang padi tersebut menggiling 100 ton gabah. "Di kilang itu sudah dilengkapi dryer atau alat pengering padi  sebanyak dua unit. Satu unit mesin dryer ukuran 20 ton, satu unit lagi dryer seukuran 30 ton," ujar Musafir.

Beras di kilang padi tersebut dijual Rp 145.000 per sak 10 kg. Beras-beras hasil produksi kilang tersebut dipasarkan di Pidie dan sebagiannya juga dipasarkan ke Medan, Sumatera Utara.

sinarpidie.co mencari rincian atau jumlah kilang padi baik kecil, menengah, maupun skala besar di Pidie pada Dinas Pertanian dan Disperindagkop. Namun, celakanya, kedua instansi tersebut tak memiliki rincian jumlah kilang padi di Pidie yang terekapitulasi dengan baik dan sesuai prosedur administrasi institusi pemerintah, bahkan untuk yang masih beroperasi sekalipun alih-alih data kilang padi yang sudah gulung tikar. Berharap memperoleh data kilang padi pada instansi vertikal, sinarpidie.co menyambangi BPS Pidie dan Bulog Divisi Regional (Divre) Pidie. Nihil. Tak ada data sama sekali.

Dampak dari gulung tikarnya kilang padi di Pidie, salah satunya, gabah-gabah yang dipanen dikumpulkan tengkulak untuk selanjutnya diangkut ke Medan, Sumatera Utara. “Rata-rata padi di tempat kita diolah di Medan oleh kilang padi besar, jadi secara otomatis setelah mereka membeli padi di tempat kita sedikit lebih mahal, saat sudah diolah menjadi beras, mereka akan menaikkan harga beras. Kemudian, kalau kilang padi kecil, kualitas berasnya pun kalah dengan kualitas beras kilang padi besar,” ungkap Rizal Aswandi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Ir Ainal Mardiah menuturkan, tutupnya sejumlah usaha kilang padi di Pidie dikarenakan pengusaha-pengusaha di bidang tersebut tidak memiliki modal yang memadai. “Mau ambil modal dari bank, mereka beratnya di bunga,” kata dia, Selasa, 24 Juli 2018 lalu di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan setempat. “Yang masih hidup kilang padinya, kalau saya tidak salah, di Tiro, di Mali, Keumala. Kalau tidak salah, ada sekitar tujuh yang masih beroperasi.”

Tak memiliki modal memadai

Kepala Sub Bulog Divisi Regional (Divre) Pidie Mukti Yanuar juga menuturkan hal yang sama. Menurutnya pengusaha kilang padi di Pidie umumnya juga tidak mampu bersaing dengan kilang padi skala besar, yang modalnya lebih besar.

“Konsekuensi dari matinya kilang padi skala kecil di Pidie, ya paling sedikitnya produksi beras dari produk lokal. Mengenai hasil panen padi di Pidie diangkut ke Medan, kita lihat sampai saat ini belum ada regulasi dari pemerintah, masih bebas, ya resikonya berkurangnya produksi beras lokal dan pada saat tertentu beras produksi luar daerah masuk ke wilayah kita dengan harga yang lebih mahal,” ungkapnya pada sinarpidie.co pada Jumat, 27 Juli 2018 lalu. “Kita juga sering menghimbau dan mengajak beberapa mitra kilang padi untuk menjual berasnya ke Bulog, minimal 10 persennya dijual ke kitalah."

Untuk serapan gabah (Pidie dan Pidie Jaya) yang terealisasi Bulog, kata dia, sejak Januari hingga Juni baru terserap 27 %.

“Pada sisa waktu beberapa bulan kedepan kita optimis mampu mencapai target sesuai yang diintruksikan pemerintah. Kebutuhan beras lokal selama ini diambil dari luar. Kita di Bulog kan yang kontrolnya di pusat, di sana yang ngatur soal beras luar masuk ke kita untuk kebutuhan lokal. Memang iya, untuk kebutuhan lokal dari hasil panen petani mencukupi, bahkan lebih,” kata dia lagi.

Berlaku di seluruh Aceh

Sudah berlaku umum bahwa, pasca-panen, gabah Aceh dimobilisasi ke Sumatera Utara. Polanya, gabah petani dibeli dalam jumlah yang besar dengan sistem cash and carry.

“Berlaku hukum pasar di situ. Harga gabah yang dibeli pada petani bersaing. Lokal dan Medan. Hanya saja, modal pengusaha lokal kita terbatas untuk membeli gabah petani dalam skala yang besar,” kata Kasi Produksi Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Zulfadli, Selasa, 14 Agustus 2018.

Kata dia, perlu kerja-kerja lintas sektor untuk memberdayakan pengusaha kilang padi lokal. “Stakeholder lain harus terlibat di situ. Tidak bisa dinas pertanian saja, karena dinas pertanian hanya pada konteks kapasitas produksinya,” kata dia lagi. “Pada fase pengolahan, nilai tambah diperoleh pengusaha di Medan. Dengan harga bersaing, otomatis petani kita diuntungkan. Itu logikanya. Hanya saja, dari sisi ketahanan pangan kita. Kemudian di nilai tambah, tidak untung, karena yang dapat untung, pengusaha pengolah.”

Apa yang disebutkan Zulfadli pernah diutarakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin, dengan gamblang. “Rugi sebenarnya kita kalau kita bawa ke Medan itu. Harga bersaing, antara lokal dan Medan. Hasilnya nanti, dari gabah apa produksi ikutannya, ada dedak, ada sekam. Itu bisa dimanfaatkan. Kenapa di Aceh masih belum menampung gabah petani yang besar. 2, 5 juta ton gabah kering giling kita. Gabah kering panen kita lebih banyak lagi. Itu karena di Aceh, kilang-kilang padi yang modern dengan teknologi yang tinggi, masih sangat minim. Sehingga tidak mampu menampung hasil panen petani,” kata dia pada sinarpidie.co, Rabu, 2 Mei 2018. []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Firdaus.

Komentar

Loading...