Figur

Mimbar Dakwah, Kursi Parlemen, dan Pendidikan Anak Yatim bagi Seorang Fatimah Cut

·
Mimbar Dakwah, Kursi Parlemen, dan Pendidikan Anak Yatim bagi Seorang Fatimah Cut
Fatimah Cut. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Siang itu, Selasa, 25 September ia baru saja selesai makan. Sambil membersihkan sisa-sisa makanan di mulut, ia mempersilahkan saya duduk. Namanya Hj. Fatimah Cut, 90 tahun.

Ia kini menetap di Gampong Dua Paya, kecamatan Peukan Baro, Pidie.

Di usia senjanya, ia menghabiskan waktunya di atas sebuah ranjang di ruang tamu. Hanya ada sebuah televisi berukuran 20 inci di sebelah kanan ranjangnya.

Dunianya kini hanya selebar ruang tamu itu. Tapi wawasannya setidaknya terwakilkan dengan buku-buku koleksinya.

Di samping tempatnya meletakkan kepala saat berbaring, ada beberapa buah buku agama.

"Ini buku-buku yang sering saya baca-baca," kata dia sambil memperlihatkan buku-bukunya.

Dari mimbar dakwah ke parlemen

Di umur dua puluhan, Fatimah muda adalah seorang penceramah.

Hari-hari kala itu, ia sering mengisi dakwah-dakwah di hari-hari besar Islam, seperti peringatan Isra' dan Mi'raj, maulid, dan lain-lain.

"Saya sering diundang untuk berdakwah, bukan cuma di Aceh, tapi sampai ke Malaysia saya pernah berdakwah," kenangnya.

Berdakwah baginya merupakan suatu keharusan. Ia berprinsip: segala sesuatu yang baik haruslah disampaikan kepada orang lain.

Tahun demi tahun berjalan, semangatnya berdakwah semakin terus bergelora. Hingga suatu waktu, dakwah mengantarkannya ke dalam dunia politik.

Dari mimbar dakwah, ke panggung politik, mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidupnya.

Masuk ke dunia politik bukanlah tujuan Fatimah. Semua itu dilatarbelakangi oleh permintaan masyarakat kala itu.

“Tahun tujuh puluhan, kalau saya tidak salah, karena diminta, maka jadilah saya anggota DPRK Pidie," kisahnya.

Sambil sesekali membenarkan letak selendang di atas kepalanya, Fatimah melanjutkan, "Periode pertama, lewat Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Periode kedua lewat Partai Golkar.”

Kala ia diminta untuk menjadi anggota DPRK Pidie untuk periode ketiga, dirinya menolak permintaan itu.

“Biar orang lain saja, saya tidak mau serakah," kata dia.

Ia berkisah, dalam perjalanan sebagai anggota dewan, ia tidak menanggalkan kegiatannya sebagai pendakwah. Di tengah-tengah kesibukannya, ia meluangkan waktu untuk berdakwah.

Panti Asuhan Yayasan Dayah Diniyah Lampoh Saka

Kepeduliannya terhadap sesama tak hanya ia tunjukkan lewat keterwakilannya di DPR dan di atas mimbar dakwah, tapi ia juga membuka balai pengajian di halaman rumahnya. Belakangan, balai tersebut semakin berkembang dan menjadi panti asuhan bagi anak yatim dan fakir miskin.

Di panti asuhannya yang masih eksis hingga hari ini—Panti Asuhan Yayasan Dayah Diniyah Lampoh Saka— ia menyediakan fasilitas pendidikan agama dan menyediakan biaya pendidikan formal bagi anak-anak yatim dan anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu tanpa sedikitpun meminta imbalan.

Panti Asuhan Yayasan Dayah Diniyah Lampoh Saka, (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

“Selalu ada saja rezeki Allah. Lewat sedekah,” ungkap ibu empat orang anak ini.

Sekurang-kurangnya, sejak balai dan panti itu berdiri, sudah lebih seribuan anak yang pernah ia didik dan ia asuh.

“Ada yang dari luar Pidie juga, seperti dari Takengon, Bireun, dan sekarang ada yang sudah membuka tempat mengaji juga, seperti di Tangse," jelasnya.

Diakhir obrolan, ia berpesan, khususnya bagi kaum perempuan, untuk terus belajar dan jangan lelah untuk berbuat baik pada sesama.[]

Komentar

Loading...