Perjalanan

Menziarahi Makam Teungku Rubiah di Ulim

·
Menziarahi Makam Teungku Rubiah di Ulim
Makam Teungku Rubiah. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co—Makamnya terletak di ujung Gampong Reuleut, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Medan yang ditempuh, dari kawasan padat pemukiman di gampong tersebut menuju ke makamnya, adalah jalan terjal yang menanjak dengan batuan yang cadas.

Kadang, pada satu-dua sudut jalan yang dilewati, jurang tampak curam di kiri dan kanan. Di kiri-kanan jalan pula, tampak kebun-kebun kakao warga di tiap jengkal tanah. Tak kurang 50 hektare kebun kakao dibuka di lahan tersebut, yang pembangunannya telah dirintis sejak 2008 silam.

Waktu tempuh dari pusat gampong ke puncak sana sekitar 15 menit berkendara.

Begitu sampai, Anda akan disambut pagar buntung bewarna hijau: pagar yang tak seutuhnya memagari satu hektare lahan itu, karena volumenya hanya sekitar 240 meter.

Beberapa langkah melewati pagar itu, Anda juga akan menemukan mon cring, sebuah sumur yang dulunya mengeluarkan suara seperti suara gelas yang pecah tatkala batu dijatuhkan ke dalam sumur yang dalam itu.

Mon cring. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Kini, suara itu tak lagi keluar.

Lebar makam itu sekitar 1, 5 meter dengan panjang sekitar enam meter. Penuh bebatuan. Itu adalah makam Teungku Rubiah. Tak jauh dari makam Teungku Rubiah, bersanding makam Sanusi dan Khamsiah, dua penjaga yang sehari-hari tinggal bersama Teungku Rubiah di puncak itu.

Teungku Rubiah disebut-sebut seorang perempuan asal Gampong Meulum, Kecamatan Samalanga, Biruen, yang konon mengasingkan diri ke puncak pegunungan tersebut (kaluet) untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Konon, makamnya juga dijaga seekor harimau.

Itu merupakan cerita dari mulut ke mulut yang belum terverifikasi dokumen dan fakta-fakta sejarah yang valid.

Pemandangan dari puncak ke bawah. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Sumber sejarah tulisan menyebutkan, Sultan Iskandar Muda, yang ingin memperluas persawahan dan membangun irigasi sekaligus hingga ke Meureudu, melibatkan ulama untuk mewujudkan hal itu.

“Pembangunan irigasi ke sawah-sawah di semua daerah itu juga melibatkan ulama-ulama setempat, seperti Tgk Di Waido (Lueng Bintang) atau sering disebut Tgk Di Pasi, kemudian Tgk Treung Campi di Glumpang Minyek yang membuka irigasi ke blang raya Glumpang Payong. Tgk Rubiah (Rubieh) di Meureudu dan beberapa tempat lainnya. Sampai sekarang para petani sebelum turun ke sawah melakukan khanduri blang di makam ulama-ulama tersebut,” tulis Iskandar Norman dalam makalahnya Pidie Raya dalam Lintasan Sejarah.

Sulaiman, warga Gampong Reuleut, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, yang ditemui di sekitar makam tersebut, Senin, 31 Desember 2018, mengatakan, menjelang musim turun ke sawah, banyak warga datang menggelar kenduri dan doa bersama di makam tersebut.

“Senin dan Kamis,” kata dia. []

Komentar

Loading...