Serba-serbi Ramadhan

Menyambangi Masjid dan Makam Kuno di Usi

·
Menyambangi Masjid dan Makam Kuno di Usi
Mimbar di Masjid Kuno Usi, di Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Masjid itu sudah beberapa kali direnovasi, namun rangka bangunan di dalam masjid itu disebut-sebut masih rangka bawaan yang masih utuh sejak masjid itu dibangun pada abad ke-16, di masa Sultan Iskandar Muda naik tahta sebagai raja Kerajaan Aceh.

Masjid tersebut berukuran sekira 8 x 8 meter. Selain rangka bangunan, mimbar dan sebatang bambu bercabang yang difungsikan sebagai tangga menuju ke atap masjid tersebut disebut-sebut juga sudah berusia ratusan tahun. Terdapat sekira 16 tiang berdiameter 52 cm yang menopang atap bagian atas.  Yang juga tampak kentara tanpa direnovasi: keseluruhan rangka bangunan tak menggunakan paku tapi dipasak dan diikat dengan ikatan tali ijuk.

Bambu bercabang yang berfungsi sebagai tangga. (sinarpidie.co/Firdaus).

Snouck Hurgronje, dalam bukunya De Atjèhers, menuliskan, Sultan Iskandar Muda memang membangun sejumlah masjid di Pidie. Namun, Snouck tak merinci satu per satu masjid mana saja yang dibangun sang sultan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan sejumlah bukti-bukti ilmiah untuk memastikan bahwa Masjid Kuno Usi, di Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, itu merupakan masjid yang dibangun Iskandar Muda.

“Masjid ini dibangun bersamaan dengan Masjid Beuracan Meureudu dan Masjid Teumeureuhom,” tutur Salahuddin Hasan, 90 tahun, warga Gampong Masjid Usi, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Senin, 6 Mei 2019.

Bambu dan tiang-tiang kayu tersebut, kata dia, merupakan kayu dan bambu yang tak sembarang ditebang dan dipotong.

“Akan dicari bambu terbaik. Dipertimbangkan hari apa yang bagus dipotong, apakah bulan sedang naik atau sedang turun, apakah pagi atau siang hari. Mengapa bambu tersebut kini sudah terbelah-belah, itu karena sudah dicat. Sebelum dicat, ia masih utuh. Termasuk mimbar, karena dicat, makanya ada bagian-bagian yang tergelupas. Tidak boleh dicat padahal,” kata dia. “Perlu dicatat, orang dulu tidak menamakan nama masjid ini itu seperti sekarang, ya. Tapi masjid mukim. Misal Masjid Usi. Masjid ini masjid Kemukiman Usi.”

Di belakang masjid tersebut, terdapat dua kuburan kuno dan, dari dua kuburan kuno tersebut, berdasarkan penuturan orangtua di Gampong Masjid Usi dulu yang didengar Salahuddin Hasan, hanya satu kuburan yang bisa diidentifikasi, yakni kuburan Habib Bugeh.

Konon, Habib Bugeh merupakan penduduk pertama yang tinggal di gampong tersebut, sekaligus orang pertama yang menyebarkan Islam di sana. Namun, belum ditemukan satu pun fakta sejarah yang tertulis untuk hal itu.

Salahuddin mengarahkan jari telunjuknya ke atas atap Masjid Kuno Usi seraya berkata, “Dulunya, masjid itu punya empat atap yang bertingkat yang bermakna: tingkat pertama, muslim; tingkat kedua, mukmin; ketiga, mustaqin; dan keempat, muksin. Kini, sudah tak ada lagi.”

Kini, kondisi masjid dan makam kuno tersebut tampak menyedihkan. Masjid direnovasi dengan ikatan batu bata yang telanjang. Di dalam, debu menempel di mana-mana. Tak terurus.

Terakhir kali salat berjamaah dilakukan di masjid tersebut sekitar tahun 2000 silam.

Masjid Kuno Usi yang telah direnovasi dengan kontruksi bangunan beton dan batubata. (sinarpidie.co/Firdaus).

Hal yang sama juga terjadi pada makam kuno yang sama sekali tak dipugar. Padahal, baik Masjid Kuno Usi maupun makam kuno tersebut telah masuk ke dalam daftar situs atau bangunan cagar budaya di Aceh.

“Guci kuno di masjid itu sudah tak ada lagi. Pecah karena dirobohkan sapi,” kata Salahuddin.[]

Komentar

Loading...