Laporan mendalam

Mengungkap Indikasi Kecurangan Pembangunan Kios di Pasar Ulim

·
Mengungkap Indikasi Kecurangan Pembangunan Kios di Pasar Ulim
Kios 16 pintu di Pasar Ulim yang direhab pada tahun anggaran 2018, bersamaan dengan pembangunan baru kios 8 pintu di pasar yang sama. Keduanya dikerjakan oleh CV. Afdi Pratama. (sinarpidie.co/Firdaus).

Rp 1 M lebih bersumber dari DAK tahun 2018 untuk dua paket pekerjaan--pembangunan dan rehab kios di Pasar Ulim pada 2018--dimenangkan oleh CV. Afdi Pratama. Diduga banyak penyimpangan terjadi sejak proses tender hingga hasil pekerjaan dua paket tersebut.

sinarpidie.co—Pembangunan kios permanen 8 pintu dan sarana pendukung dengan nilai kontrak Rp 548.300.000 dan rehabilitasi pasar dan sarana pendukung pada 16 kios di Pasar Ulim dengan nilai kontrak Rp 499.200.000 dimenangkan CV. Afdi Pratama.

Amatan sinarpidie.co, plafon dan lantai kios yang dibangun baru sebanyak 8 pintu di pasar tersebut tidak terpasang dengan rapi. Di samping itu, dinding-dinding kios mengalami keretakan dan bergelombang di sejumlah bagian dan pintu bekas pada kios tersebut hanya dicat ulang.

Salah seorang penyewa kios 8 pintu yang dibangun baru pada 2018 lalu, mengatakan, bangunan kios lama dibongkar atau robohkan semua lalu dilakukan pembangunan yang baru. Penyewa tersebut mengamati proses pembangunan kios baru tersebut sejak awal.

8 kios yang dibangun pada 2018 di Pasar Ulim. 4 kios di antaranya menggunakan pintu bekas yang dicat ulang. (sinarpidie.co/M Rizal).

“Sebelumnya saya sewa kedai di sekitar sini juga. Usaha saya sudah enam tahun di pasar ini. Saya sewa kios baru ini sejak bulan Februari tahun 2019. Sewa Rp 6 juta per tahun. Dua kali bayar,” kata dia, Kamis, 21 Agustus 2019. “Retak pada dinding karena retak plasteran. Kalau tipis plasteran tetap retak. Kalau plafon tripek itu tidak terpasang dengan rapi karena mungkin tukang tidak tahu cara pasang plafon dengan baik. Lantai keramik kosong ketika kita ketok. Artinya yang kosong tersebut keramiknya akan mudah patah. Dinding bergelombang, karena di dalamnya ada balok, jadi saat diikat dengan batu bata baloknya agak besar, saat diplaster jadi timbul. ”

Sekretaris Disperindagkop Pidie Jaya, yang juga sebelumnya menjabat Kabid Perdagangan pada Disperindagkop Pidie Jaya, Muslim, mengatakan, penggunaan pintu bekas pada pembangungan kios permanen 8 pintu di Ulim sudah sesuai dengan kontrak, karena kios 8 pintu tersebut, meskipun pada perencanaan awal merupakan pembangunan baru, namun dalam perjalanan hanya dilakukan rehabilitasi sesuai dengan kontrak yang diadendum.

“Uang tidak cukup sementara items-items lain sangat dibutuhkan, jadi kan bisa kita rehab saja untuk menghemat uang Negara. Yang namanya rehab kan pintu lama kita pasang,” kata Muslim, Kamis, 29 Agustus 2019. “Dari pembangunan baru ke rehab ada addendum kontrak. Di kontrak lama pintu baru 12 pintu, di kontrak baru 4 pintu baru. Anggaran yang semula diperuntukkan untuk 8 pintu baru dialihkan untuk pemasangan keramik di depan, saluran, dan kanopi. Uangnya balance semua dan tertuang dalam kontrak addendum. Jadi tidak ada kerugian Negara.”

Baca juga:

Ditanyai sinarpidie.co, jika hanya melakukan rehab kios di lokasi yang sama, mengapa kegiatan tersebut dipecah menjadi dua, yakni pembangunan baru kios 8 pintu dan rehab kios 16 pintu di Pasar Ulim, Muslim menjawab, “Karena tidak boleh satu kontrak. Masalah satu perusahaan yang sama itu kewenangan ULP untuk menjelaskan. Kemungkinan untuk perusahaan yang sama dibenarkan karena untuk memudahkan melakukan pengawasan.”

Plafon di dalam kios 16 pintu yang direhab pada 2018 lalu di Pasar Ulim.

Salah seorang pedagang yang menyewa salah satu kios dalam deretan kios 16 pintu yang direhab di Pasar Ulim, yang diwawancarai sinarpidie.co mengatakan, items-items yang rehab ialah atap, lantai depan, pengecatan di luar, dan pemasangan kanopi.

“Saya sewa Rp 3 juta setahun. Seng baru. Dulu bocor, sehingga plafon di dalam rusak. Saat direhab, plafon tidak diganti baru,” kata dia, Rabu, 28 Agustus 2019. “Di dalam tidak ada yang direhab dan dicat pun tidak di dalam. Yang ada pintu pun pintu lama yang dicat ulang.”

PP Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah mengatur tentang penghapusan aset, jangka waktu pemanfaatan aset, perencanaan kebutuhan, hibah aset dan standardisasi penggunaan gedung. Dengan kata lain, setiap dilakukan pembongkaran atau pembangunan baru di atas bangunan lama seharusnya dilakukan penghapusan aset terlebih dahulu.

Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan Kabupaten (DPKK) Pidie Jaya Drs M Diwarsyah pada sinarpidie.co mengatakan, kemungkinan besar bangunan kios lama di Pasar Ulim yang dibangun bangunan kios  baru 8 pintu pada 2018 belum pernah dihapuskan.

Capture pemenang rehab pasar Ulim. Sumber LPSE Pemkab Pidie Jaya.

“Ketika dalam RAB tidak tercantum pemasangan pintu baru dan aset Pemkab Pidie Jaya berupa pintu masih ada dan digunakan kembali, ya sebenarnya tidak ada masalah. Kecuali, yang jadi masalah, sudah dianggarkan pintu baru tapi dipakai pintu lama. Hanya saja, proses penggunaan kembali pintu tersebut pada saat bangunan lama yang rusak dan dibongkar apakah sudah dihapuskan atau tidak, itu akan kita pelajari dulu dan kita koordinasikan dengan pihak terkait. Kalau sudah dihapuskan, mengapa masih dipakai. Juga sebaliknya, kalau masih dipakai, mengapa diajukan untuk penghapusan,” kata dia menjelaskan.

Barang-barang bongkaran bangunan lama, kata M Diwarsyah, harus dikembalikan kepada Bidang Aset DPKK Pidie Jaya untuk kemudian ada langkah-langkah tindaklanjut, apakah untuk dilakukan penghapusan, dihibahkan, ataupun dilelang.

Capture pemenang kios permanen 8 pintu. Sumber LPSE Pemkab Pidie Jaya.

Proses tender

Tender pembangunan kios permanen 8 pintu dan sarana pendukung diikuti oleh 8 perusahaan, namun hanya CV. Afdi Pratama dan CV. Azka Persada yang memasukkan penawaran harga. Penawaran CV. Azka Persada, yakni Rp 535.600.000, justru sebenarnya lebih rendah dibandingkan penawaran CV. Afdi Pratama, yang beralamat di Jl. Banda Aceh – Medan No. 12 Ulim, senilai Rp 548.300.000. Lalu, tender rehabilitasi pasar Ulim dan sarana pendukung (16 kios) diikuti 9 perusahaan dan hanya CV. Afdi Pratama yang mengajukan penawaran. []

Komentar

Loading...