Figur

Mengenal Mahfuddin Ismail, Mengenang Mantri Hamid

·
Mengenal Mahfuddin Ismail, Mengenang Mantri Hamid
Mahfuddin Ismail SPdI MAP. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Sosok Mahfuddin Ismail SPdI MAP tidaklah asing baik bagi kalangan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun kalangan kelompok masyarakat sipil di Pidie.

Bagi mantan kombatan, ia dikenal sebagai sosok yang berasal dari keluarga GAM. Pamannya, Mantri Hamid Idris, —kini almarhum—merupakan salah seorang pentolan GAM angkatan 1976, yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur GAM Wilayah Pidie. Aktivitas politik sang paman tersebut, membuat keluarga besarnya, tak terkecuali sang Ayah, Ismail Abubakar, keluar-masuk kamp stattis Rumoh Geudong.

“Ayah saya keluar-masuk Rumoh Geudong. Lumrah mendapat penyiksaan di sana saat itu.” kisahnya,  Sabtu, 6 April 2019. “Dia juga banyak membantu perjuangan GAM dulu.”

Sang paman, Mantri Hamid Idris,  di tahun-tahun 1990-an, menyingkir ke dalam hutan, sebab rumah keluarga besarnya di Gampong Sukon Baroh, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, dibakar.  

“Mantri Hamid meninggal pada tahun 1994, karena sakit di masa-masa dia bergerilya di dalam hutan. Kuburannya di Gunung Patisah di Tiro,” kata Mahfuddin Ismail.

Di kalangan kelompok masyarakat sipil, pria kelahiran 13 April 1981 ini dikenal aktif berorganisasi sejak ia masih tercatat sebagai mahasiswa PTI Al-Hilal Sigli. Saat masih duduk di bangku kuliah, suami Hetti Zuliani MPd, ini, telah aktif sebagai pengurus BEM. Di lingkungan tempat tinggalnya di Gampong Sukon Baroh, pada masa-masa itu, alumni S-2 Administrasi Publik Universitas Medan Area ini, juga dikenal sebagai Ketua Remaja Masjid Teupin Raya.

Pasca-damai pada 2005 silam, ia menginisiasi satu organisasi kepemudaan Seurapat Amnesment Teupin Raya.  

“Dengan OKP tersebut, saya gerakkan konvoi tahun 2007 untuk keliling Pidie, juga saya gagas kegiatan-kegiatan sosialisasi MoU Helsinki dan UUPA,” kisahnya. "Saya belajar dari paman saya Mantri Hamid tentang keteguhan sikap dan loyalitas."

Pada 2008, ia terpilih sebagai Sektaris Dewan Pimpinan Sagoe Partai Aceh (PA) Teupin Raya atau Kecamatan Glumpang Tiga. Dan satu tahun selanjutnya, ia dipercayai untuk menjabat sebagai Ketua DPS PA Teupin Raya. “Ini memasuki periode ketiga saya menjabat Ketua DPS PA Teupin Raya,” tuturnya.

Saat maju ke kursi DPRK Pidie pada Pileg 2009 silam, melalui konvensi lokal, yang melibatkan pengurus PA dan KPA Sagoe Teupin Raya serta tokoh masyarakat, mereka memutuskan untuk menunjuk Mantan Wakil Ketua KNPI Pidie, itu, sebagai calon legislatif dari sagoe tersebut.

Pada Pileg 2009 silam, ia terpilih, dan pada Pileg 2014 lalu, ia juga berhasil memperoleh kursi di DPRK Pidie. Pada Pileg 2019 ini, ia kembali maju sebagai calon legislatif DPRK Pidie Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Pidie--Glumpang Tiga, Kembang Tanjong, Mutiara Timur dan Glumpang Baro-- yang diusung Partai Aceh (PA).

“Dari dulu saya memang sudah suka membaca buku-buku bertemakan politik. Saat menjadi dewan, persoalan yang harus ditangani adalah aspirasi-aspirasi konstituens dan itu harus kita penuhi. Rumit. Dan, bagaimana saya meyakinkan agar konstituen saya bisa selalu percaya dan dekat dengan saya dengan membawa program-program kepentingan umum ke wilayah konstituen saya, agar harapan mereka selalu terjaga: Saya selalu berupaya untuk mendahulukan kepentingan publik, seperti mengusulkan kegiatan pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya,” ungkapnya.

Di samping itu, sebagai anggota DPR, dirinya selalu memberikan pendidikan politik pada masyarakat, agar masyarakat paham tentang  fungsi-fungsi DPR.

“Sehinga publik memahami, misalnya, pengangaran bagaimana itu prosesnya dan monitoring bagaimana alurnya. Kalau legislasi, selama ini banyak sudah yang dibahas dan disahkan, namun sesudah disahkan, tidak dilakukan sosialisasi, sehingga implementasinya tidak terlalu berjalan,” tuturnya.

Di sisi pembangunan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, ia berpendapat, eksekutif harus betul-betul memetakan apa saja potensi daerah yang bisa dikembangkan terlebih dahulu dalam blue print pembangunan yang berkelanjutan.

“Misalnya potensi kerupuk mulieng, itu seharusnya bisa dikembangkan dan sangat potensial di Pidie. Contohnya, dengan membuat varian-varian rasa yang baru, sehingga orang menarik pada kerupuk mulieng. Lalu, di level produksi dan pemasaran, antara home industry juga bisa dihubungkan dengan wisata. Produk perkebunan juga bisa dikemas dalam konsep Agrowisata Pidie,” kata dia, memberi contoh. []

Komentar

Loading...