Serba-serbi ramadhan

Liputan khusus stunting

Mendeteksi Stunting sejak Dini

·
Mendeteksi Stunting sejak Dini
Anum Pasrah, 28 tahun, bersama putranya, Farid Aqil Atallah. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co—Anum Pasrah, 28 tahun, mengetahui putranya, Farid Aqil Atallah, mengalami stunting pada saat sang putra tersebut berumur 2,5 tahun. Kala itu, ia membawa Farid Aqil Atallah ke Posyandu di Gampong Teungoh Mangki, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

“Tingginya sekarang 95 sentimeter. Saya tanya, mengapa anak saya stunting? Jawaban mereka karena tinggi dan berat badannya tidak sesuai dengan tinggi dan berat badan anak-anak seusianya," kata ibu dua anak ini.

Putra pasangan Muhammad dan Anum Pasrah ini lahir pada 7 Juni 2015.

Di Pidie, ada lima kecamatan yang menjadi lokasi kasus (Lokus) stunting di Pidie, yaitu Kecamatan Kembang Tanjong, Tangse, Mutiara Timur, Simpang Tiga, dan Tiro.

Gampong Ara, Kembang Tanjong; Ulee Gunong, Kecamatan Tangse; Mesjid Usi, Campli Usi, dan Balee Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara Timur; Gampong Nien dan Tengoh Mangki, Kecamatan Simpang Tiga. Di Kecamatan Tiro, Gampong Peunadok, Meunasah Panah, dan Panton Beunot

Faktor utama terjadinya stunting pada anak disebabkan kurangnya gizi sejak dari janin hingga awal kehidupan anak selama 1000 hari pertama kelahiran.

Hal ini disebabkan karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Faridah, Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat pada Dinas Kesehatan Pidie, mengatakan, stunting juga disebabkan tingginya remaja anemia.

“Remaja yang menderita anemia yang kemudian menikah otomatis akan membawa dua masalah pada saat mereka hamil, yaitu ibu anemia dan janin yang terhambat perkembangannya karena sang ibu mengalami kekurangan gizi,” kata Faridah pada sinarpidie.co, Selasa, 15 Januari 2019 di Sigli lalu.

Di Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, dikutip dari Profil Kesehatan Kabupaten Pidie, yang dirilis 27 April 2016, pada 2015, jumlah ibu hamil di kecamatan ini berjumlah 540, sedangkan yang mendapat tablet tambah darah  (30 tablet) hanya 357 ibu hamil atau 66,11 persen. Dan ibu hamil berisiko anemia yang semestinya mengonsumsi 90 tablet tambah darah selama periode kehamilan hanya 289 ibu hamil atau 53,52 persen.

Kemudian, persentase cakupan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) pada ibu hamil di Kecamatan Simpang Tiga hanya sekira 20 persen.

Yang lebih miris, dikutip dari Kabupaten Pidie dalam Angka 2018 (BPS), berdasarkan data Dinas Kesehatan Pidie pada 2017, hanya 35,9 persen bayi mendapat imunisasi dasar lengkap.

“Lokus stunting ditentukan oleh kementerian,” kata Faridah, Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat pada Dinas Kesehatan Pidie, Jumat, 8 Maret 2019.

Pada 2019, Pidie mendapatkan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Penugasan Penurunan stunting sebesar Rp 1,1 miliar.

“Yang kita dapat untuk penurunan stunting pada 2019, Rp 750 juta. Mungkin sisanya dibagi pada dinas lain atau di desa. Nah, Rp 750 juta itu untuk tingkat kabupaten, karena untuk penurunan angka stunting ini ada lintas program dan lintas sektor. Penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD), monev, dan lain-lain,” kata dia. “Indikator gizi 1000 utama masa kehidupan sejak kehamilan. Jadi intervensi kita dari remaja putri, diperiksa dan diberikan tablet tambah darah untuk mereka yang anemia. Calon pengantin juga diperiksa dulu. Untuk calon pengantin yang harus menjalani pemeriksaan merujuk pada Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 54 Tahun 2018 tentang Pemeriksaan Kesehatan Calon Pengantin.” []

Reporter: Candra Saymima dan Firdaus

Komentar

Loading...