Melirik Salah Satu Kebun Kakao Rakyat di Padang Tiji

·
Melirik Salah Satu Kebun Kakao Rakyat di Padang Tiji
Yamaldi ben M Isa. (sinarpidie.co/Dicky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Yamaldi ben M Isa, 31 tahun,  warga Gampong Cot Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, sudah menjalani aktivitas berkebun selama 10 tahun lebih. Di dalam 2,5 hektare lahan yang digarapnya, terdapat tanaman kakao, pinang, rambutan, langsat dan kelapa. 

"Namun, sekarang, saya lebih fokus mengelola satu hektare lahan kakao. Ada 600 batang tanaman kakao yang produktif," kata ayah dua anak ini pada sinarpidie.co, Sabtu, 24 Maret 2018. 

Sulung dari tiga bersaudara itu menuturkan, kakao di kebunnya rata-rata berumur 10 tahun dan mampu menghasilkan sekitar satu ton hasil produksi per tahun.

"Karena umurnya sudah tua, produktivitas menurun," ujarnya. "Produktivitas kakao paling tinggi saat berumur 6-9 tahun, itu bisa mencapai sekitar 1,5 ton sampai 1,7 ton per tahun."

Dia menyiasati hal itu dengan melakukan peremajaan tanaman, yaitu dengan teknik sambung samping dan sambung pucuk.

Nantinya, kata dia lagi, "tanaman yang sudah tua itu ditebang, lalu hasil sambung pucuk dan sambung samping itulah yang akan menjadi tanaman baru".

"Sebagian tanaman yang sudah tua sudah dilakukan peremajaan," kata dia.

Awal mula Yamaldi menggeluti bidang ini berkat bantuan Pemerintah Kabupaten Pidie melalui Dinas Perkebunan pada 2007 silam dan juga dari NGO yang bergerak pada pemberdayaan kelompok tani. 

"Saat itu bibit kakao saya dapatkan 850 bibit per hektare. Kemudian bantuan NGO tahun 2009, 850 bibit per hektare," ujarnya.

Baru-baru ini, pada tahun 2017, ia memperoleh 850 bibit kakao untuk satu hektare lahan dari Pemkab Pidie melalui Dinas Pertanian dan Pangan Pidie.

"Dianjurkan menanam dengan jarak 4x4 meter," katanya. 

Untuk proses perawatan tanaman kakao, ia melakukan pemupukan NPK Phoska setahun dua kali. Namun, kata dia, hal itu tidak rutin ia lakukan.

"Paling hanya pembersihan gulma saja yang sering saya lakukan," ungkapnya. "Kemudian ada juga pupuk formula khusus kakao, bantuan Dinas Pertanian Pidie per batang sebanyak tiga ons yang dianjurkan penggunaannya. Itu pada tahun 2016."

Jangan anggap membudidayakan tanaman kakao tak memiliki tantangan dan hambatan. Tak jarang, hama menyerang tanaman kakao.

"Biasanya penyakit mulai menyerang pada musim hujan, karena kelembaban tinggi," tutur Yamaldi, menjelaskan.

Kemudian, ada juga hama yang dikenal dengan sebutan penggerek buah kakao (PBK), yang biasanya menyerang plasenta isi buah kakao, sehingga menyebabkan buah busuk di dalamnya.

"Dulu ada juga penyuluhan dari dinas pertanian. Sekolah lapang pengendalian hama dan penyakit (SLPH) tahun 2016," tuturnya.

Menjadi pekebun hari ini, berarti menjalani profesi yang membutuhkan keahlian dan kecakapan dalam menguasai jenis tanaman, tata kelola lahan, teknik budidaya, hingga menguasai teknik pemasaran. 

Sadar akan hal tersebut, Yamaldi juga ikut mengambil tiap kesempatan yang berkenaan dengan peningkatan kapasitasnya.

"Tahun 2017 kemarin, juga ada pelatihan kakao di Sulawesi Selatan, di Desa Terengge kalau tidak salah. Saya merupakan salah satu yang dibawa oleh Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, dari 13 petani yang ikut. Pelatihan itu selama 15 hari," kata dia. 

Muliadi, 40 tahun, penampung kakao di kedai Harkat tani, yang beralamat di Meunasah Trieng, Kecamatan Padang Tiji, punya cerita yang lain.

Pada sinarpidie.co, ia mengatakan, dalam sehari dirinya menampung kakao dari warga Padang Tiji, sekitar 300 sampai dengan 500 kg biji kakao.

"Saat ini lagi kurang kakaonya, jadi hasil yang kami tampung sekarang juga menurun," kata dia. "Dipasarkan ke Beuruenun, nanti setelah digabung dengan hasil dari kecamatan lain, baru dikirim ke Medan melalui toke di Beuruenuen."

Dalam beberapa hari belakangan, ia membeli kakao kering 9% kadar air atau empat hari jemur seharga Rp 31 ribu- 32 ribu per kg. Sedangkan kakao kering kadar air 15% atau dua hari jemur seharga 26 ribu per kg.

Reporter: Dicky Zulkarnen

Komentar

Loading...