13 tahun Tsunami Aceh

Melihat Rumoh Aceh, Menggali Nilai Mitigasi Bencana

·
Melihat Rumoh Aceh, Menggali Nilai Mitigasi Bencana
Neurok dan bajoe pada rumoh Aceh. (sinarpidie.co/Ayu Muliana).

sinarpidie.co—Konstruksi Rumoh Aceh adalah satu cara komunitas masyarakat, pada satu ruang dan waktu,  menyesuaikan diri dengan gempa bumi yang acapkali mengguncang Aceh.

Fatimah Latif, 82 tahun, warga Gampong Lameu Meunasah Lueng, Kecamatan Sakti pada sinarpidie.co, Senin 25 Desember 2017 menuturkan, walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku,  rumoh Aceh bisa bertahan hingga ratusan tahun.

"Kayu-kayu itu dilubangi, dipahat, dan diberi neurok,” Kata Fatimah Latif.

Neurok adalah pengait yang menghubungkan tiang dan penyangga rumoh Aceh.

"Neurok tersebut tidak akan lepas  karena menggunakan  bajoe  pada  tiangnya,"  kata dia menjelaskan.

Bajoe  sendiri merupakan palang pengunci pada tiang dan penyangga bangunan Rumoh aceh.

Rumoh Aceh terdiri dari 16 tiang penyangga dan tiga ruangan: seuramoe keueu (serambi depan), seuramoe teungoh (serambi tengah) dan seuramoe likot (serambi belakang).

Fatimah berkisah, menurut sebuah legenda rakyat, gempa bumi pernah mengguncang Aceh selama tujuh hari tujuh malam. Namun, rumoh Aceh tidah roboh sama sekali.

"Belum ada sejarahnya gempa besar yang merobohkan rumoh Aceh. Berkali-kali digoyang gempa, rumoh Aceh tetap tidak roboh,” ungkapnya.

Fatimah Latif juga menjelaskan fungsi-fungsi dari ruangan rumoh Aceh. Seuramoe keue (serambi depan), ruangan ini berfungsi sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota keluarga. Di samping itu, ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Seuramoe teungoh: ruangan inti dari sebuah rumah adat Aceh; (seuramoe inong) yang ditandai dengan lantai yang lebih tinggi dari serambi depan. Karena termasuk ruang utama, maka ruangan ini termasuk sangat pribadi. Para tamu yang datang tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya.  Dan terakhir, seuramoe likot, ruangan ini adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat bercengkrama bagi sesama anggota keluarga.

Snouck Hurgronje, antropolog Belanda pada masa pendudukan Belanda di Aceh, pernah menuliskan, seorang pencuri akan menggoyangkan bangunan untuk memastikan apakah penghuni rumah sudah tidur nyenyak atau belum. Artinya, pada masa itu, goncangan pada rumah adalah hal yang biasa terjadi. Dengan kata lain, penghuni pun tidak cepat panik dengan goncangan.

Tameh (tiang) adalah inti mitigasi bencana (banjir dan gempa bumi). Hal ini dikarenakan pusat kekokohan bangunan terletak padanya. Material untuk tiang adalah jenis material pohon dengan kelas kuat dan kelas awet terbaik.

Hairummini dkk dalam sebuah jurnal ilmu sosial—Kearifan Lokal Rumah Tradisional Aceh sebagai Warisan Budaya untuk Mitigasi Gempa dan Tsunami (2017)—menguraikan beberapa alasan mengapa masyarakat mulai meninggalkan rumoh Aceh sebagai tempat hunian.

“Hal ini dipengaruhi oleh keberadaan tukang (ahli), ekonomi dan gaya hidup. Kurangnya minat generasi muda menekuni profesi tukang rumah tradisional memberikan dampak kepada semakin langkanya tukang (ahli). Kelangkaan bahan dan mahalnya material bangunan rumah tradisional mempengaruhi minat masyarakat untuk membangun rumah tradisional. Konsep hunian yang berkembang di masyarakat dahulu tentu berbeda dengan konsep hunian masyarakat Aceh sekarang. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang cenderung memilih sesuatu yang lebih praktis,” demikian Hairummini dkk. []

Komentar

Loading...