Perjalanan

Melihat Penggilingan Tebu Menggunakan Tenaga Kerbau

·
Melihat Penggilingan Tebu Menggunakan Tenaga Kerbau
Penggilingan tebu menjadi manisan secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerbau dilakoni Abubakar, 78 tahun, bersama istrinya Khatijah, 75 tahun, warga Gampong Meunasah Kuthang, Kemukiman Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Proses penggilingan tebu menjadi manisan secara tradisional dengan menggunakan tenaga kerbau pada zaman sekarang sudah sulit ditemui. Namun, di tengah-tengah perkembangan zaman yang melaju deras dan saat tenaga manusia sudah berganti dengan tenaga mesin, penggilingan secara tradisional di Gampong Meunasah Kuthang, Kemukiman Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie masih bisa ditemukan.

Abubakar, 78 tahun, bersama istrinya Khatijah, 75 tahun, saban hari bekerja mengolah manisan dari air tebu secara tradisional.

Tempat pengolahan manisan itu terletak di sebuah kebun tebu dengan luas lebih kurang satu hektare, yang juga berdekatan dengan sungai: gubuk yang beratapkan daun nipah seluas sekitar 5 x 7 meter.

"Tebu yang diambil dari kebun, ada dua jenis: trieng dan madu. Dalam sehari mencapai sekitar 200 batang lebih tebu diolah menjadi manisan," kata Abubakar pada sinarpidie.co, Minggu, 8 September 2019.

Proses penggilingan tebu dilakukan pasangan tersebut sejak pukul 08.00 WIB dengan bantuan tenaga seekor kerbau jantan yang  juga sudah melakoni aktivitas tersebut selama lima tahun.

Mata kerbau ditutup agar ia bisa berjalan lebih cepat. Pada leher kerbau diikatkan tali yang sudah terhubung dengan dua batang kayu bulat yang dibuat sedemikian rupa menjadi alat penggiling. Saat kerbau berjalan secara melingkar, Abubakar memasukkan batang tebu ke dalam alat penggiling tebu tersebut, sementara istrinya duduk di sebelah Abubakar mengambil ampas yang masih bisa diperas lalu dimasukkan kembali ke dalam alat penggiling tersebut.

Sesekali, saat kerbau berhenti berjalan, Abubakar berseru, “Jak laju hay, mangat bagah lhueh (Jalan terus, biar cepat selesai).” 

Air tebu yang dihasilkan tersebut semula ditampung dalam sebuah ember lalu dimasukkan dalam belanga besar yang kemudian dimasak hingga sore. Selama proses memasak dilakukan, ampas tebu hasil perasan yang sudah dijemur dimanfaatkan menjadi kayu bakar.

Proses memasak air tebu. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Kita harus selalu duduk di dapur sambil memasukkan kayu dan ampas tebu agar apinya selalu menyala,” kata Khatijah.

Setelah proses memasak selesai, air tebu tersebut dituangkan ke dalam wadah khusus. Butuh waktu selama satu hari agar air tebu tersebut menjadi manisan.

“Kenapa saya tidak pakai mesin, karena kalau pakai mesin saat rusak bertambah sibuk harus membawa mesin ke bengkel, kalau begini jarang rusak,” kata Abubakar

Kebun tebu yang sekarang dikelola Abubakar dan istri merupakan milik orang lain yang statusnya sewa per tahun. Kemudian, kerbau yang saban hari membantu mereka bekerja juga milik orang lain.

“Kerbau sistem mawah. Kalau tidak kerja begini sehari saya merasa tidak enak badan. Kalau rezeki dari hasil pengolahan tebu menjadi manisan itu hasilnya dalam sehari sekitar Rp 150 ribu,” sebutnya. “Harga jual manisan dalam satu wadah 30 kg Rp 350 ribu, biasanya pengepul datang ke rumah mengambil manisan.” []

 

Komentar

Loading...