Iklan Pemkab Pidie

Masjid At-Taqarrub dari Masa ke Masa

·
Masjid At-Taqarrub dari Masa ke Masa
Masjid At Taqarrub Trienggadeng. Foto Istimewa.

sinarpidie.co— Pada tahun 1982, mantan Camat Trienggadeng, Sulaiman Abdullah, bersama sejumlah tokoh masyarakat Trienggadeng, memprakarsai pembangunan Masjid Taqarrub atau popular dikenal dengan sebutan Masjid Pheb di Gampong Keude, Kecamatan Trienggadeng. Kelak, masjid ini berubah namanya menjadi Masjid At- Taqarrub pada tahun 1997. Dulu, masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Phep lantaran atap dan kubah masjid yang rendah.

Sebelum dibangun, penentu arah kiblat mesjid tersebut ialah sosok Ulama kharismatik Aceh, Tgk H Muhammad Ali Irsyad (Abu Teupin Raya). 

Pada awal pembunganannya, masyarakat Trienggadeng secara swadaya mengumpulkan bermacam sumbangan, baik dalam bentuk uang maupun material, untuk membangun sebuah masjid tersebut.

"Masjid At Taqarrub mampu didirikan atas keikhlasan dan kerelaan masyarakat Trienggadeng serta masyarakat kecamatan lain, bahkan masyarakat Aceh di perantauan, dalam menghibahkan harta atau sumbangan, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk benda, yaitu beras, padi, dan bermacam lainnya," kata Fadhillah SHI, kepada sinarpidie.co, Minggu 18 Mei 2019. Fadhillah SHI merupakan putra khatib pertama Masjid At Taqarrub, Tgk H Ismail Arsyad—kini almarhum.

Empat tahun berselang, pada tahun 1986, masjid tersebut selesai dibangun dan diresmikan pada tahun itu juga. Peresmiannya ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat pertama. Yang bertindak sebagai imam dan khatib: Tgk H Ismail Arsyad.

Tgk H Ismail Arsyad merupakan khatib masjid, yang juga merangkap Ketua Badan Kemakmuran Mesjid (BKM) selama 18 tahun.

"Pada tahun 1997 nama Masjid Taqarrub diubah menjadi Masjid Besar At-Taqarrub," kata Fadhillah.

Gempa Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 dengan skala 6,5 skala richter menyebabkan banyak gedung dan masjid runtuh serta menelan korban jiwa sebanyak 104 orang meninggal dunia dan 857 orang mengalami luka-luka.  Masjid At Taqarrub juga ikut runtuh saat itu.

Pasca-gempa, setelah dibangun kembali dengan dana Rp 30,93 miliar, bentuk Masjid At Taqarrub berubah total dari bentuk dasarnya.

Dulu, masjid ini hanya memiliki satu lantai tanpa jendela kaca dan beratap rendah. Namun kini, masjid ini memiliki dua lantai. Lantainya berbahan granit dan berjendela kaca. Setiap jendela di lantai dua mesjid dipasangi lampu LED. Kubahnya pun berukuran besar dan berwarna biru cerah.

Masjid At Taqarrub dari depan. (sinarpidie.co/Bob).

Mesjid At Taqarrub berdiri di atas tanah seluas 5.796 m2 dengan luas bangunan 4.730 m2. Fasilitas ruang wudhu pria dan wanita, perpustakaan, kantor sekretariat, ruang imam, ruang bilal, dan ruang rapat, bersih dan membuat betah para jamaah dan pengunjung. Di samping itu, di masjid ini juga terdapat bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) At Taqarrub.

"Selain strategis karena letaknya di pinggir jalan, kami salat di sini karena masjid ini merupakan masjid yang megah dan besar, juga nyaman sekali. Nyesal aja saat waktu salat tiba kebetulan lewat Pijay tapi tidak salat di sini," kata Safrizal, warga Bireun, usai menunaikan salat Ashar di masjid tersebut, Minggu 18 Mei 2019.

Sebelumnya, masjid ini hanya dapat menampung sebanyak sekitar 600 jamaah, tapi kini ia mampu menampung 1.600 jamaah. []

Komentar

Loading...