Perjalanan

Mantak Tari pada Suatu Sore

·
Mantak Tari pada Suatu Sore
Bekas pos penjagaan di Mantak Tari. Foto direkam pada Minggu 3 September 2017.(sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).

sinarpidie.co-- GAMPONG MANTAK RAYA, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Di sepanjang jalan menuju Pantai Mantak Tari, tsunami masih menyisakan beberapa bekasnya. Di sisi kiri-kanan jalan, ada beberapa sisa reruntuhan bangunan yang menganga.

Agak jauh ke depan, ada rumah-rumah panggung—rumah bantuan pasca-tsunami—yang tampak sibuk sore itu: beberapa nelayan tengah membenarkan jala di teras rumah. Begitu sampai di depan muka Mantak Tari, kita disambut sebuah bungker peninggalan Jepang dan bekas bangunan pos penjagaan yang terbengkalai. Di depan, ada deretan kedai yang beratapkan daun nipah dan berdindingkan potongan-potongan bambu.

Bungker Jepang. Foto direkam pada Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).
Bungker Jepang. Foto direkam pada Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Di kedai minum milik Addan Abbas, warga Gampong Kupula, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, sinarpidie.co bertemu dengan Sudirman, 58 tahun, pada Minggu 3 September 2017.

Ia, yang sore itu mengenakan kaus berkerah dan kain sarung, menuturkan, wisata Pantai Mantak Tari, mula-mula, dibuka dan dikembangkan semasa Prof Dr Ibrahim Hasan MBA menjabat sebagai Gubernur Aceh. Prof Dr Ibrahim Hasan, yang lahir di Gampong Cot Weng, Kecamatan Simpang Tiga, itu, merupakan Gubernur Aceh yang kedua belas. Nama Mantak Tari sendiri, kata Sudirman, berasal dari nama Gampong Mantak Raya, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

“Diubah sedikit oleh Pak Ibrahim Hasan menjadi Wisata Mantak Tari,” kata Sudirman.

Tari sendiri berasal dari bahasa Aceh, yang berarti cantik atau elok.

Sudirman, yang menjabat sebagai Keuchik Gampong Kupula, Kecamatan Simpang Tiga, sejak 1992 hingga 2001, menunjuk ke arah bangunan yang terkena tsunami pada 2004 silam. “Itu pos penjagaan,” kata dia. Lalu, ia mengarahkan jari telunjuknya ke barat seraya berkata, “Sekitar dua ratus meter dari sini, dulunya, ada tempat orang berobat sakit lumpuh. Milik Almarhum Teungku Ali Ahmad.”

CARA TEUNGKU ALI AHMAD mengobati penderita lumpuh terbilang unik. Mula-mula, penderita lumpuh akan mandi laut. Lalu, Teungku Ali Ahmad akan menggali lubang, di tempat pasir hitam, di pinggir pantai tersebut. Ukurannya selebar tubuh penderita lumpuh yang tengah berobat padanya.

Tubuh penderita lumpuh akan dibenamkan ke dalam lubang yang telah digali, kemudian ditutupi pasir hitam hingga ke leher.

“Teungku Ali kemudian akan membaca Al-Fatihah,” kata Sudirman, mengenang kembali cara Teungku Ali mengobati para penderita lumpuh. “Umumnya orang-orang yang datang ke tempatnya berasal dari luar Pidie. Dan biasanya proses berobat pun memakan waktu berminggu-minggu. Makanya, ada gubuk-gubuk tempat menginap di sana.”

Teungku Ali Ahmad, yang pada pagi 26 Desember 2004, sedang mengobati penderita lumpuh, ikut terkena sapuan gelombang tsunami. Ia dan istrinya meninggal dunia ketika itu.

Sudirman melanjutkan, sebelum tsunami, ada beberapa bangunan-bangunan di Mantak Tari, seperti pos penjagaan, balai musyawarah, dan mushala.

Kala itu, Mantak Tari menjadi nadir bagi beberapa Gampong di Kecamatan Simpang Tiga. Tempat wisata itu dikelola oleh kelompok masyarakat yang berasal dari Gampong Pulo Gajah Mate, Gampong Mantak Raya, Gampong Dayah Lampoh Awee, Gampong Kupula, dan Gampong Meunasah Mee.

SUDIRMAN memandang jauh ke depan di antara orang-orang yang lalu-lalang, yang memesan minuman dan makanan di kedai Addan Abbas. Ia lalu menunjuk jauh ke depan dan berkata, “Itu raket tempat memancing. Sekarang sudah ada dua di sini.”

Seorang pengunjung pantai Mantak Tari sedang mengganti pakaian anaknya, Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).
Seorang pengunjung pantai Mantak Tari sedang mengganti pakaian anaknya, Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).

Orang-orang menyebut tempat memancing yang terbuat dari bambu itu dengan sebutan raket. Letaknya, sekilas pintas, seakan-akan berada di tengah laut. Awan biru menggelayut di atasnya.

“Kalau mau memancing, bayar sewa naik boat mesin. Per orang Rp 30 ribu. Rp 30 ribu untuk sewa tempat dan antar jemput dengan boat mesin,” kata dia lagi.

Kini, Mantak Tari mencoba menapaki kembali kehidupannya. Kedai-kedai minum berjajar di di belakang deretan bebatuan pemecah ombak. Pohon-pohon cemara, yang baru ditanam pasca-tsunami, kini sudah membesar.

Seorang bocah tengah bermaian pasir di Pantai Mantak Tari, Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).
Seorang bocah tengah bermaian pasir di Pantai Mantak Tari, Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).

“Yang aktif cuma dua kedai. Yang lain, hari-hari libur saja mereka berjualan. Kalau hari biasa, hanya muge-muge (pengepul-red) beli ikan ke sini. Mereka istirahat sambil menunggu kapal merapat membawa ikan,” ujar Sudirman, yang pernah menjabat sebagai Panglima Laot Kecamatan Simpang Tiga sejak 2002 hingga 2015.

Ban yang digunakan sebagai pelampung, juga disewakan di Pantai Mantak Tari. Foto direkam Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).
Ban yang digunakan sebagai pelampung, juga disewakan di Pantai Mantak Tari. Foto direkam Minggu 3 September 2017. (sinarpidie.co/ Mutamimul Ula).

PULUHAN tahun silam, Sang Wali, Teungku Hasan Tiro, melewati pantai ini saat ia pulang ke Aceh untuk mendeklarasikan Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) atau yang belakangan dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Sang Wali dijemput oleh utusan Muhammad Daud Husin atau yang akrab dikenal sebagai Daud Paneuk di Kota Sigli. Selanjutnya, Sang Wali melanjutkan perjalanan ke Pasi Lhok lalu menuju ke puncak Gunong Halimon.

“Ada puluhan orang yang dikomandoi M. Daud Husin, yang menunggu dan akan menghantarkan saya ke daerah pegunungan. Malam telah larut—malam pertama saya di tanah kelahiran, setelah sebelumnya menjadi eksil selama 25 tahun di Amerika Serikat,” tulis Sang Wali dalam buku catatan hariannya The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro (1984). []

Komentar

Loading...