Sejarah

Makam Militer Belanda dan Riwayat Gampong Weue Tumpok Sigeutep

·
Makam Militer Belanda dan Riwayat Gampong Weue Tumpok Sigeutep
Kompleks makam tentara Belanda di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, yang kini dapat dikatakan telah patah-patah dan tak terurus. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co—Lahan bersemak di tempat tersebut menutupi beberapa kuburan yang tak lagi utuh. Sisi-sisi kuburan yang terbuat dengan beton lengkap dengan pancang besi di dalamnya telah tergelupas. Sebagian besar lokasi-lokasi kuburan tersebut kini telah masuk ke dalam kebun-kebun milik warga.

Tempat itu adalah kompleks makam tentara Belanda. Letaknya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie: menjorok ke laut dan berada di belakang hamparan tambak ikan.

Diperkirakan, terdapat ratusan kuburan tentara Belanda di sana, yang terdiri dari  kuburan peranakan (Indo Belanda), Ambon (Marsose), dan Belanda sendiri.

“Kuburan itu sudah ratusan tahun lamanya. Serdadu Marsose paling banyak dikuburkan di situ,”  kata Usman Ben, 92 tahun, Sabtu, 6 Juli 2019. “Dulu, saya pulang-pergi sekolah rakyat (SR) di Sigli melewati Gampong Benteng.”

Usman Ben, pria kelahiran 1 Januari 1928, kini merupakan salah seorang yang terdaftar sebagai pejuang veteran. Ia pernah berdinas sebagai tentara ketika Indonesia telah merdeka, tapi kemudian ia memilih untuk bekerja sebagai staf sipil militer sampai ia pensiun.

Asrama Militer Belanda di Pidie, seingat Usman Ben, berada di Gampong Benteng (Kota Sigli), Lameulo (Kota Bakti), dan Tangse.

Di Asrama Militer di Benteng, Belanda membangun penjara (kini digunakan Rutan Kelas II B Sigli), rumah sakit, pelabuhan dan barak militer.

Terpatri pada salah satu makam di Kompleks Makam Militer Belanda di Gampong Blang Paseh, Hier Rust. (sinarpidie.co/Firdaus).

Usman mengenang salah seorang Belanda yang saat-saat masa pendudukan Belanda sering menziarahi kompleks kuburan tersebut: Kepala Doune (bea dan cukai) di Pelabuhan Kota Sigli (Gampong Benteng).

“Orang-orang memanggilnya Om Heir. Istrinya dikuburkan di tempat tersebut,” kata Usman.

Si Bambu Gila

Di antara ratusan kuburan tentara Belanda yang tertutupi semak-semak di sana, ada satu kuburan yang paling sohor: Kuburan Si Bambu Gila. Tak ada seorangpun yang kini mampu mengingat dengan pasti siapa nama si Bambu Gila yang sebenarnya. Ia adalah seorang Ambon. Mersose. Punya ilmu kebal.

Suatu hari di tahun 1941, Bambu Gila menyambangi rumah salah seorang penduduk di Gampong Weue Tumpok Sigeutep (Kini Gampong Blang Paseh dan Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli). Ia mengganggu, atau lebih tepatnya melecehkan seorang gadis yang tinggal di rumah itu.

Semasa pendudukan Belanda, selain sebagian gampong tersebut digunakan sebagai barak, pelabuhan, penjara, dan rumah sakit,  juga digunakan oleh Uleebalang Bentara Pineung sebagai kebun kopra yang ia kelola. Pada satu sudut gampong tersebut juga dihuni oleh orang-orang Tionghoa yang belakangan pada saat kisruh 1965 meletus terpaksa harus meninggalkan gampong tersebut.

Usman Ben. (sinarpidie.co/Firdaus).

Johan Mahmud, seorang pemuda yang saat itu dikenal sebagai jagoan di Gampong Weue Tumpok Sigeutep dan sekitarnya, adalah saudara kandung perempuan yang diganggu si Bambu Gila. Tak terima saudara perempuannya dilecehkan, Johan, bersama 3 saudara kandung laki-lakinya, menghajar Bambu Gila yang juga datang bergerombol bersama pasukan Mersose lainnya.  Ditebas dengan parang, Si Bambu Gila tidak mempan, sementara Marsose-Marsose lainnya jatuh ke tanah. Si Bambu Gila baru tamat setelah dihajar dengan rotan dan ditikam dengan bambu.

Salah seorang saudara Johan Mahmud, Hasan Mahmud, dihukum dan dipenjara di Batavia (Jakarta). Saat Belanda hengkang, ia dibebaskan dan kembali ke kampung halaman.

Lokasi kuburan tersebut, saat masih diduduki Belanda, juga digunakan sebagai tempat latihan menembak setiap hari Jumat dari pagi hingga pukul 11.30 WIB.

“Ada rel untuk mengegerakkan sasaran tembak yang mengarah ke laut. Kalau sudah dipasang bendera merah berarti latihan menembak mereka telah selesai. Bendera putih menandakan mereka sedang latihan menembak,” kenang Usman. “Usai latihan mereka, kami mengutip selongsong peluru. Untuk dijadikan mainan.”

Tiap pukul 06.30 WIB, serdadu Mersose tersebut keluar dari barak mereka untuk latihan berbaris. Rutenya dari Gampong Benteng hingga ke Jembatan Kuta Breuh (Kini Gampong Ceubrek, Kecamatan Simpang Tiga).

Marsose

Marsose dibentuk oleh Belanda saat mereka frustasi dengan taktik perang gerilya pejuang Aceh dan mengalami kerugian yang besar dalam Perang Aceh.

“Pada tahun 1889 dibentuk dua detasemen pengawalan mobil yang dapat dianggap sebagai pelopor korps yang sesudah dua puluh tahun akhirnya merupakan jawaban terhadap masalah-masalah militer yang dikemukakan oleh Perang Aceh. Korps ini adalah Korps Marsose Jalan Kaki,” tulis Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje “… Persenjataannya sebaik-baik persenjataan pada masa itulah: karaben pendek, bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong, sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan segera juga topi anyaman pengganti helm yang tidak praktis.”

Dalam kops ini, serdadu paling dominan adalah mereka yang berasal dari Ambon dan Manado.

Baca juga:

Ketika Jepang masuk ke Aceh pada 13 Maret 1942, Belanda hengkang dari Gampong Weue Tumpok Sigeutep.

“Saat Belanda melarikan diri, jumlah armada Jepang yang mendarat belum banyak,” kata Usman.

Pembantaian terhadap sisa orang Belanda yang tidak meninggalkan Kota Sigli terjadi saat Jepang memobilisasi penduduk untuk melakukan gotong-royong. []

Komentar

Loading...