Sejarah

Kuala Gigieng pada Suatu Senja  

·
Kuala Gigieng pada Suatu Senja  
Gampong Kuala Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--SENJA BARU SAJA turun di Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Minggu, 28 Juli 2019. Pohon-pohon bakau berdiri tegak dalam siluet. Langit menjadi kemerahan.  Kedai-kedai, yang beberapa waktu tadi, penuh dengan ingar-bingar, telah sepi. Azan berkumandang, terdengar sayup-sayup hingga ke mulut kuala.

Di Kuala Gigieng, konon, pernah berdiri benteng Portugis. Namun kini, tak tanda-tanda atau artefak yang tersisa, yang bisa dijadikan petunjuk keberadaan benteng tersebut.

“Tidak ada benteng Portugis. Mungkin sudah lama sekali ya. Yang ada hanya bunker Jepang,” kata Keuchik Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Baihaqi. “Yang ada Makam Tgk. Chik Burhanuddin, ayah Teungku Chik di Pasi.”

Teungku Chik di Pasi bernama lengkap Teungku Haji Abdussamad. Ia hidup di masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Sri Ratu Safiatuddin. Periode Iskandar Tsani adalah periode menggantikan Sultan Iskandar Muda.

Kuburan kuno di Kompleks Meunasah di Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga. (sinarpidie.co/Firdaus).

Qismullah Yusuf dalam makalahnya Etno Scientist and Technologists Melayu Aceh menuliskan, Teungku Chik di Pasi menamatkan pendidikan dasar agamanya di Teureubue. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah dan jenjang Ma’had Ali di Tiro sebelum dikirimkan ke Jami’ah Baiturrahman Banda Aceh dan lulus dengan kepujian sangat tinggi.

“Ia kemudian dikirimkan ke Timur Tengah untuk melanjutkan sekolah. Teungku Chik di Pasi bertanya-tanya pada dirinya sendiri kala itu, mengapa Aceh masih mengantungkan hasil produksi pertanian dari luar padahal Aceh memiliki sumber daya alam yang begitu kaya,” tulis Qismullah Yusuf.

Sesampainya ia di Mekkah, alih-alih menuntut ilmu sesuai dengan beasiswa yang diberikan Kerajaan Aceh di bidang agama, Teungku Chik di Pasi justru pergi ke Baghdad selama 7 tahun, Damaskus 2 tahun, dan Mesir 2 tahun, untuk mempelajari apa yang dituliskan oleh Qismullah Yusuf, “ilmu pertanian, hydro engineering, dan holtikultura”.

Singkatnya, Teungku Chik di Pasi adalah ahli pertanian (dalam konteks science bukan tahyul) pada zamannya.

Iskandar Tsani sebenarnya merupakan tawanan perang Kerajaan Aceh tatkala Iskandar Muda menaklukkan Kerajaan Pahang.

“Dibawanya ke Aceh anak Ahmed Syah, Raja Suling yang masih muda, baru 7 tahun umurnya. Anak yang masih muda benar itu disayanginya dan besar di istananya, menikah dengan anaknya sendiri, Puteri Sri Alam Permaisuri, dan akhirnya menggantikannya pada tahun 1636 dengan nama Iskandar Tani,”  tulis Denys Lombard, dalam buku Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda.

Selepas Iskandar Tsani meninggal dunia, sang istri, Ratu Safiatuddin, naik tahta menjadi Sultanah Kerajaan Aceh.

Dituliskan Denys Lombard, yang mengutip Beaulieu, pada zaman Iskandar Muda, “Sultan Aceh adalah raja pulau Sumatra yang tak ada tandingnya; tak hanya pantai-pantai yang dikuasainya, tetapi yang dikendalikannya hampir seluruh perniagaan kekuasaannya ialah bagian yang paling menguntungkan. Di sebelah timur ia memerintahi Pedir, Pacem sampai Deli dan Aru, di sebelah barat Daya, Labo, Cinquel, Barros, Bataham, Passaman, Ticou, Priaman dan Padan. Perlu ditambahkan pula negara-negara vasal di semenanjung Melayu: Johor, Kedah, Pahang, Perak.”

Kerajaan Pedir berakhir sekitar tahun 1524 M atau pada abad ke-15 ketika Sultan Ali Mughayat Syah, kakek Sultan Iskandar Muda, menaklukkan kerajaan ini dan menjadikannya sebagai bagian dari Kerajaan Aceh. Alasannya, Kerajaan Pedir yang pro-Portugis juga merupakan ancaman yang nyata bagi Kerajaan Aceh.

Kapal-kapal nelayan di Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

LANGIT TELAH gelap di Gampong Gigieng. Benteng Portugis di sana tampaknya telah terkubur sejarah atau memang tak lagi memiliki makna apapun, sebagaimana bunker-bunker Jepang yang juga kehilangan makna: di laut dan kuala, agama datang dan rempah-rempah keluar.

Kejayaan datang dengan kapal-kapal dan meriam yang canggih, yang mengamankan kepentingan rempah-rempah di selat. Hingga suatu saat revolusi industri pada abad 18 terjadi setelah Renaisans di Eropa, mesin melipatgandakan segala hal, termasuk meningkatkan kemampuan senjata dalam membunuh.

Dari bunker Jepang di Gampong Gigieng, labirin sejarah dapat mempertautkan fragmen-fragmen tragedi yang terjadi di Jepang dan di Aceh.

Oda Nobunaga, seorang Daimyo, yang hidup pada abad 15, menyatukan Jepang lewat perang yang berdarah-darah. Kala itu, ia memanfaatkan sesuatu hal yang baru pada zamannya, senjata api dan meriam. Setelah ia meninggal dengan cara yang tragis, cita-citanya menyatukan Jepang dilanjutkan Toyotomi Hideyoshi (1536-1598) dan Ieyasu Tokugawa (1543-1616).

Pada tahun-tahun berikutnya, Kaisar Jepang Muthusito ingin mengakhiri kekuasaan Keshogunan (pemerintahan militer) Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan negara kepada pemerintahan kekaisaran. Revolusi, tentu saja, memakan korban. Jepang mengambil apa yang dibawa oleh revolusi industri di Barat.

Restorasi Meiji pada tahun 1868 adalah titik modernisasi dan westernisasi di Jepang, apa yang tidak terjadi pada Kerajaan Aceh yang kala itu nampaknya masih berkutat pada meriam standar Turki yang sudah ketinggalan zaman.

Jepang, sebagaimana kita ketahui, puluhan tahun setelah Restorasi Meiji, juga menginjakkan kaki mereka di Kuala Gigieng. Dan kini, kuala kita di mana-mana semakin dangkal. []

Komentar

Loading...