Kolang Kaling di Gampong Gintong  

Kolang Kaling di Gampong Gintong  
Pengolahan kolang kaling secara tradisional di Gampong Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Di Gampong Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Pidie, pengolahan kolang kaling secara tradisional masih ditemukan hingga kini. Saat sinarpidie.co menyambangi tempat tersebut, Kamis, 16 Mei 2019, lima pekerja, yang terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan sedang mengolah buah aren menjadi kolang kaling. Ada banyak tumpukan buah aren yang sudah direbus di tempat tersebut.

Pekerja di sana, ada yang sedang memotong pangkal buah aren dan ada juga bagian yang mencongkel isi buah.

Harianti, 67 tahun, mengatakan, proses pengolahan buah aren menjadi kolang kaling tidak semudah yang dibayangkan.

“Dimulai dari melakukan pencarian buah aren ke gunung yang jauh dari tempat tinggal,” kata dia.

Biasanya, saat mencari buah aren, ia pergi bersama beberapa sejawatnya ke Pegunungan Blang Putek, Kecamatan Padang Tiji, Pidie.

“Untuk masuk ke dalam hutan menempuh jarak sekitar 10 sampai 20 kilometer atau satu jam jalan kaki,” katanya. “Kalau sudah dapat lokasi buah arennya, kami lalu turun lagi ke kempung untuk mencari tahu siapa pemilik kebun yang ada buah arennya itu. Setelah meminta izin untuk diambil buahnya, kami naik lagi ke lokasi tersebut dan memanjatnya. Ongkos panjat pohon aren mencapai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per satu pohon, tergantung tinggi pohon.”

Katanya lagi, hasil yang diperoleh dalam sekali mencari buah aren sekitar 12 buah tandan.

“Biaya transportasi membawa pulang ke Gintong mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu dalam satu kali perjalanan,” ujarnya.

Buah aren tersebut kemudian direbus terlebih dahulu selama 30 sampai 50 menit. Baru kemudian pangkal buah aren dipotong agar mudah mengupas isinya. Setelah menjadi kolang kaling, mereka direndam dengan air bersih selama satu malam. Kemudian baru dipasarkan.

“Kami jual sendiri ke Pasar Pante Teungoh dan Grong grong. Kalau di Pasar Pante Teungoh laku banyak, mencapai 100 kg dalam sehari, sedangkan di Pasar Grong-grong sekitar 50 kg per hari lakunya,” kata Rubiah, salah seorang pekerja yang ditemui di lokasi tersebut. []

Komentar

Loading...