Ketua Divisi Teknis KIP Pidie: Terkait Banyaknya Surat Suara Rusak, saat Kami Terima Memang dalam Kondisi Rusak

·
Ketua Divisi Teknis KIP Pidie: Terkait Banyaknya Surat Suara Rusak, saat Kami Terima Memang dalam Kondisi Rusak
Penyortiran dan pelipatan surat suara Pemilu 2019 di Gedung Meusapat Urueng Pidie selama enam hari, sejak 11 Maret sampai 16 Maret 2019. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Komisioner KIP Pidie, yang juga Ketua Divisi Teknis, Fuadi Yusuf, keberatan dengan pemberitaan sinarpidie.co “Tingginya Angka Golput dan Surat Suara Rusak Pemilu di Pidie 78.383, LBH Banda Aceh: KIP Pidie harus Dievaluasi”.

Dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Selasa, 18 Juni 2019 malam, Fuadi menyebutkan, partisipasi masyarakat Pidie dalam Pemilu tahun 2019 sebanyak 87 persen, sedikit meningkat dari Pemilu tahun 2014, di mana partisipasi pemilihnya 81,8 persen.

“Terkait banyaknya surat suara yang rusak memang waktu kami terima dalam kondisi rusak (warna beda, agak pudar) dan ada yang terkena noda, dan juga terjadi di kabupaten lain, jadi bukan rusak karena petugas pelipatan. Datanya dari mana dan apa indikator yang digunakan dalam menilai kinerja KIP Pidie. Dan yang sangat penting adalah penyelenggara tidak punya hak memaksakan seseorang untuk menggunakan hak pilihnya,” sebut Fuadi.

Diberitakan sebelumnya, total pemilih yang tidak menggunakan hak pilih pada Pemilu 2019 di Pidie baik Pilpres, Pileg DPR RI, DPD, DPRA, maupun Pileg DPRK Pidie sebanyak 331.848 pemilih. Selain itu, total surat suara rusak Pilpres, Pileg DPR RI, DPD, DPRA, dan DPRK Pidie ialah 78.383 surat suara.

78.383 surat suara rusak tersebut bukanlah surat suara yang dikirimkan dalam kondisi rusak atau bukan surat suara dikembalikan oleh pemilih karena rusak/keliru coblos melainkan surat suara yang telah digunakan tapi tidak terhitung sebagai surat suara yang sah.

Sebelumnya, dalam penyortiran dan pelipatan surat suara Pemilu 2019 di Gedung Meusapat Urueng Pidie selama enam hari, sejak 11 Maret hingga 16 Maret 2019, KIP Pidie menemukan sebanyak 1.144 surat suara rusak. Surat suara yang rusak tersebut telah dilaporkan pada KPU melalui KIP Aceh dan KPU telah melakukan penggantian surat suara yang rusak untuk memenuhi kecukupan surat suara. 

Jumlah DPT di Pidie pada Pemilu 2014 ialah 290.637 pemilih, yang terdiri atas pemilih laki-laki 140.588 orang dan pemilih perempuan 150.047 orang. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan DPT Pidie dalam Pemilu 2019: 300.597 pemilih.

Di samping itu, masyarakat Pidie yang tidak menggunakan hak pilihnya atau Golput pada Pemilu 2014 berjumlah 52.870 orang atau 18,2 persen dari jumlah DPT.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Syahrul SH MH pada sinarpidie.co mengatakan, tingginya angka jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dan tingginya jumlah surat suara rusak di Pidie menjadi beban Negara di mana seharusnya akses seluruh warga Negara yang telah memiliki hak pilih sesuai amanah konstitusi bisa terpenuhi.

“Mengapa TPS, setelah reformasi 1998 dibuat di tingkat desa, itu memenuhi hak dasar tersebut. Sebagai pelayanan. Artinya kalau sebanyak itu angka surat suara yang rusak dan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih, berarti KIP Pidie diduga tidak bekerja,” katanya lagi.

Menurutnya, penyelenggara Pemilu di Pidie mesti dievaluasi. Katanya, peraturan teknis Pemilu juga mesti mengatur pengembalian uang Negara ke kas Negara ketika ada hak warga Negara yang tidak terpenuhi hak pilih mereka dalam kuota tertentu.

“Semisal karena penyelenggara tidak mengerjakan tugasnya. Dicantumkan dalam aturan pelaksana, seperti dalam PKPU dan Perbawaslu,” tutupnya. 

Sosialisasi KIP Pidie tak maksimal

Di lain pihak, Mukhtar Al-Falah SE, Komisioner Panwaslih Pidie, yang juga Kordiv Penindakan Pelanggaran, mengakui banyak pengguna hak pilih tidak memberikan hak pilihnya dengan alasan tidak berada di tempat pada hari H.

"Sosialisasi KIP Pidie kepada pengguna hak pilih, juga belum terakomodir ke semua kalangan, contohnya, kapada kaum lansia dan difebel. Orang-orang yang tidak terakomodir melalui sosialisasi inilah yang berpengaruh pada angka partisipasi pemilih,” kata Mukhtar Selasa, 18 Juni 2019. []

Komentar

Loading...