Iklan Pemkab Pidie

Dunia

Ketegangan Iran-AS Memuncak, Ini Penyebabnya

·
Ketegangan Iran-AS Memuncak, Ini Penyebabnya
Iran. © Foxbusiness.com via merdeka.com.

sinarpidie.co— Hubungan Iran-Amerika Serikat kembali memburuk setelah Presiden Amerika Donald Trump membatalkan secara sepihak kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani lima kekuatan dunia: AS, Inggris, Perancis, Rusia, China, dan Jerman.

Kesepakatan nuklir itu mengikat Iran untuk menghentikan pengembangan nuklir dan sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut, sehingga negara-negara itu bebas berinvestasi di Iran, khususnya di sektor minyak dan perbankan. 

Setelah menarik diri dari kesepakatan tersebut, AS kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Sanksi AS kali ini meluas: Negara mana pun yang bertransaksi dengan Iran akan berhadapan dengan sanksi AS. Akibatnya, sanksi AS terhadap Iran ikut merugikan Indonesia, sebab dikutip dari Media Indonesia, “Tahun lalu Indonesia mengimpor satu juta barel minyak dan 500 ribu metrik ton kondensat dari Iran”.

AS menerapkan sanksi tahap pertama: sektor otomotif, logam mulia, bahan makanan, dan perdagangan.

Sanksi tahap kedua dilakukan 5 November 2018, meliputi bank sentral, pengapalan, dan energi.

Sanksi tersebut membuat ekonomi Iran terpuruk karena nyaris 80 persen pendapatan luar negeri Iran berasal dari sektor migas.

Dikutip dari Kompas, edisi 10 Mei 2019, Amerika Serikat kemudian menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.

“Tindakan ini dibalas Iran dengan menetapkan seluruh pasukan militer AS yang berada di Timur Tengah sebagai teroris. Alhasil, AS kemudian mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan Teluk dengan alasan untuk melindungi tentara AS yang berada di Timteng sekaligus mengirim isyarat keras bagi Teheran,” demikian Kompas. “Iran kemudian merespons dengan memberikan ultimatum kepada lima negara di atas selama 60 hari. Jika mereka tak mampu melindungi Iran dari sanksi ekonomi AS, Iran akan mencabut sebagian komitmennya dalam kesepakatan nuklir. Iran, antara lain, akan memulai kembali pengayaan uranium yang bisa menjadi bahan bakar nuklir.”

Presiden Iran Hassan Rouhani memutar otak. Ia merombak kabinet dan mengubah kebijakan ekonomi dengan menawarkan insentif harga dan pajak kepada investor swasta untuk mengambil alih proyek-proyek pemerintah yang mangkrak dan membantu mendorong ekonomi.

“Iran juga berusaha melepaskan APBN dari ketergantungan pada migas yang menyumbang 65 persen devisa kepada negara. Pemerintah pun meningkatkan pendapatan dari pajak,” demikian dikutip dari Media Indonesia.

Iran, yang menjalankan politik luar negeri secara mandiri, mengganggu kebijakan luar negeri AS yang tidak memperbolehkan ada negara yang membangkang terhadap hegemoni Amerika Serikat.

“Doktrin inilah yang kemudian mendorong AS mengintervensi secara militer maupun politik urusan internal negara lain. Negara yang membangkang seperti Iran yang secara geopolitik dipersepsi mengancam kepentingan AS  harus dilenyapkan. Kalau tidak, negara lain akan ikut jejaknya. Ini akan mengganggu wibawa AS sebagai negara adidaya tunggal,” demikian Kompas. []

Komentar

Loading...