Sejarah

Kenduri dan Syair dalam Perang Aceh

Kenduri dan Syair dalam Perang Aceh
Sumber gambar: Buku Aceh Sepanjang Abad jilid II.

sinarpidie.co—Tuanku Muhammad Daud Syah masih berusia 7 tahun saat ia diangkat menjadi Sultan Aceh ke-35. Ia menggantikan Sultan Alaidin Mahmud Syah, yang mangkat karena penyakit kolera dalam masa-masa pelarian, menjelang didudukinya keraton oleh Belanda.

“… dia (Tuanku Muhammad Daud Syah-red) diserukan dan dipilih menjadi sultan dalam pangkuan Dewan Pemangku yang diketuai oleh Tuanku Hasyim... Tuanku M. Dawud Syah ditabalkan menjadi sultan dalam upacara di mesjid Indrapuri,” tulis H Mohammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad jilid II.

Lantaran masih anak-anak, Tuanku Muhammad Daud Syah belum diberi kewenangan untuk memerintah Aceh.

Sumber gambar: Buku Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

Pasca-jatuhnya keraton ke tangan Belanda, pemerintahan Kerajaan Aceh berpindah ke Indrapuri. Lantaran kembali dikuasai dan diduduki Belanda, pemerintahan akhirnya berpindah ke Keumala dengan Teungku Chik di Tiro sebagai menteri perang, Teuku Umar sebagai laksamana/ “panglima laut pantai barat”, dan Panglima Nya' Makam menjadi panglima urusan Aceh Timur.

Dalam pelbagai literatur—tanpa bermaksud menampik peran penting individu-individu lainnya—tokoh yang paling menonjol pada waktu itu adalah Teungku Chik di Tiro dan Teuku Umar.

Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda setelah beberapa waktu Belanda menduduki keraton, dapat dikatakan, berada di bawah dua kombinasi kepemimpinan yang unik: Teuku Umar—sang bajak laut dan petualang—dan Teungku Chik di Tiro, sang ulama kharismatik.

“Pemimpin-pemimpin perang yang baru di satu pihak seorang tokoh seperti ulama Teungku di Tiro dari Pidie, yang tegar dan fanatik, serta di pihak lain Teuku Umar yang tidak punya negeri, liberal tetapi sama fanatik, tampaknya cepat memperoleh tenaga tempur,” tulis Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

Sumber gambar: Buku Aceh Sepanjang Abad jilid II.

Syair dan Hikayat

Dalam masa-masa perang kala itu, baik peran Teungku Chik di Tiro maupun Teuku Umar, “terekam” dalam syair dan hikayat.

Ali Hasymy, dalam bukunya Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Atjeh Lawan Belanda, menuliskan, Teungku Chik Pante Kulu menulis Hikayat Prang Sabi  “di dalam kapal dalam perjalanannya dari Jeddah ke Penang sebagai kontribusinya untuk mendukung temannya, Teungku Chik Di Tiro, yang memimpin Perang Suci melawan Pemerintah Belanda”.

Hikayat yang menceritakan penggalan-penggalan peristiwa penting dalam Perang Aceh kala itu juga terhimpun dalam Hikyat Prang Kompeuni gubahan Do Karim.

“Dua di antara hikayat yang paling mereka (masyarakat Aceh-red) sukai ialah cerita pahlawan yang bahannya dipungut dari zaman sejarah Aceh yang lebih jaya dari sekarang. Cerita pahlawan yang satu bernama Malem Dagang dan terjadi dalam paro pertama abad ketujuh belas. Yang kedua bernama Pocut Muhamat dan terjadi pada awal abad kedelapan belas. Rupanya kedua contoh tentang penyanjungan pahlawan-pahlawan nasional ini telah membangkitkan semangat Dö Karim untuk menuangkan apa yang telah dilihatnya dan didengarnya tentang perang Aceh melawan kömpeuni ke dalam bentuk semacam itu,” tulis Snouck Hurgronje, Penasehat Urusan Pribumi Belanda, yang juga seorang antropolog, sebagaimana yang terhimpun dalam buku Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Belanda jilid I.

Menurut Snouck, Do Karim tidak bisa membaca dan menulis huruf latin.  Oleh sebab itu, Snouck meminta Do Karim menghadapnya ke Kutaraja (Banda Aceh-red) untuk mengisahkan hikayat itu. Selama tiga hari tiga malam kisah tersebut dituturkan dan akhirnya diketik seorang jurutulis yang telah disiapkan.

Kenduri

Teungku Chik di Tiro berhasil mengobarkan perang melawan kependudukan Belanda menjadi perang rakyat. Ia berkeliling ke pelosok-pelosok untuk menyerukan Perang Sabil. Dalam kerja-kerja konsolidasi itulah, Teungku Chik di Tiro kerap menggelar kenduri.

“Mereka mengutamakan pengadaan kenduri besar serta menghadirinya atau mereka memungut uang sabil dan mengumpulkannya di tempat-tempat di luar perang,” tulis Snouck Hurgronje, sebagaimana yang terhimpun dalam buku Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Belanda jilid I.

Di samping itu, dalam kenduri-kenduri di tengah situasi perang jugalah, Teungku Chik di Tiro dan Teuku Umar kadang-kadang berkumpul dan saling berbagi strategi perang.

Snouck, mengutip kisah dalam hikayat yang digubah Do Karim, pernah menuliskan, kebanyakan peserta kenduri itu berat meninggalkan lokasi “meskipun peluru-peluru sudah mendesing karena mereka enggan meninggalkan potongan-potongan daging kerbau yang baru saja dimasak dan lezat, dengan lauk-pauknya.”

“Satu Peristiwa kanduri (kenduri) besar-besaran yang diganggu oleh sergapan Kompeuni digambarkan oleh penyair dengan jenaka sekali,” tulisnya. []

Komentar

Loading...