Bincang

Kadistanpang Pijay: Jika Saya tidak Mampu Meningkatkan Kapasitas Produksi Gabah, Itu Baru Saya Malu

·
Kadistanpang Pijay: Jika Saya tidak Mampu Meningkatkan Kapasitas Produksi Gabah, Itu Baru Saya Malu
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya drh Muzakkir Muhammad.

sinarpidie.co—Pada tahun 2017, total luas lahan tanaman padi di Pidie Jaya adalah 8.875 hektare, yang terdiri dari 8.094 hektare sawah irigasi dan 781 hektare sawah non-irigasi. Produksi padi tercatat sebesar 92. 558,50 ton dengan luas panen sebesar 16.211 hektare. Produktivitasnya mencapai 5, 71 ton per hektare.

Data tersebut dikutip dari data Badan Pusat Statistik Pidie Jaya yang terhimpun dalam Kabupaten Pidie Jaya dalam Angka 2018.

Sementara, produksi palawija didominasi oleh komoditas jagung sebesar 8.331, 14 ton. Disusul kedelai sebesar 757, 86 ton, ubi kayu 730, 67 ton, dan kacang tanah sebesar 329, 08 ton, dan kacang hijau sebesar 13, 18 ton.

“Pidie Jaya sudah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebagai salah satu kawasan pertanian di Aceh. Untuk kawasan utama komoditinya adalah padi dan kedelai. Untuk kawasan penyangga, jagung, bawang merah, dan cabai merah. Oleh karenanya program yang kita rancang, terarah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadistanpang) Pidie Jaya drh Muzakkir Muhammad, Kamis, 18 Oktober 2018.

Sumber andalan ekonomi Pidie jaya, kata dia, ada di sektor pertanian.

“PDRB (Produk Domestik Regional Bruto-red) Pidie Jaya 49 persen disumbangkan dari sektor pertanian,” kata dia. “Selama ini belanja modal APBK Pidie Jaya untuk sektor pertanian sudah cukup bagus alokasinya walau kita berharap ke depan bisa lebih bagus lagi. Sehingga, program-program pemberdayaan masyarakat bisa kita lakukan.”

Pidie Jaya, sebutnya lagi, telah memiliki peta kawasan pertanian.

Kawasan hortikultura, seperti cabai merah dan bawang merah, difokuskan di Kecamatan Trienggadeng, Pante Raja, dan Bandar Baru.

“Kemudian, zonasi pengembangan jagung hibrida, itu lebih difokuskan di Kecamatan Bandar Dua. Untuk pengembangan padi di semua kecamatan. Oleh sebab itu, dalam merumuskan program kerja dinas, kita  komit untuk mendukung pengembangan kawasan berdasarkan zonasi tersebut,” katanya.

sinarpidie.co mewawancarai Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya drh Muzakkir Muhammad, Kamis, 18 Oktober 2018, di ruang kerjanya di Meureudu. Berikut petikannya.

Untuk kapasitas produksi gabah di Pidie Jaya, bagaimana gambarannya?

Sebelum masuk ke situ, saya ceritakan dulu: yang dikatakan kawasan utama, artinya capaian luas tanamnya harus di atas 2.500 hektare.

Bicara padi di Pidie Jaya, berdasarkan laporan tahun 2017, luas tanamnya mencapai 17.328 hektare. Rata-rata per hektare, produksinya: 5, 8 ton gabah kering giling.

Termasuk capaian ketiga tertinggi di Aceh untuk provitas padi.

Kemudian, produksi gabah kering giling tahun 2017 di Pidie Jaya itu di atas 100.000 ton, sejak Januari hingga Desember 2017.

100.000 ton gabah kering giling yang diproduksi masyarakat tani di Pidie Jaya, kita bandingkan dengan jumlah penduduk Pidie Jaya yang hanya 152.000 jiwa, dengan konsumsi beras per jiwa sekitar 90 kg per tahun, maka kebutuhan konsumsi beras masyarakat Pidie Jaya sekitar 13.600 ton beras per tahun.

Artinya, masih surplus beras di Pidie Jaya hampir 51.000 ton per tahun.

Inilah yang disumbangkan pada daerah-daerah saudara-saudara kita yang defisit beras. Misalnya, ke Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues. Itu supply berasnya dari daerah pesisir.

Tapi yang terjadi hari ini gabah diangkut ke Medan dan kilang padi lokal banyak yang tutup. Setelah digiling di Medan, berasnya dijual ke Aceh. Bagaimana kita bisa memastikan gabah-gabah pesisir Aceh bisa sampai ke daratan tinggi Gayo? Dan fenomena hari ini, krong pade di rumah-rumah masyarakat tani kebanyakan kosong…

Iya. Itu adalah fakta. Setiap tibanya musim panen, truk sudah mengantri. Beli gabah di Aceh, diangkut ke Medan. Itu fakta. Tapi saya melihat sebagian besar petani di kita, begitu panen tiba, itu yang betul-betul berprofesi sebagai petani, akan menyimpan gabah, untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga selama enam bulan (satu tahun dua kali panen-red), selebihnya tetap dijual.

Nah, untuk pegawai atau pengusaha, yang barangkali tidak menjadi petani, maka mereka akan beli beras.

Beras yang kita beli bisa saja berasal dari Pidie Jaya, bisa saja beras yang dari Medan. Tapi saya melihat, beras yang beredar di Pidie Jaya, itu beras dari produk Pidie Jaya sendiri.

Berapa jumlah kilang padi dengan peralatan modern di Pidie Jaya yang beroperasi hingga kini?

Saya akan cerita sampai ke sana.

Sekarang, mengapa kilang padi tradisional banyak yang tutup, saya melihat ada beberapa faktor. Pertama, kilang padi lokal tidak mampu bersaing dengan kilang padi modern. Kilang padi modern itu menghasilkan beras dengan kualitas premium yang disukai konsumen kelas menengah ke atas. Lebih bersih, lebih putih, lebih enak, katanya. Sedangkan kilang padi tradisional, menggunakan peralatan konvensional. Dia tidak mampu menghasilkan beras premium, tapi sebatas beras medium.

Baca juga:

Kemudian, salah satu alasan lainnya, pengusaha di Medan datang ke Aceh dengan membawa uang tunai dan beli gabah dengan harga di atas HPP Bulog.

Pengusaha Medan membeli gabah petani dengan harga Rp 5.300. Pengusaha lokal tidak cukup uang untuk membeli dengan harga itu untuk jumlah gabah yang besar.

Apakah diperlukan kerjasama lintas sektor, katakanlah, intervensi Disperindagkop pada saat pasca-panen? Atau payung hukum, sebab truk-truk pengangkut padi bisa dengan bebas keluar Aceh tanpa dikenai retribusi atas gabah yang diangkut.

Saya kira itu sudah saatnya dibahas Pemerintah Aceh, karena tidak sanggup Pemerintah Kabupaten/Kota berpikir sendiri.

Tugas kami di pertanian, genjot produksi sebanyak-banyaknya dengan penambahan luas tanam, melakukan intensifikasi pengembangan tanaman padi, adopsi teknologi dan penerapan teknologi tepat guna, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama dan penyakit.

Otomatis jumlah produksi meningkat.

Sedangkan untuk stabilitas harga, itu tugas Bulog dan Perindag.

Tapi selama ini terkesan, kami di Dinas Pertanian berpikir sendiri. Mulai dari penyiapan air, pengolahan tanah, ketersediaan bibit, pupuk, pengendalian penyakit, sampai dengan harga, petani datang ke kami.

Jika sebagai Kadis Pertanian Pidie Jaya, saya tidak mampu meningkatkan kapasitas produksi gabah, itu baru saya malu!

Artinya ada peningkatan produksi gabah dari tahun ke tahun?

Pada 2012, saat pertama kali saya menjabat Kadis Pertanian Pijay, luas tanam padi hanya berkisar 12 ribu hektare. Sekarang sudah mencapai 17 ribu hektare. Jadi ada upaya khusus yang kita lakukan.

Infrastruktur yang menyokong produktivitas pertanian, bagaimana kira-kira? Apakah sudah ada blue print pembangunan sektor tersebut?

Saya melihat begini. Kita pertanian ini kan hanya penerima manfaat. Tentunya, di Pengairan (Dinas Pekerjaan Umum Pidie Jaya-red) bekerjasama dengan Bappeda, harusnya sudah ada blue print. Namun, apakah sudah ada blue print pengairan persawahan, saya juga tidak tahu.

Di Pidie Jaya, ada tiga kecamatan yang sumber airnya bagus sepanjang tahun. Mereka adalah Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, dan Ulim. Sumber airnya Krueng Meureudu.

Sedangkan Kecamatan yang kekurangan air: Trienggadeng, Panteraja, sebagian wilayah di Kecamatan Bandar Baru, dan sebagian wilayah di Bandar Dua, dan Kacamatan Jangka Buya.

Itu disebabkan debit air di Krueng Cubo yang sudah menipis. Bisa jadi karena jaringan iragasi primer yang kurang bagus, bisa jadi karena banyak sadapan liar, bisa jadi hal lain-lain.

Illegal logging dan tambang galian C?

Iya, itu salah satu penyebab debit air berkurang. Oleh karenanya, kami bersama-sama rekan-rekan di Dinas Pertanian Pidie Jaya melakukan berbagai upaya. Meskipun debit air kurang, namun kita tetap tanam setahun dua kali. Strateginya, percepatan olah tanah, percepatan tanam untuk musim tanam rendengan. Sumber air, air hujan. Kemudian, kalau cepat tanam cepat panen.

Untuk tanaman hortikultura, bagaimana perkembangannya? Apakah tanaman tersebut memiliki nilai jual dan mampu meningkatkan Produk domestik regional bruto (PDRB) Pidie Jaya?

Yang pertama, tanaman hortikultura yang kita kembangkan, cabai merah dan bawang merah. Kalau minat petani dari tahun ke tahun terus meningkat. Salah satu indikatornya, hampir setiap hari ada proposal untuk pengembangan dua komoditi tersebut. Peningkatan minat tersebut tak terlepas dari harga panen yang lalu cukup bagus. Harga cabai kalau sudah di atas Rp 20 ribu, itu sudah ada untung. Begitu juga dengan bawang merah. Harga untuk dua komoditi tersebut memang tidak selalu stabil. Di kala produksinya rendah, permintaan pasar tinggi, harganya tetap mahal.

Petani harus jeli membaca kapan di tempat lain dilakukan penanaman dan panen, sehingga tidak berbenturan panen. Analisa-analisa seperti ini harus ada. Makanya petani yang sudah punya wawasan agribisnis, itu observasi dan surveinya sampai ke hal itu.

Misalnya, petani di Gayo dan Brastagi, kapan mereka tanam cabai, kapan panennya. Kita sebagai aparatur yang bertugas mendampingi para petani, kelompok tani, penyuluh, harus memberikan gambaran itu pada petani. Sebab, ketika informasi pasar tertutup bagi petani dan harga panen jatuh, untuk membangkitkan petani menanam kembali komoditi tersebut akan susah, sebab mereka akan malas menanam komoditi tersebut.

Di samping pemberian informasi tentang bagaimana teknologi budidaya cabai dan bawang merah.

Selama ini informasi tersebut disampaikan lewat medium apa?

Melalui penyuluh. 2017, luas tanam cabai merah di atas 100 hektare lebih. Begitu juga dengan bawang merah. Yang menonjol sekali, luas tanamnya, adalah jagung hibrid, pakan ternak. 2017, luas tanamnya tak kurang dari 2000 hektare. Baik itu dilahan sawah maupun di lahan-lahan perbukitan. Harga jagung hari ini stabil, Rp 4000 per kg. Budidaya jagung hibrida di lahan sawah seluas satu hektare, hasil survei kami, kalau bibitnya bagus, hasil produksinya bisa mencapai 12 ton dalam jangka waktu tiga bulan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya drh Muzakkir Muhammad memantau perkembangan padi di persawahan masyarakat.

Artinya, ada pendapatan sekitar Rp 40 juta. Jadi hitung-hitungan kami, kalau masing-masing petani menggarap 0, 25 hektare atau satu naleh, biaya produksi katakanlah Rp 2 juta-an per naleh, jadi dapat untung Rp 8 juta dalam kurun waktu tiga bulan.

Untuk program kerja 2019, apa yang menjadi prioritas?

Kita tetap prioritaskan pengembangan empat komoditas tadi dari hulu ke hilir. Akan kita genjot. Padi, bawang merah, cabai merah, dan jagung hibrida. Yang kita coba kembangkan pada 2019, yaitu pengoptimalkan lahan sawah tadah hujan.

Lahan sawah tadah hujan, yang selama ini digarap setahun sekali, akan kita coba kembangkan padi lahan kering atau padi inpago. Di Trienggadeng dan Bandar Baru.

Kalau itu berhasil, akan terjadi pertumbuhan ekonomi di masyarakat Rp 7, 5 M.

Inovasi lain di Pidie Jaya yang bisa diadopsi oleh daerah lain, yakni dalam hal pengendalian hama tikus. Pidie Jaya dulunya salah satu daerah endemi hama tikus. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, hama tersebut sudah berkurang drastis. Yang kita lakukan adalah pengendalian dengan musuh alami. Musuh alami tikus adalah burung tyto alba atau burung hantu. Ada kotak-kotak kecil dengan tiang setinggi dua meter dalam petak sawah, itulah sangkar burung hantu. []

Komentar

Loading...