Sejarah

Jejak Perang Pasifik pada Bunker Jepang di Sepanjang Laut Kota Sigli

·
Jejak Perang Pasifik pada Bunker Jepang di Sepanjang Laut Kota Sigli
Bunker Jepang di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--Bangunan itu telah tertutupi semak-semak. Posisi bangunan tersebut kini terlihat agak menurun karena permukaan tanah di sekitar bangunan tersebut telah dilakukan penimbunan. Struktur dasar bangunan itu berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari cor semen yang kokoh. Terdapat dua ventilasi di sisi kiri dan kanan, satu pintu masuk dari belakang, dan sebuah lubang horizontal (bidik) mengarah ke laut. Bangunan itu adalah salah satu bunker Jepang di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Di Pidie, deretan bunker Jepang setidaknya tersebar di pesisir pantai di Gampong Benteng, Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli; Gampong Ceubrek, Peukan Sot, hingga ke Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga. Sayangnya, bunker-bunker tersebut tak terawat.

Dalam film-film berlatar sejarah Perang Pasifik (Perang Dunia ke-2), bunker-bunker serupa acapkali terlihat dalam pelbagai adegan-adegan peperangan.

Selain bunker, Jepang juga memanfaatkan bukit dan gua sebagai tempat pertahanan. Hal itu salah satunya dapat dilihat dalam film Letter from Iwo Jima. Film yang dibintangi Ken Watanabe dan disutradarai Clint Eastwood, itu, dibuka dengan adegan para arkeolog yang menemukan surat-surat tentara Jepang yang dikubur di dalam bunker dan terowongan bawah tanah yang dibangun di atas perbukitan Gunung Suribachi, yang terhubung satu sama lain seperti jaring laba-laba.

Jenderal Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, Tadamichi Kuribayashi, yang diperankan Ken Watanabe, kerap menuliskan surat untuk anaknya, Taro. Bahkan, melalui plot flashback, saat sang jenderal menjabat sebagai deputi atase militer di Amerika Serikat, ia  juga menuliskan kekagumannya terhadap perkembangan industri di negeri Paman Sam tersebut pada putranya, Taro.

Kuribayashi juga pernah mengecap pendidikan militer kavaleri di Texas.

Saat ditugaskan Kekaisaran Jepang untuk mempertahankan Pulau Iwo Jima, sang jenderal memerintahkan pasukannya untuk tidak menghadang tentara sekutu di bibir pantai tapi bersembunyi di dalam bunker dan terowongan bawah tanah di atas gunung.

Idenya tersebut semula ditentang oleh perwira angkatan laut, sebab menurut sang perwira angkatan laut, lawan harus dihadang di lokasi pendaratan, yaitu bibir pantai. Tapi, kata Tadamichi Kuribayashi, kapal-kapal perang bahkan kapal induk Jepang telah binasa dan tak akan ada bantuan dan penambahan pasukan untuk mempertahankan pulau vulkanik tersebut.

Tadamichi Kuribayashi (tengah). Sumber foto: apjjf.org.

Ia melarang pasukannya melakukan serangan banzai atau serangan berani mati terlalu dini. Target sang jenderal adalah memperpanjang durasi pertempuran dan menimbulkan penderitaan dan korban sebanyak mungkin pada kubu tentara sekutu. Sebab, menurutnya, dengan persenjataan dan logistik yang minim, pulau tersebut pada akhirnya juga akan jatuh ke tangan sekutu. Alhasil, ide Tadmichi Kuribayashi pun direalisasikan.

Amerika melancarkan serangan ke Pulau Iwo Jima pada 19 Februari 1945 pagi. Pesawat pengebom B-24 dan B-25 memuntahkan bom hingga 24 Maret 1945. Tak hanya serangan udara, serangan laut juga tak henti-hentinya dilakukan. Namun, tentara Jepang aman-aman saja di dalam terowongan dan bunker. Ketika mendarat di bibir pantai, marinir Amerika tidak menemukan lawannya. Bibir pantai begitu sepi. Namun, begitu para marinir mendekati bukit, barulah serangan balasan Jepang dilancarkan habis-habisan.

Meski berhasil menduduki pulau yang dianggap penting untuk membuka jalan bagi Angkatan Udara Amerika  mengebom Nagasaki dan Hiroshima, Amerika kehilangan 6.821 tentaranya dan 20 ribu lainnya terluka parah. Di pihak Jepang, dari 22 ribu tentara, hanya 216 orang yang tersisa. Jenderal Kuribayashi memilih melakukan hara-kiri atau bunuh diri dan jasadnya tidak ditemukan hingga sekarang.

Baca juga:

Saat-saat itu adalah tahun ketiga Jepang berada di Aceh, sejak pertama kali menginjakkan kaki pada 12 Maret 1942. Jepang masuk ke Aceh bukan melalui perang yang berdarah-darah, melainkan melalui Said Abu Bakar dan Syekh Ibrahim, yang secara khusus ditugaskan PUSA untuk menjalin hubungan yang baik dengan Jepang di Pulau Penang dan Malaya agar secepat mungkin dapat mengusir Belanda dari Aceh.

Pintu belakang bunker Jepang di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli. (sinarpidie.co/Firdaus).

Jika bagi Aceh kala itu Jepang adalah teman koalisi untuk mengusir Belanda, tapi bagi Jepang, Aceh tampaknya adalah daerah pendudukan yang juga harus dipertahankan dari serangan sekutu. Hal itu terlihat dari pola pertahanan militer mereka, salah satunya melalui pembangunan bunker-bunker tersebut. Kita tahu, setelah Pulau Iwo Jima diduduki, kekalahan Jepang dalam Perang di Pulau Luzon Filipina, dan pada tahun sebelumnya, 1994, Jepang juga kalah dalam pertempuran Saipan, hingga bom atom dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima yang memaksa mereka menyerah tanpa syarat, senjata berat tak meletus dari bunker-bunker yang ada di Gampong Benteng, Blang Paseh, hingga ke Gigieng, untuk menghadang kedatangan pasukan sekutu. []

Komentar

Loading...