Serba-serbi ramadhan

Serba-serbi Ramadhan

Jejak Irigasi di Masjid Tgk Chik Trueng Campli

Jejak Irigasi di Masjid Tgk Chik Trueng Campli
Masjid Tgk Chik Trueng Campli terletak di Gampong Treung Campli, Meunasah Ukee, Glumpang Baro, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Masjid Teungku Chik Trueng Campli terletak di Gampong Treung Campli, Meunasah Ukee, sekitar 2 kilometer dari Pusat Kecamatan Glumpang Baro, Pidie. Masjid tersebut masih kokoh berdiri di lahan sekira dua hektare.

Saat memasuki halaman masjid tersebut, beberapa balai dan bilik tempat penginapan para santri berderetan mengelilingi masjid itu.

Sekitar sepuluh meter ke kanan, dari pintu masuk ke halaman masjid, ada sebuah bangunan berukuran sekira 3 x 3 meter: makam Tgk Chik Trueng Campli.

Beberapa warga setempat datang silih berganti dengan membawa wajan untuk mengambil kanji di masjid tersebut, Kamis, 9 Mei 2019.

Saat memasuki ke dalam masjid, pada pintu masuk, terdapat ukiran kayu yang melengkung di atas pintu. Luas bangunan masjid sekitar 15 x 15 meter dengan konstruksi kayu yang dipasak ke dalam kayu lainnya dengan ditopang oleh 16 tiang kayu. Di sekeliling masjid sudah dicor dengan semen setinggi 50 cm dengan ketebalan 15 cm. Di dalamnya, ada mimbar kayu yang terukir. Sementara, di sebelah kiri pintu masuk masjid beduk yang disebut-sebut berusia ratusan tahun masih bertengger.

Menurut warga setempat, Mahfud, 39 tahun, beduk tersebut sudah puluhan tahun tidak digunakan lagi, karena kulit beduk tersebut sudah rusak dan tidak ada yang perbaiki lagi.

“Dulu saat saya masih kecil, segala bentuk pengumuman diumumkan melalui beduk ini,” kata Mahfud.  “Ada sekitar 150 murid yang rutin mengaji di sini. Dari anak-anak sampai orang dewasa. Pengajian di sini dipimpin oleh Tgk Husnul Basyar dibantu sembilan guru ngaji lainnya,” kata Mahfud lagi.

Nama ulama Tgk Chik Trueng Campli ditabalkan pada masjid tersebut. Ia adalah cucu Tgk Chik di Pasi, ulama cum bapak pertanian di masa Kerajaan Aceh.

Qismullah Yusuf dalam makalahnya Etno Scientist and Technologists Melayu Aceh menuliskan, irigasi dan tambak ikan yang ada di Tiro, Pasi Lhok, dan Kuala Sigli, tonggak pembangunannya ada pada sosok Tgk Chik di Pasi, yang kemudian diteruskan cucunya Teungku Chik Trueng Campli dan keponakannya Teungku Chik di Reubee.

Di bagian Barat Pidie, dari Tiro, Garot hingga ke Padangtiji dikerjakan atas prakarsa Teungku Chik di Reubee.

“Cucu dari cicitnya Teungku Chik di Pasi yang bernama Teungku Paya Ra’oh adalah juga sosok yang menyambung dua gunung untuk membuat waduk dan mengairi semua sawah yang tidak dapat diari oleh Krueng Tiro,” tulis Qismullah Yusuf.

Teungku Chik di Pasi, tulis Qismullah Yusuf, memiliki nama lengkap Haji Abdussamad. Ia hidup di masa Kesultanan Iskandar Tsani atau Kesultanan Sri Ratu Safiatuddin.

“Teungku Chik di Pasi menamatkan pendidikan dasar agamanya di Teureubue, kemudian melanjutkan pendidikan menengah dan jenjang Ma’had Ali di Tiro sebelum dikirimkan ke Jami’ah Baiturrahman Banda Aceh dan lulus dengan kepujian sangat tinggi,” tulis Qismullah Yusuf.

Ia kemudian dikirimkan ke Timur Tengah untuk melanjutkan sekolah. Teungku Chik di Pasi bertanya-tanya pada dirinya sendiri kala itu, mengapa Aceh masih mengantungkan hasil produksi pertanian dari luar padahal Aceh memiliki sumber daya alam yang begitu kaya.

Sesampainya ia di Mekkah, alih-alih menuntut ilmu sesuai dengan beasiswa yang diberikan Kerajaan Aceh di bidang agama, Teungku Chik di Pasi justru pergi ke Baghdad selama 7 tahun, Damaskus 2 tahun, dan Mesir 2 tahun, untuk mempelajari apa yang dituliskan oleh Qismullah Yusuf, “ilmu pertanian, hydro engineering, dan holtikultura”.

“Sekembalinya ke Aceh, beliau tidak berani melaporkan diri kepada Sultan karena telah melanggar keputusan sultan… Dilindungi Panglima Polem, ulama dan hulubalang Pidie, beliau berhasil membuat model sistem irigasi di Pidie dan mempersembahkan produksi perdananya pada kerajaan,” tulis ismullah Yusuf.

Sang Ratu tak menggubris hal itu. Bukan tak tertarik, tapi sang ratu menghukum Teungku Chik di Pasi dengan kerja paksa di Keumuneng Aceh Selatan untuk membangun sistem irigasi kedua di sana.

Panglima Polem dan Ampon Syik Pidie lantas meminta sang ratu menghukum Teungku Chik di Pasi di Pidie.

“Perlu diketahui bahwa Pidie tidak tunduk dan ikhlas kepada Kesultanan Aceh akan tetapi tunduk karena kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Aceh. Dengan berfungsinya Pidie sebagai lumbung beras Aceh, mereka akan memiliki konsensi politik yang lebih tinggi dalam pengelolaan perdagangan dan Kesultanan Aceh akan selamanya bergantung pada Pidie,” tulis ismullah Yusuf.

Namun, Sri Ratu Safiatuddin lebih cerdas daripada para hulubalang di Pidie. Ia memeratakan teknologi irigasi di Keumuneng Aceh Selatan, di Aceh Timur, hingga ke Gayo. Dan, Teungku Chik di Pasi menjalankan titah sang ratu tersebut.

Tampaknya, jejak pemikiran dan pola Teungku Chik di Pasi, Teungku Chik Trueng Campli, Teungku Chik di Reubee, dan Teungku Paya Ra’oh, putus pada Teungku Daud Beureueh. 

Pada 1963, setelah meletakkan senjata DI/TII,  Teungku Muhammad Daud Beureueh turun langsung, bahu-membahu, bersama ribuan masyarakat untuk mengerjakan proyek irigasi sepanjang 17 kilometer dengan lebar 2, 5 meter dan kedalamannya 1, 5 meter.

“Satu sen pun pemerintah tidak mengeluarkan dana untuk proyek yang diperkirakan senilai Rp 100 juta ini (sekitar USD 100 ribu dengan kurs zaman tersebut),” demikian tulis Nezar dkk dalam buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak (2016). “Selain membuat saluran irigasi, Abu juga bekerja bakti membuat jalan dari Lampoh Saka ke Langkawi (Kecamatan Kembang Tanjong) sepanjang 12 kilometer.” []

Komentar

Loading...