Figur

Jalan Nurmalawati di Gerakan Sosial

·
Jalan Nurmalawati di Gerakan Sosial
Nurmalawati bersama anak asuh. Foto Ist.

Lembaga nirlaba ini fokus pada isu sosial, termasuk isu kesehatan dan pendidikan.

sinarpidie.co--Nurmalawati SPd, lahir di Teungoh Drien Gogo, Pidie, pada 3 April 1983. Ia berkenalan dengan gerakan sosial sejak masih mengenakan almamater FKIP Kimia Unsyiah.

“Pada 2004, saya relawan pengungsian korban konflik. Mengontrol pendistribusian logistik dari pemerintah untuk para pengungsi di Aceh Selatan, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Saat rehab-rekon tsunami, saya menjadi relawan Pendidikan untuk Aceh dan Sumatera. Menjadi guru di sekolah-sekolah tenda. Ditugaskan di Panga, Aceh Jaya,” kata dia pada sinarpidie.co, awal Februari 2019 lalu. “Saat jadi relawan ketika masih mahasiswa, saya bisa kunjungi banyak tempat, punya banyak teman, punya banyak pengalaman, itu yang penting. Bahkan, untuk jaringan kerja untuk menggerakkan komunitas saat ini, itu jaringan-jaringan dulu. Ada yang dari Papua, Jakarta, Malaysia, yang jadi donatur.”

Pengalaman-pengalamannya itu menginspirasi ibu dua anak ini mendirikan Lembaga Komunitas Peduli Anak Yatim dan Dhuafa Kecamatan Padangtiji.

Kata dia, awalnya dirinya bergerak sendiri. Belakangan, 11 anggota lainnya ikut bergabung di dalamnya.

“Di komunitas ini terhimpun orang-orang dengan pelbagai latarbelakang profesi. Ada yang penyuluh pertanian, perawat, teungku, dokter, ada mahasiswa, dosen, dan guru,” sebut perempuan yang menyelesaikan studi di FKIP Kimia Unsyiah pada 2017 silam, itu. “Mengapa Padangtiji, karena kami berpikir semula membangun di lingkup kecamatan. Lembaga ini sudah berdiri sejak 2017 silam.”

Lembaga nirlaba ini fokus pada isu sosial, termasuk isu kesehatan dan pendidikan.

“Untuk program pengobatan gratis baru jalan. Tapi, membantu penyandang disabilitas untuk memperoleh alat bantu kursi roda. Mendampingi pasien, membawa pasien, mencari rumah singgah, dan mencari donatur, sudah jauh-jauh hari kami lakukan. Untuk pendidikan, di Padangtiji sekarang sudah ada 27 anak asuh. Uangnya setiap bulan dari donatur, termasuk membantu seragam sekolah. Yatim dan benar-benar miskin. Anak sekolah SD, yang jalan kaki tiga kilometer, kami mencari bantuan sepeda,” ungkapnya.

Baca juga:

Tak hanya itu, pihaknya juga membantu masyarakat untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk bisa mengakses bantuan sosial dan layanan kesehatan. “Ada yang datang hanya untuk konsultasi bagaimana cara mengisi form akta kelahiran anak,” kata dia. []

Komentar

Loading...