Klik Tambang

Ini Sejumlah Fakta terkait Penikaman Menko Pulhukam Wiranto  

·
Ini Sejumlah Fakta terkait Penikaman Menko Pulhukam Wiranto  
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto sesaat sebelum ditusuk oleh Syahrial, saat turun dari mobilnya. Sumber foto sindonews.com.

sinarpidie.co--Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto ditusuk di Pandeglang, Banten, usai menghadiri peresmian Gedung Kuliah Bersama di Universitas Mathla'ul Anwar, Kamis, 10 Oktober 2019.

Dilansir dari suara.com, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi, mengatakan, peristiwa terjadi saat Wiranto akan meninggalkan Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten.

“Jadi peristiwa terjadi ketika Pak Wiranto akan menuju helypad, beliau turun dari mobil bersalaman dengan ulama dan tokoh masyarakat dan Kapolsek Menes, tiba-tiba ada sepasang suami istri yang menghampiri dari arah belakang mobil,” kata Kombes Pol Edy Sumardi seperti yang dilansir dari suara.com.

Wiranto disebut mengalami dua luka tusukan di bagian perut sebelah kiri. Dalam peristiwa itu, tak hanya Wiranto yang terluka, tapi juga Kapolsek Menes Kompol Dariyanto dan seorang ajudan Wiranto, Fuad. Kompol Dariyanto terluka di bagian punggung dan Fuad terluka di dada kiri atas. Saat ini, mereka sedang mendapat perawatan di RSUD Berkah Pandeglang.

Dilansir dari tempo.co, pelaku penusukan Wiranto adalah pasangan suami istri, Syahrial Alamsyah dan Fitri Andriana Binti Sunarto.

Syahrial merupakan warga yang sebelumnya menetap di Jalan Alfakah VI, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan. Namun, Syahrial tak lagi menetap di sana satu tahun sebelum rumah orangtuanya terkena gusur pembangunan Jalan Tol Medan-Binjai, Sektor Tanjung Mulia, pada 2016 lalu.

Syahrial, sebagaimana dilansir dari sumut.sindonews.com, merupakan anak kelima dari enam bersaudara dan memiliki dua anak dari istri pertamanya di Medan.

Diketahui bahwa, Syahrial dan istri keduanya, Fitri Andriana, yang tercatat sebagai warga Desa Sitanggai, Kecamatan Karangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, baru 8 bulan tinggal di Menes, Pandeglang.

Salah seorang warga yang berada lokasi kejadian, Madrohim, 27 tahun, seperti yang dikutip sinarpidie.co dari cnnindonesia.com, mengatakan, ia melihat darah dari tubuh Wiranto, sesaat usai ditusuk oleh  Syahrial.

"Lukanya dada bawah. Pelaku sempat diamankan dan salah satu perempuan sempat berkelahi dengan polisi itu," kata dia, dikutip dari cnnindonesia.com.

Pelaku kedua, Fitri Andriana, yang merupakan istri Syahrial mencoba menerobos barisan penjagaan, namun berhasil dihalau oleh Kapolsek Menes, Kompol Dariyanto. Saat dihalau, Fitri sempat melakukan perlawanan kepada Kapolsek Menes Kompol Dariyanto sehingga melukainya.

"Kapolseknya sampe kena, karena beliau melawan. Ditusuk pakai pisau," jelasnya dikutip dari cnnindonesia.com.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, mengatakan pelaku penusukan Menkopolhukam, Wiranto, tergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).  

"Abu Rara (Syarial-red) ini tergabung di Sel JAD Kediri kemudian pindah ke Bogor. Karena cerai dengan istri pertama pindah ke Menes," kata Budi Gunawan, dilansir dari rmolbanten.com.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, Syahrial diduga terpapar radikalisme ISIS. Menurut Dedi, motif penusukannya menjadikan pejabat publik dan polisi sebagai sasaran serangan.

“Ya kalau misalnya terpapar radikal ya pelaku pasti menyerang pejabat publik, utamanya aparat kepolisian yang dianggap thaghut karena kita lakukan penegakkan hukum terhadap kelompok seperti itu,” kata Dedi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis, 10 Oktober 2019, seperti yang dilansir dari jawapos.com. []

Komentar

Loading...