Editorial

[Editorial] Jalan Tijue – Sanggeu dan Kebenaran Fungsional

·
[Editorial] Jalan Tijue – Sanggeu dan Kebenaran Fungsional
Jalan Tijue-Sanggeu. (sinarpidie.co/Firdaus).

Pada tahun anggaran 2019, Pidie mendapat suntikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Infrastruktur sub Bidang Jalan senilai Rp 27. 761.058.000.  Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan alokasi DAK sub Bidang Jalan tahun 2018, yakni Rp 49.789.500.000.

Tahun 2019, bersumber dari dana tersebut, sedikitnya terdapat lima jalan di Pidie yang dilakukan peningkatan, yaitu Peningkatan Struktur Jalan Lameu - Busu (aspal rusak ke hotmix) sepanjang 2 km dengan pagu anggaran Rp 2.444.720.000, Peningkatan Struktur Jalan Titeue - Keumala (aspal rusak ke homix) sepanjang 4 km dengan pagu anggaran Rp 5.285.784.000, Peningkatan Struktur Jalan Jabal Ghafur - Pulo Ie (aspal rusak ke hotmix) sepanjang 4 km dengan pagu anggaran Rp 4.113.905.000; Peningkatan Struktur Jalan Tijue - Sanggeu (aspal rusak ke hotmix) sepanjang 2 km dengan pagu anggaran Rp 4.030.999.000, dan Peningkatan Struktur Jalan Blang Dhot - Blang Pandak (aspal rusak ke hotmix) 10 km dengan pagu anggaran Rp 10.668.650.000. Sekilas pintas, per kilometer jalan yang ditingkatkan harganya sekira Rp 1 miliar lebih.

Di samping itu, anggaran yang bersumber dari dana DAK tersebut, dipergunakan untuk honorarium tim koordinasi Rp 120.000.000, penyelenggaraan rapat koordinasi Rp 10.000.000, honor petugas pelaporan e-monitoring DAK Rp 12.000.000, penyusunan laporan kegiatan DAK Rp 35.000.000, supervisi konstruksi kegiatan peningkatan struktur jalan DAK 2019 Rp 390.000.000, perjalanan dinas ke lapangan dalam rangka monitoring dan evaluasi Rp 100.000.000, penguatan database dan survey kondisi Rp 300.000.000, dan desain perencanaan Rp 250.000.000. Kegiatan-kegiatan ini dikerjakan secara swakelola oleh Dinas PU PR Pidie.

sinarpidie.co, pada 12 Agustus lalu, memberitakan tentang pekerjaan peningkatan struktur jalan dengan status jalan kabupaten pada tahun anggaran 2019, Tijue – Sanggeu, yang dikerjakan CV. Graha Nusantara dengan nilai kontrak Rp 4 miliar. Tentu saja, sebuah artikel berita, dengan sudut pandang yang telah dipilih dan ditetapkan, tak bisa memuaskan semua pihak ketika ianya telah diturunkan.

Metode yang rigid 

Meliput tentang jalan membutuhkan pemahaman dari status jalan, spesifikasi jalan, hingga hal-hal teknis tentang tahapan pekerjaan peningkatan jalan. Mengandalkan wawancara narasumber di lokasi yang konon awam tentang hal itu dan mengandalkan observasi tentu saja tidak cukup untuk melakukan justifikasi terhadap buruk atau tidaknya hasil pekerjaan peningkatan jalan. Namun demikian, seorang yang buta huruf sekalipun dapat menilai aspal yang begitu tipis di depannya dan menilai tembok penahan tanah yang tak memiliki pondasi dan seharusnya juga dibangun di titik-titik rawan longsor, dan kualitas aspal setelah ia bandingkan dengan jalan-jalan lainnya. Minimal, hal itu dapat menjadi isu awal untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sebab, untuk mendalami hal itu, setidaknya dibutuhkan dokumen kerangka acuan kerja (KAK), dokumen riwayat harga perkiraan sementara, Standard Bidding Document (SBD), surat penawaran peserta lelang, dokumen kerja kelompok kerja unit layanan pengadaan, berita acara penetapan pemenang tender,  kontrak kerja, dan SPJ kegiatan tersebut.

Dari dokumen-dokumen tersebut, baru kebenaran materil dapat ditelusuri satu per satu. Apakah pada lampiran spesifikasi yang terdapat dalam dokumen kontrak tertera secara lengkap, meliputi pekerjaan mulai dari awal, mobilisasi, pekerjaan tanah pekerjaan bahu, pekerjaan pondasi, pekerjaan lapis permukaan, pekerjaan struktural, yang seharusnya memberikan gambaran keterkaitan antara material, alat, dan metode pelaksanaan yang menjamin terlaksananya pekerjaan tersebut dengan baik dan menghasilkan mutu yang ditetapkan, sehingga tidak bertentangan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Kemudian, melalui dokumen-dokumen tersebut, maka dapat dipastikan apakah volume jalan 2 km “dicuri” atau tidak, lapis pondasi atas agregat sesuai dengan ketebalan pondasi yang tertera dalam kontrak telah sesuai atau tidak, memastikan apakah terdapat pekerjaan drainase sesuai dengan kontrak.

Memastikan bahwa pekerjaan kontruksi peningkatan jalan, yang berarti meningkatkan mutu dan daya dukung jalan tersebut, sehingga pelayanannya bisa mencapai waktu yang telah ditetapkan sesuai standar SK 77 tahun 1990 tentang Petunjuk Teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten, yaitu mencapai umur rencana 10 tahun, terhitung dari sejak selesainya dilaksanakan pekerjaan tersebut.

Baca juga:

Memastikan apakah pondasi Agregat Besecourse Class A telah sesuai spesifikasi atau standar Bina Marga tahun 2010 Revisi 3, di mana  tertera bahwa ketebalan tersebut minimum 15 cm. Memastikan komposisi material, aspal/hotmix terdiri dari campuran agregat kasar, agregat sedang, agregat halus, abu-batu, dan aspal, keseluruhan material ini berdasarkan spesifikasi yang ditetapkan harus ditakar dan diracik persis seperti yang ditetapkan, apabila salah satu komponen material tidak sesuai dengan takaran maka daya dukung atau kekuatan aspal yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi. Memastikan ketebalan aspal sesuai dengan perencanaan dan juga tidak akan berakibat tidak dicapainya daya dukung atau kekuatan aspal yang sebagaimana mestinya.

Memastikan temperatur aspal pada saat penghamparan, temperatur campuran aspal pada saat penghamparan telah sesuai dengan yang ditetapkan di dalam spesfikasi agar tidak menyebabkan kerusakan permukaan aspal akibat dari ketidaksesuaian temperatur campuran aspal pada saat penghamparan. Memastikan metode pemadatan pekerjaan aspal sesuai dengan spesifikasi Bina Marga yang meliputi break down, secondary dan finishing. Artinya ketiga tahapan ini harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi baik jumlah lintasannya maupun alat yang digunakan agar memberikan hasil pekerjaan yang maksimal.

Kebenaran jurnalisme

Butuh waktu dan ketekunan untuk memahami hal ini. Terlebih dari itu, butuh usaha yang panjang untuk mendapatkan dokumen-dokumen yang telah disinggung di atas. Dalam jurnalisme, yang dikejar adalah kebenaran jurnalisme dengan seluruh metodelogi yang melekat di dalamnya, bukan kebenaran hukum yang telah diputuskan oleh hakim. Mengutip Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku mereka Sembilan Elemen Jurnalisme, kebenaran jurnalisme adalah kebenaran fungsional, yang metodologinya sebenarnya juga dipakai oleh hakim dalam menjalankan peradilan. Kebenaran yang dibentuk hari demi hari dan lapisan demi lapisan. []

Komentar

Loading...