Liputan khusus MTQ Aceh ke-34

[Editorial] Berpacu dalam Melodi MTQ di Pidie

·
[Editorial] Berpacu dalam Melodi MTQ di Pidie
Arena Utama MTQ. Foto direkam Selasa, 6 Agustus 2019. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Alkisah, Sangkuriang jatuh cinta pada seorang perempuan yang ternyata adalah ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Ia memaksa Dayang Sumbi untuk menikah dengannya. Sadar dan mengetahui bahwa Sangkuriang anaknya sendiri, Dayang Sumbi lantas mengajukan syarat, sebagai bentuk penolakan: ia minta dibuatkan perahu yang sangat besar dan dibuatkan telaga dalam waktu semalam.

Panggalan cerita rakyat di atas mungkin bisa dikaitkan dengan pergelaran MTQ di Pidie untuk konteks: bagaimana dalam waktu yang tinggal beberapa minggu ke depan, dengan kondisi baik bangunan atau infrastruktur yang akan digunakan sebagai fasilitas MTQ maupun panitia MTQ PNS dan non-PNS belum terlihat bekerja mempersiapkan even yang jatuh pada September 2019 mendatang, MTQ tersebut bisa digelar sesuai waktu yang telah ditentukan.

Bahkan, hingga kini even organizer (EO) untuk pembukaan dan penutupan kegiatan tersebut juga belum dipilih.

Untuk realisasi pembangunan infrastruktur penunjang MTQ per Agustus 2019, dapat dikatakan tak ada perkembangan yang menggembirakan meskipun anggaran yang digelontorkan jor-joran.

Pembangunan gedung serbaguna dan tribun utama MTQ tahap II  dengan nilai kontrak  Rp 12,9 miliar yang dikerjakan PT. Putra Nanggroe Aceh; pembangunan panggung utama yang dimenangkan oleh CV. Guntomara dengan nilai kontrak Rp 1,2 miliar; rehabilitasi gedung olahraga dan penataan halaman yang dikerjakan CV Sinar Asri dengan nilai kontrak Rp 3,8 miliar; pembangunan musala pada panggung utama MTQ, yang dikerjakan  CV Gata Mandiri dengan nilai kontrak Rp 1,2 miliar; pembangunan MCK dan tower air pada arena utama MTQ, yang dikerjakan oleh CV Siska Azis dengan nilai kontrak Rp 400 juta; pembangunan gapura pada arena utama dengan nilai kontrak Rp 1,1 miliar; pemasangan lampu dengan nilai kontrak Rp 900 juta,  pembangunan dan pengadaan tangki air; dan pembangunan stand pameran dan sewa tenda ukuran 5 x 5 dan pengadaan truk tangki air; masih terus dipacu pengerjaannya. Proyek-proyek tersebut berada pada Dinas Perkim Pidie.

“Penyelenggaraan MTQ Aceh di Pidie kali ini merupakan ujian awal bagi pemerintahan yang dikomandoi Abusyik dan Fadlullah. Dan ini menjadi batu loncatan menuju even besar Pekan Olahraga Aceh (PORA) yang juga diselenggarakan di Kabupaten Pidie,” kata Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, saat melakukan peninjauan ke lokasi pembangunan Gedung Utama MTQ di Sigli, Pidie, Rabu, 3 Juli 2019 lalu.

Wakil  Bupati Pidie Fadhullah TM Daud pada Jumat dua pekan lalu mengatakan, progress proyek-proyek tersebut rata-rata sudah mencapai 75 persen. 

Baca juga:

Di samping anggaran infrastruktur penunjang MTQ, anggaran untuk panitia non-PNS juga digelontorkan secara jor-joran: Jasa pelaksanaan harian Rp 98.500.000. Jasa panitia bidang media, humas, publikasi, dokumentasi dan pameran Rp 72.000.000; jasa  panitia bidang keamanan dan ketertiban Rp 40.000.000; jasa panitia sarana, prasarana, dan perlengkapan Rp 97.000.000; jasa panitia bidang konsumsi, akomodasi, tamu dan kebersihan Rp 75.500.000; jasa panitia bidang Musabaqah dan Penghubung Dewan Hakim Rp 121.100.000; jasa panitia bidang kesehatan Rp 18.500.000; jasa panitia bidang pendanaan Rp 12.500.000; jasa panitia bidang sekretariat dan verifikasi Rp 52.500.000.

Selanjutnya, jasa petugas pemantapan tempat dan pemondokan Rp 271.900.000; jasa petugas pengamanan dan ketertiban lalu lintas Rp 414.000.000; jasa petugas medis Rp 36.000.000; jasa petugas pelaksana kegiatan pembukaan MTQ Aceh Rp 43.000.000; dan jasa petugas pelaksana kegiatan penutupan Rp 43.000.000.

Lebih celaka dari progress infrastruktur penunjang, para panitia MTQ justru tampaknya masih berada di awang-awang alih-alih bekerja sejak Agustus untuk mempersiapkan pergelaran dua tahunan sekali itu. Padahal, Dinas Syariat Islam (DSI) Pidie sebagai leading sector dalam hal ini mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 8 miliar.

“SK Panitia ditetapkan Gubernur Aceh tahun lalu,” kata Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Pidie Drs T Sabirin SH, Selasa, 6 Agustus 2019.

Nah, tentu kita berharap Pemerintah Kabupaten Pidie dapat melihat hal ini secara realistis, sehingga formula yang tepat dapat ditemukan untuk memecah lambannya progress-progress kegiatan tersebut. Masih ada waktu untuk melakukan evaluasi, koreksi, dan mengisi potensi-potensi kekurangan dalam pergelaran MTQ Aceh ke-34 di Pidie. Semoga. []

Komentar

Loading...