Drama Kaburnya Napi di Lapas Kelas II A Banda Aceh dan Keberadaan Murtala Ilyas yang Diklaim dibawa BNN ke Jakarta

·
Drama Kaburnya Napi di Lapas Kelas II A Banda Aceh dan Keberadaan Murtala Ilyas yang Diklaim dibawa BNN ke Jakarta
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh Agus Toib. (sinarpidie.co/syahrul).

Napi mendobrak pagar trails dan pagar ornames menggunakan alat seperti barbell 5 kg, batu semen dan alat keras lainnya. Tindakan ini disebut tidak terpantau oleh petugas yang bertugas pada saat kejadian. Kaburnya 113 narapidana di Lapas Kelas IIA  Banda Aceh di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, diduga erat kaitannya dengan upaya untuk meloloskan Murtala Ilyas, salah satu gembong narkoba yang saat ini sedang menjalani hukuman di Lapas tersebut.

sinarpidie.co—Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh Agus Toib mengatakan, saat ini pihaknya masih mendalami dan mengumpulkan informasi guna menemukan motif narapidana di Lapas Kelas IIA Banda Aceh kabur.

“Terkait dengan motif, kita masih melihat dan memeriksa untuk menganalisa secara menyeluruh melalui informasi narapidana yang kabur dan telah tertangkap baik yang kembali dengan sendirinya maupun dengan bantuan pihak kepolisian. Yang jelas ini upaya pelarian yang dilakukan dengan cara spontanitas tanpa terdeteksi oleh pegawai atau petugas yang jaga pada saat itu,” kata dia di sela-sela kunjungannya ke Lapas Kelas IIA Kota Banda Aceh di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat, 30 November 2018 pagi.

Namun, secara tidak langsung ia justru mengatakan, kemungkinan besar kejadian ini telah direncanakan oleh narapidana dengan mendobrak pagar trails dan pagar ornames menggunakan alat seperti barbell 5 kg, batu semen dan alat keras lainnya.

“Bahkan jendela juga didobrak menggunakan alat itu. Hanya memang tindakan ini tidak terpantau oleh petugas yang bertugas pada saat kejadian,” kata dia lagi.

Kendati demikian, ia tak menampik adanya kelalaian petugas Lapas yang menyebabkan para warga binaan ini berhasil kabur.

“Ini memang naluriah, orang yang dihukum ini kan memang tidak ingin berada di dalam penjara, sehingga ya mencari momen-momen tertentu termasuk pada saat ada kesempatan dan kelemahan pegawai itu digunakan untuk mencoba kabur,” ungkapnya.

Pada saat kejadian, ada sepuluh petugas yang berjaga, yang terbagi pada beberapa titik penjagaan yaitu di atas, di belakang atau di block dan di depan (pintu utama).

“Sedikitnya jumlah petugas yang bertugas menjadi salah satu alasan berhasil kaburnya napi pada kejadian ini,” ungkapnya.

Jumlah narapidana pada saat ini yang ada di lapas kelas IIA Kota Banda Aceh adalah 727 orang.

“Jadi memang jumlah yang lari lebih banyak, sehingga upaya pencegahan terhadap 113 narapidana yang lari menjadi sulit dilakukan. Jika dipaksakan untuk tetap dihadang, mungkin bisa jadi korban petugas kami. Dari 113 orang napi yang sempat kabur, dan telah tertangkap 26 orang, sisanya kita masih berupaya untuk bisa kita kembalikan ke Lapas,” lanjut Agus Toib.

Ia mendaku, kapasitas Lapas kelas IIA Kota Banda Aceh di Lambaro adalah 380 orang, namun dihuni oleh 727 narapidana dengan berbagai tindak pidana.

“Ini memang menunjukkan bahwa lapas ini telah over capacity. Kondisi ini terjadi hampir di setiap Lapas yang ada di Indonesia,” kata Agus.

Data yang dihimpun sinarpidie.co pada laman Ditjen Pas Kemenkumham menunjukkan, LP ini sama sekali tak masuk ke dalam LP yang dikategorikan sebagai LP yang kelebihan kapasitas. Sebab, berdasarkan catatan Ditjen Pas Kemenkumham, LP ini memiliki kapasitas untuk menampung 800 orang.

“Terkait dengan 113 orang yang kabur ini, ada yang dihukum karena kasus kriminal umum, pembunuhan, dan kasus narkoba. Yang paling banyak yang kabur adalah kasus narkoba. Selain itu ada juga narapidana hukuman mati dari Aceh Barat Daya dan Pidie,” kata Agus lagi.

Sementara itu, Nasir Jamil, salah seorang anggota DPR RI yang membidangi Hukum dan HAM, yang diwawacarai di lokasi mengatakan, pihaknya sudah meminta jajaran Kanwilkumham Aceh untuk mengavaluasi secara total terkait pengawasan dan pembinaan dalam lapas.

Nasir Jamil. (sinarpidie.co/Syahrul).

“Kita turun untuk memastikan apa penyebab kejadian ini terjadi. Kejadian seperti ini yang kedua kalinya terjadi dengan skala besar. Pertama kerusuhan dan pembakaran satu unit mobil polisi. Sekarang di mana mereka membobol dinding bangunan lalu melarikan diri dan jumlahnya sangat signifikan, yaitu 113 orang yang tercatat dan telah kembali 26 orang,” ungkap Nasir Jamil.  “Evaluasi secara total terkait dengan model dan mekanisme pengawasan dan pembinaan agar kejadian-kejadian serupa tidak kembali terulang. Misalnya penegakan displin  di jajaran Kanwilkumham mau diapakan Kalapas-nya terserah mereka sesuai dengan hukum yang ada.”

Di samping itu, Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto SH yang juga meninjau langsung kondisi Lapas mengatakan, Polda Aceh telah menghimbau kepada seluruh instansi kepolisian di bawahnya untuk melakukan operasi, memantau dan meingkatkan upaya pengejaran terhadap Napi yang kabur.

“Kami akan bekerja keras untuk ini sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku,” kata dia.

Dugaan meloloskan Murtala Ilyas

Kaburnya 113 narapidana di Kelas IIA  Banda Aceh di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, diduga erat kaitannya dengan upaya untuk meloloskan Murtala Ilyas, salah satu gembong Narkoba yang saat ini sedang menjalani hukuman di lapas tersebut.

Namun, hal itu dibantah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh Agus Toib.

“Kejadian ini tidak ada hubungan dengan upaya meloloskan Muratala Ilyas, ini kejadian spontan. Dia tidak kabur, dia masih ada dan tadi pagi telah dibawa ke Jakarta oleh pihak BNN,” kata Agus.

Namun dirinya tidak mampu menjelaskan dasar hukum Murtala Ilyas dibawa ke Jakarta oleh pihak BNN.

Murtala Ilyas divonis oleh Pengadilan Negeri Bireun dengan hukuman 19 tahun penjara dan denda 5 miliar pada tanggal 28 Juli 2017 karena terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari hasil kejahatan narkoba.

Baca juga:

Tidak terima putusan hakim Pengadilan Negeri Bireun, Murtala melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh. Putusan banding menjatuhkan tiga tahun hukuman penjara terhadap Murtala. Selanjutnya, kembali melakukan kasasi pada tingkat Mahkamah Agung dan putusan Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman sembilan tahun penjara.

Sebelumnya, sejak Putusan Pengadilan Negeri Bireun sampai dengan putusan pada tingkat kasasi, Murtala ditahan di Rumah Tahanan Bireun. Karena diduga sering keluar-masuk penjara selama menjalani hukuman, pada 7 juli 2018 Murtala dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Banda Aceh, di Lambaro. []

Reporter: Syahrul

Komentar

Loading...