Penutupan Pantai Mantak Tari

Diterpa Tarif Parkir Dulu, Maksiat Kemudian

·
Diterpa Tarif Parkir Dulu, Maksiat Kemudian
Huruf Pantai Mantak Tari yang tak lagi utuh. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Punca penutupan Pantai Mantak Tari disebut-sebut dipicu oleh isu tarif parkir yang dikutip warga sekitar. Muspika Simpang Tiga lantas meminta warga tak lagi mengutip biaya parkir. Isu maksiat muncul setelahnya.

sinarpidie.co--Enam perempuan dengan mengendarai sepeda motor menuju ke Pantai Mantak Tari, Rabu, 7 Agustus 2019, sekitar pukul 16.00 WIB. Sesampai di Pantai Mantak Tari, enam perempuan tersebut menemui setiap pengunjung satu per satu dan mengatakan bahwa Pantai Mantak Tari sudah ditutup.

Para pengunjung pantai itu lantas angkat kaki setelah kedatangan sekelompok perempuan tersebut.

“Pantai sudah ditutup Bang. Tidak boleh berkunjung ke sini lagi. Gara-gara pengunjung datang ke pantai ini, rezeki nelayan di sini menjadi berkurang, hanya beberapa orang penjual saja yang untung,” kata salah seorang perempuan dari kelompok tersebut, yang enggan menyebutkan identitasnya.

Sudah hampir empat pekan, setiap harinya, sekelompok warga yang didominasi perempuan mengusir para pengunjung yang datang ke Pantai Mantak Tari, di Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Alasan para perempuan tersebut: pengunjung yang datang ke pantai tersebut dapat mendatangkan bala berupa angin kencang dan mengurangi rezeki para nelayan setempat.

Lokasi pantai tersebut terletak di Gampong Kupula, Lampoh Awee dan Mantak Raya, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Salah seorang pedagang di Pantai Mantak Tari, Adnan, 60 tahun, mengatakan, sedikitnya terdapat sekitar 40 pedagang di Pantai Mantak Tari. Namun, kata dia, semenjak ditutup, para pedagang di sana kehilangan pekerjaan mereka. Mereka berharap, pemerintah mencari solusi terhadap masalah ini.

“Saya berjualan sudah 10 tahun lebih di sini. Semenjak saya berjualan tidak ada kasus ditemukan orang berbuat maksiat di lokasi pantai. Coba Anda lihat bentuk kedai-kedai di Mantak Tari, kan tidak tertutup. Semua kedai terbuka, tidak tersekat khusus. Jadi, pengujung pun tidak mungkin berbuat maksiat,” kata Adnan.

Pedagang lainnya, Yusnidar, juga mengutarakan hal yang sama. Para pedagang memang tidak dilarang membuka kedai di Pantai Mantak Mari, namun sekelompok orang melarang pengujung datang ke pantai tersebut. “Itu sama dengan menutup paksa usaha kami,” katanya.

Imum Mukim Peukan, Kecamatan Simpang Tiga, Zulfadli saat diminta tanggapannya oleh sinarpidie.co, Rabu 7 Agustus 2019 mengatakan, persoalan Mantak Tari bermula saat para pengunjung semakin ramai.

Suasana Pantai Mantak Tari saat ditutup. Foto direkam, Rabu, 7 Agustus 2019. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Lalu ada komplain dari pengunjung tentang tarif parkir masuk ke lokasi tersebut yang dikutip oleh warga setempat. Merespon hal tersebut, pihak Muspika mencari solusi dan meminta warga melalui keuchik untuk tidak lagi mengambil uang parkir masuk. Setelah itu, baru muncul sekelompok perempuan datang beramai-ramai ke Mantak Tari. Mereka mengusir setiap pengunjung yang datang sampai sekarang,” katanya. “Saya hanya berpikir, dengan banyaknya pengunjung ke Pantai Mantak Tari, para warga setempat bisa memanfaatkannya untuk mencari rezeki. Soal tatakrama dan nilai-nilai Islam itu tetap kita jaga bersama melalui kesepakatan dan aturan-aturan yang kita sepakati.”

Sebagai Imum Mukim Peukan, dia mengharapkan, Pemkab Pidie menyelesaikan masalah di Pantai Mantak Tari agar tidak terjadi konflik sesama warga dan bisa sama-sama bermanfaat bagi masyarakat kecil yang ingin mencari rezeki di lokasi itu.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pidie Apriadi SSos mengatakan, sebuah regulasi tentang pengelolaan tempat wisata di Pidie baik itu qanun atau Perbub di Pidie dipandang mendesak, agar tempat wisata di Pidie bisa dikelola dengan baik tanpa ada masalah-masalah yang timbul sesama warga di kemudian hari.

Baca juga:

“Untuk pengembangan tempat wisata prioritas di Pidie pada tahun 2020, yang kita tangani itu dua items, yakni, Mantak Tari dan di Geunie. Soal jumlah anggarannya itu belum tahu kita,” kata dia, Rabu, 7 Agustus 2019.

Wakil Bupati Pidie, Fadlullah TM Daud saat ditanyai sinarpidie.co terkait penutupan Pantai Mantak Tari, Rabu, 7 Agustus 2019 mengatakan, pihaknya akan mengajak semua pihak terkait, termasuk MPU Pidie, untuk duduk bersama membahas persoalan Pantai Mantak Tari. Di samping itu, sebutnya, regulasi melalui Perbup atau qanun untuk pengelolaan tempat wisata di Pidie juga sedang diwacanakan.

“Kita memahami masalah di sana, seperti warga tidak mau ada maksiat di situ, makanya kita bangun musala, toilet dan tempat lainnya agar pengunjung nyaman ke sana. Pokoknya semua aturan syariat itu kita ikuti,” katanya.

Pemkab Pidie, sebutnya, akan mengambil langkah persuasif dengan memberi pemahaman yang memadai kepada warga.

“Tempat wisata adalah sumber ekonomi bagi masyarakat. Bahkan, masyarakat sekitar juga harus terlibat langsung dalam pengelolaan wisata Pantai Mantak Tari,” sebutnya. []

Komentar

Loading...