Iklan Pemkab Pidie

Dispenser yang Menyulut Api Kerusuhan di Rutan Sigli

·
Dispenser yang Menyulut Api Kerusuhan di Rutan Sigli
Kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Sigli. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Sigli marah karena 18 dispenser milik mereka diambil oleh petugas koperasi. Oleh petugas tersebut, air dari 18 dispenser itu dijual kembali pada para napi dan tahanan.

sinarpidie.co—Dari Jembatan Benteng, Kota Sigli, asap mengepul. Agak jauh ke depan, sejumlah warga menyaksikan kebakaran Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Sigli, dibakar oleh narapidana dan tahanan sekira pukul 11.30 WIB, Senin, 3 Juni 2019.

Lebih jauh lagi ke depan, sejumlah polisi berjaga-jaga di depan rutan itu dan satu unit mobil pemadam kebakaran mencoba memadamkan api yang semakin membesar.

Salah seorang petugas rutan tersebut, T Andri Saputra mengatakan, narapidana dan tahanan di rutan tersebut marah karena 18 dispenser milik mereka diambil oleh petugas koperasi. Oleh petugas tersebut, air dari 18 dispenser itu dijual kembali pada para Napi dan tahanan.

“Menurut saya, kerusuhan yang berkibat dibakarnya rutan tersebut ini bukan modus untuk melarikan diri. Namun, mereka hanya kesal, karena dispenser yang mereka pakai diambil oleh petugas koperasi, “ kata Andri Saputra.

Polisi tampak berjaga-jaga di sekeliling rutan untuk memastikan napi dan tahanan tidak ada yang kabur. Sesekali polisi juga melepaskan tembakan gas air mata ke dalam Rutan. Para napi membalas gas air mata dengan melempar batu dan botol kaca ke luar rutan.

Salah seorang polisi, melalui pengeras suara, berujar, “Kepada saudara-saudara napi agar jangan melempar batu ke arah petugas dan jangan anarkis serta jangan ada narapidana yang mencoba untuk lari dari penjara.”

Saat-saat itu, sejumlah pengunjung masih berada di dalam rutan, termasuk Kepala Rutan Kelas II B Sigli, Mathrios Zulhidayat Hutasoit. Napi dan tahanan di rutan tersebut berjumlah 466 orang.

Asap masih mengepul dan api belum berhasil dipadamkan. Sebagian atap di depan rutan tersebut sudah hangus terbakar.

Para napi masih terus melempari polisi yang berjaga-berjaga di sana dengan benda apapun yang ada di sekitar mereka, termasuk dengan batu bata. Mereka bertelanjang dada dan menutupi wajah mereka bak topeng ninja. Beberapa di antaranya, usai melempar batu, mengacungkan jari-jari tangan, seolah memegang pistol, seraya berkata, “Kutembak nanti! Ha-ha!”

Dengan seringai mengejek mereka juga mengacungkan jempol. “Aman, kami tidak akan lari,” kata salah seorang dari mereka.

Seorang napi lainnya naik atas ruang penjaga. Ia menyulut rokok lalu berteriak,”Kami tidak berencana lari, hanya saja, kami kesal, sebab, dispenser yang sering kami pakai diambil petugas.”

Ada jeda sesaat sebelum ia melanjutkan berkata, “Jangan tembak gas air mata lagi ke dalam. Ada Mathrios Kepala Rutan di dalam. Jangan sampai dia mati nanti.”

Puluhan polisi berseragam lengkap  mencoba masuk ke dalam rutan. Namun, setelah beberapa kali mencoba, mereka gagal menembus ke dalam rutan, karena para napi menghadang mereka di pintu masuk. 

Polisi mengeluarkan seorang Napi yang terluka. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Beberapa saat kemudian, salah seorang napi meminta dirinya dikeluarkan dari rutan tersebut karena ia sudah lemas dan tangannya terluka, terkena serpihan kaca.

Polisi mengeluarkannya dengan penjagaan ketat. Ia lalu dinaikkan ke dalam mobil dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Tgk Chik Di Tiro Sigli.

Sejurus kemudian, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Aceh, Meurah Budiman, sampai ke lokasi. Ia dapat masuk ke dalam tanpa hambatan.

Saat keluar, dalam wawancara dengan wartawan dia mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kericuhan tersebut dan tidak ada napi yang kabur.

“Motif kebakaran itu karena emosi para napi yang tidak bisa dikendalikan, diawali dengan tindakan pegawai koperasi yang mengutip semua dispenser napi yang dibagikan oleh kepala rutan sekitar lima bulan lalu,” kata dia.

Proses pemadaman api berlangsung selama 5 jam lebih. Armada pemadam kebakaran ditambahkan menjadi tiga unit. Selain itu, satu unit lagi mobil water canon Polres Pidie juga ikut memadamkan api.

Kerusuhan dan api padam sampai di sini.  []

Komentar

Loading...