Pidie telah Terapkan Pendidikan Inklusi sejak 2010

BPS Pidie Catat 96,64 Persen Penduduk Kelompok Usia 15 Tahun ke Atas Melek Huruf

·
BPS Pidie Catat 96,64 Persen Penduduk Kelompok Usia 15 Tahun ke Atas Melek Huruf
Ruang kelas SDN Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, yang sedang direhab dengan menggunakan dana DAK Fisik Pendidikan 2018. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--Data Badan Pusat Statistik (BPS) Pidie, dalam terbitannya Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pidie 2018 menunjukkan, terdapat 95,74 persen penduduk Pidie kelompok usia 15 tahun ke atas dapat membaca huruf latin dan 96,64 persen dikategorikan melek huruf.

“Dapat membaca dan menulis artinya dapat membaca dan menulis katakata/kalimat sederhana dalam huruf latin/alfabet (a-z), huruf arab/hijaiyah, atau huruf lainnya. Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk kelompok umur tertentu yang dapat membaca dan menulis,” demikian dikutip dari Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pidie 2018, yang dirilis pada Desember 2018.

Selanjutnya, angka partisipasi sekolah (APS) formal dan nonformal penduduk berumur 7-18 tahun menurut karakteristik dan kelompok umur: kelompok usia 7-12 tahun, baik perempuan maupun lelaki, mengakses 100 persen layanan pendidikan. Lalu, angka partisipasi sekolah perempuan kelompok usia 13-15 tahun 100 persen, sedangkan lelaki 97,36 persen. Selanjutnya, angka partisipasi sekolah perempuan kelompok usia 16-18 tahun, 87, 70 persen, sedangkan lelaki 84, 54 persen.

Sumber infografis Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pidie 2018.

Kepala BPS Pidie, Munir Ilyas SE, dalam pengantarnya pada terbitan tersebut menyebutkan, data yang disajikan pada publikasi ini merupakan kondisi Maret 2018.

Adapun metodelogi pengumpulan data dilakukan dengan dua kuesioner: kuesioner Kor dan kuesioner Konsumsi dan Pengeluaran. 

Pengumpulan data dari rumah tangga terpilih dilakukan melalui wawancara tatap muka antara pencacah dengan responden. Untuk pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner yang ditujukan kepada individu diusahakan agar individu yang bersangkutan memberikan jawaban secara langsung kepada pencacah.

Pendidikan inklusi

Pendidikan inklusi sudah diterapkan di Pidie sejak 2010. Di tahun itu, beberapa sekolah kemudian menjadi model sekolah inklusi: SD Negeri 1 Peukan Pidie, SD Negeri 3 Beureunuen, SD Jurong Mesjid Kembang Tanjong, SD Negeri Muara Tiga, SMP Negeri 2 Sigli, SMP Negeri Tangse, dan SD Negeri Tiro.

Kini, sekolah inklusi sudah di-SK-an sebanyak dua sekolah di masing-masing 23 kecamatan di Pidie.

Dasar hukum menerapkan sekolah inklusi, salah satunya, merujuk Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau bakat Istimewa.

“Diamanatkan dalam Permendiknas itu paling sedikit satu kecamatan, satu sekolah inklusi. Sekolah inklusi itu bukan sekolah yang dibangun baru, namun anak yang normal bisa berbaur dengan anak yang berkebutuhan khusus di sekolah konvensional,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Pidie Drs Riswandi pada sinarpidie.co, Jumat, 7 Desember 2018 lalu. “Ini soal bagaimana anak-anak yang berkebutuhan khusus di Laweung, Padang Tiji, dan kecamatan-kecamatan lainnya di Pidie, yang tergolong berasal dari keluarga kurang mampu, dapat mengakses pendidikan. Dan, anak-anak yang normal bisa menyemangati, menerima, dan berbaur dengan kawan-kawannya yang berkebutuhan khusus.”

Muhammad Alfifuddin, 10 tahun, siswa kelas empat di SD Negeri 1 Peukan Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Fatma Rahmiati SPd, salah seorang guru inklusi di Pidie, pada Sabtu, 8 Desember 2018 lalu menyebutkan, anak berkebutuhan khusus umumnya merupakan anak yang memiliki hambatan intelektual dan lambat belajar: disleksia, disgrafia, dan diskalkulia.

“Mereka kita perlakukan sama seperti anak-anak yang lain. Kita identifikasi dulu kekurangan si anak di mana. Kemudian, mereka diberikan materi ajar yang telah dimodifikasi dan difasilitasi jam tambahan. Anak-anak ini tidak boleh tinggal kelas meskipun KKM-nya (Kriteria Ketuntasan Minimal-red) sama. Tidak boleh ada perlakuan yang diskriminatif kepada anak tersebut dalam kelas. Kita mendorong, anak yang agak cerdas untuk membantu teman-temannya yang berkebutuhan khusus tersebut belajar,” kata dia, menjelaskan. []

Komentar

Loading...