Laporan mendalam

Bangkai Bangunan PPI Panteraja

·
Bangkai Bangunan PPI Panteraja
Kapal-kapal nelayan di Kuala Panteraja. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co— Siluet membelah Kuala Lhok Panteraja Jumat, 4 Januari 2018 sore kala 40 kapal 7 GT bersandar dengan tali-temali yang melingkari tambatan kapal atau patok yang sudah berkarat.

Di salah satu sudut di sana, terpal plastik biru diikatkan pada empat buluh bambu, sebagai tempat berteduh. Di bawah terpal itu, tiga nelayan sedang menjahit pukat yang koyak.

Sulaiman Abdullah, pria kelahiran 1965, ada di antara nelayan yang sedang menjahit pukat di sana.

“Hanya saat ada air raya, musim hujan, kami merapat ke sini. Kalau ikan tidak diturunkan di sini,” kata dia.

Ia mengarahkan jari telunjuknya ke salah satu bangunan yang sudah retak dan rusak sana-sini.

“Itu rencananya tempat penampungan ikan. Namun, sebelum gempa pun bangunan itu tidak berfungsi,” katanya lagi.

Pekerjaan Penyusunan Survey Investigasi Design (SID) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Panteraja, Pidie Jaya, pada 2014 silam, memakan anggaran sebesar Rp 800 juta.

Lalu, pengaspalan jalan kompleks PPI tersebut menghabiskan anggaran Rp 650 juta plus pembangunan drainase senilai Rp 157 juta. Penimbunan senilai Rp 195 juta dan pembangunan turap PPI senilai Rp 2,5 milliar.

Bangunan di PPI Panteraja yang tidak berfungsi dan dipenuhi belukar. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Pada 2015, juga ada kegiatan pengerukan kolam dermaga PPI yang kini hanya meninggalkan lubang mengaga. Anggaran yang digelontorkan untuk mengeruk kolam di sana Rp 900 juta. Pada 2016, terdapat kegiatan belanja jasa penelitian penyusunan AMDAL senilai Rp 800 juta, sedangkan belanja jasa penelitian penyusunan KA-ANDAL senilai Rp 450 juta.

Papan informasi pengerukan kolam. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Ceceran-ceceran kegiatan tersebut merupakan sebagian kecil dari rencana Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen PBT KKP) yang disebut-sebut hendak mengucurkan dana sebesar Rp 300 milliar untuk pembangunan PPI di Kuala Panteraja secara bertahap sejak 2015 hingga 2019. Namun, kendati telah memasuki Januari 2019, tak ada tanda-tanda PPI itu akan dilanjutkan pembangunannya alih-alih selesai sesuai dengan apa yang semula diwacanakan. Lokasinya: ada di atas lahan di Gampong Mesjid, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya. 

Yang terlihat kentara hanyalah alang-alang, rerumputan liar, dan sejumlah bangunan kosong yang terbengkalai. Bangunan-bangunan yang terlantar, antara lain, gedung pengolahan ikan, kios permanen, pasar ikan, rumah dan kantor petugas PPI, dan balai nelayan. Tempat penampungan air bersih menjulang tinggi, berkarat sana-sini dan juga tak difungsikan.

Bangunan rumah petugas PPI Panteraja. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

“Kalau kita lihat gambar, bagus sekali TPI ini. Di gambar saja, kenyataannya tidak,” kata Sulaiman. "Memang ada terkena gempa, tapi banyak gedung bagus tapi tak terawat. Sejak sebelum gempa 7 Desember 2016 pun bangunan ini tidak difungsikan."

Saat ini, kata Sulaiman, sesuatu yang genting yang nelayan inginkan adalah pengerukkan kuala. “Kalau tidak dikeruk kuala juga tidak bisa, karena kapal-kapal besar tidak bisa masuk. Tanggul-tanggul di sekitar kuala juga harus diikat dengan batu gunung,” sebutnya.

Kata dia, sekali melaut, pemilik kapal merogoh Rp 500 ribu untuk bensin 60 liter dan makanan 15 awak kapal dalam satu kapal. “Melaut pulang-pergi dalam sehari. Hasil tangkapan per hari sekitar lima fiber atau sekira satu ton,” kata Sulaiman.

Abu Laot atau Panglima Laot Kuala Lhok Panteraja Yusri Yusuf mengatakan, tidak berfungsinya PPI tersebut karena masih banyak bangunan yang rencananya akan dibangun belum terealisasi.

“Hingga saat ini, ikan tangkapan nelayan diturunkan di sekitar sungai di Gampong Keude Panteraja,” kata dia. “Tidak ada bangunan di sana.”

Yusri Yusuf membawahi empat gampong di Kecamatan Panteraja: Gampong Keude, Gampong Peuradeu, Gampong Mesjid, dan Gampong Reudeup.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pidie Jaya Ir Kamaluddin mengatakan, anggaran untuk lanjutan pekerjaan fisik PPI Panteraja belum turun hingga 2019 ini.

Bangunan yang terbengkalai di PPI Panteraja. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

“Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah menyiapkan semua dokumen, termasuk studi kelayakan pembangunan, AMDAL, SID, dan DED. Rencananya, luas lahannya 15 hektare walau yang kini tersedia baru dua hektare. Kita masukkan melalui dana rehab-rekon gempa, juga belum turun hingga kini,” kata dia, via telepon selular, Jumat, 4 Januari 2019. []

Reporter: Wahyu Puasana dan Firdaus

Komentar

Loading...