Iklan Pemkab Pidie

Sejarah

Bangau Putih di Keude Njong

·
Bangau Putih di Keude Njong
Tempat kapal tongkang pernah merapat di Kuala Njong. (sinarpidie.co/Firdaus).

Keturunan kita ada di kuala, tempat segala asal bertemu.

sinarpidie.coBANGAU-BANGAU putih itu turun ke tanah yang berlumpur. Dari kejauhan, mereka terlihat menumpuk di salah satu sudut tambak ikan seluas setengah Lapangan Sepakbola Meureudu. Di antara dedaun pohon-pohon bakau yang tumbuh di pematang tambak tersebut, bangau-bangau putih lainnya mengepakkan sayap secara bergerombol, Rabu, 16 Januari 2019 sore.

Di kawasan tambak ikan di Gampong Cut Njong yang terhampar luas sepanjang mata memandang, puing-puing sebuah bandar yang kosmopolit berceceran di beberapa sudut.

Meski belum ada sebuah kesimpulan yang ilmiah dari para arkeolog, sekurang-kurangnya pecahan keramik, botol minuman kaca, uang logam hijau, galangan kapal tongkang, dan artefak-artefak lainnya yang masih bisa ditemukan di beberapa sudut pematang tambak di sana, sedikit banyaknya bisa mewakili sebuah bandar yang kosmopolit pada suatu masa tertentu.

Benda-benda yang ditemukan di bekas Kuala Njong atau Keude Njong. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

“Itu keude atau bandar zaman dulu. Keude zaman atau keude asal, di antaranya Lam Bada, Krueng Raya, Lam Panah, Laweung, Sigli, Blang Anoe, Gigieng Simpang Tiga, Ie Leubeu Kembang Tanjong, Keude Njong, Paru,” kata Sulaiman Mahmud, warga Gampong Cut Njong, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. “Keturunan kita ada di kuala, tempat segala asal bertemu.”

Kala itu, kapal-kapal tongkang yang besar, kata Sulaiman, masuk melalui Kuala Pusong atau Kuala Tari.

Puing galangan kapal. (sinarpidie.co/Firdaus).

Cerita itu ia dengar dari penuturan kakeknya, Amat Uloe.

Amat Uloe, yang berasal dari Gumuroh, pada suatu masa saat Keude Njong belum binasa, bekerja mengangkut air pada sebuah sumur yang disebut-sebut terbuat dari tanah yang dibawa dari Singapura ke Keude Njong. Setiap pagi, air-air yang telah ditimba itu dibawanya ke muka-muka kedai di sana.

“Dua tali (mata uang di sana-red) satu pikul. Pagi angkut air, sore ambil uang di tiap kedai. Saya mana tahu cerita itu kalau tidak diceritakan kakek saya dulu,” kata Sulaiman lagi.

Benda yang menyerupai uang logam yang ditemukan di bekas Keude Njong. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Saat sudah diduduki oleh Belanda, Keude Njong tersebut dibakar oleh pejuang Aceh.

“Semua kedai dibakar oleh kaum muslimin. Kala itu, pedagang dan warga yang mendiami Keude Njong lari ke Sawang (Gampong Sawang Pidie Jaya-red), ada yang lari dan menetap di Gampong Kleng di Meureudu, ada yang ke Gigieng Simpang Tiga,” tutur Sulaiman.

Motif keramik yang ditemukan di bekas Keude Njong. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Pria yang mendaku kelahiran 25 Agustus 1935, itu, sehari-hari bekerja sebagai peternak kambing.

Sulaiman Mahmud, warga Gampong Cut Njong, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Firdaus).

Jejak Keude Njong dalam Daftar Pustaka

THE ATJEHNESE divide Atjeh into four regions— Atjeh proper, Pidie, the East (Timo), and the West (Barat). (Orang-orang Aceh membagi Aceh dalam empat wilayah—Aceh Besar, Pidie, Timur, dan Barat),” tulis James Siegel dalam buku The Rope of God.

Pidie, tulis James Siegel, merupakan sebuah kerajaan yang merdeka sebelum Sultan Aceh menaklukkan kerajaan tersebut pada abad ke-16.

Sejak takluk, Pidie menjadi beberapa Nangroe atau Negeri di bawah Kerajaan Aceh. Kepala nanggroe disebut uleebalang, yang menerima kekuasaan langsung dari Sultan Aceh

Pidie was the greatest rice-producing area of Atjeh. Here, in a broad plain ringed by mountains and intersected by three rivers flowing into the Strait of Malacca, is a very old irrigation system. (Pidie adalah daerah penghasil beras paling besar di Aceh. Di sini, di dataran luas yang dikelilingi pegunungan dan disilang tiga sungai yang bermuara ke Selat Malaka, sistem irigasi persawahan yang paling tua berada),” tulis James Siegel dalam buku The Rope of God.

HM Zainuddin, dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara jilid I, menuliskan, Kedjruen Aron, Kedjruen Truseb, Bentara Ndjong, Bentara Putu dan Bentara Gampong Asan, dipimpin oleh Mentroe yang mendapat gelar Laksamana: Laksamana Poleem.

“Laksamana Polem ini mengawinkan anaknja jang bernama T Muhammad Hussain dengan anak T. Bentara Ndjong. Meninggal T.Bentara Ndjong dan tidak ada anaknja jang laki, maka T. Muhammad Hussain diangkat mendjadi Wakilnja, kemudian lagi T. Muhammad Hussain ini kawin dengan anak T. Bentara Gampong Asan dan karena itu negeri Gampong Asan djatuh dalam pengaruhnja, setelah itu ia naik Hadji ke Mekkah.

Sepulangnja dari Mekkah, Laksamana Polem meninggal dan T. Hadji Muhammad Hussain diangkat mendjadi Laksamana dengan gelar Laksamana Tuan Hadji Muhammad Hussain. Laksamana Hussain ini amat giat membangun perkebunan lada, tatkala itu bandar Pulau Pinang baru terbuka oleh Raffles dan ia sendiri pergi ke sana sampai ke Siam.

Anakanja itu disuruhnja mengatur membuka negeri. T. Rajeu' Main disuruhnja mendjaga pantai laut sepandjang Blang Gapu, Ie Leubeue ke Kuala Ndjong. Ia memerintah disitu dan didalam hutan dilepaskan sapi liar dan dibuka pula satu neuheun (kolam ikan) jang besar buat pelihara ikan muloh (bandeng), serta menuntun nelajan2 pukat dan djaring.

Anaknja T. Sjahbuddin disuruhnja tinggal di Pante Radja membuka perkebunan lada dan dikawinkan dengan anak Kedjruen Bratjan (Pangwa) dan seorang lagi anaknja jang perempuan dikawinkan dengan Kedjruen Tjhi' Samalanga, karena itu negeri Pangwa pun dibawah pengaruhnja. Anaknja jang tua T. Mahmud membantu memerintah negeri dan mendjaga Kuala dan Keude Ndjong berkedudukan di Kota Sawang,” tulis HM Zainuddin.

Pada abad ke-19, para uleebalang mengendalikan barang masuk dan barang keluar dari pelabuhan-pelabuhan di wilayah kekuasaan mereka.

Baca juga:

Komoditi ekspor Aceh yang paling dikenal adalah lada. Selain itu, pinang juga diekspor ke Pulau Penang, Malaysia, yang kemudian dikirimkan ke Cina, Burma, Malabar, Coromandel Selandia Baru, dan ke Bengal. Sebaliknya, Aceh mengimpor barang-barang seperti kain dengan kualitas terbaik dan mahal, hasil cetakan pabrik di pelbagai penjuru dunia, sesuatu yang sebanding bagi satu komunitas masyarakat yang mampu mengelola apa yang dikeluarkan dari perut bumi Aceh. Di samping itu, beberapa barang impor lainnya: jarum, cangkul, wajan, pisau, benang sutra, bubuk mesiu, permen gula, paku besi, dan sejumlah barang pabrikan lainnya.

SENJA mulai turun. Bangau-bangau putih tak lagi terlihat di tempat semula, di tanah di mana Keude Njong terkubur. []

Komentar

Loading...