Bahan Baku Tanah Urug Proyek Penimbunan 10 M di Pidie Diduga Ilegal

·
Bahan Baku Tanah Urug Proyek Penimbunan 10 M di Pidie Diduga Ilegal
Penimbunan arena MTQ seluas enam hektare dengan kedalaman 1, 60 meter di samping Kantor Mahkamah Syariah, di jalan lingkar Sigli, Pidie. Material tanah urug diambil di Gampong Paloh Jeurat, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, di mana izin OP dipegang oleh Askari. Luas WIUP hanya 1, 4 hektare.Foto direkam pada 18 November 2018. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Bahan baku tanah urug untuk penimbunan enam hektare lahan dengan kedalaman 1, 60 meter diambil dari pemegang WIUP  1, 4 hektare atas nama Askari di Gampong Paloh Jeurat Padang Tiji. Lalu, penimbunan lokasi pameran MTQ Aceh ke-34 di Pidie di belakang Kantor Baitul Mal diambil dari Yusnardi yang, berdasarkan data yang dihimpun sinarpidie.co, belum mengantongi izin OP tanah urug di Pidie.

sinarpidie.co—Proyek penimbunan untuk Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Aceh 2019 mendatang, di mana Pidie menjadi tuan rumah, ditengarai menyalahi UU No 4 tahun 2009 tentang per­tambangan mineral dan batubara, PP No 22 tahun 2010 tentang Wilayah Per­tam­bangan, PP No 23 tahun 2010 tentang Pe­laksanaan Kegiatan Usa­ha Pertam­ba­ngan Mineral dan Batubara, PP No 55 ten­tang Pembinaan dan Pe­nga­­was­an Pe­nye­lenggaraan Pe­nge­lo­laan Usaha Pertam­ba­ngan Mineral dan Ba­tubara, dan Permen ESDM No 34 tahun 2017 tentang Per­izinan di bidang Pertam­bangan Mineral dan Batubara.

Proyek yang menyerap anggaran nyaris Rp 10 milliar untuk dua lokasi penimbunan, itu, mengambil bahan baku berupa tanah urug di lokasi yang ditengarai belum mengantongi izin Wilayah Usaha Pertambangan dan diambil dari perseorangan yang belum mengantongi izin Operasi Produksi (OP) tanah urug di Gampong Grong-Grong, Kecamatan Grong-Grong, Pidie; dan diduga mengambil bahan baku di luar Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) di Gampong Paloh Jeurat, Kecamatan Padang Tiji, Pidie.

Lokasi WUP tanah urug dengan luas izin 1, 4 hektare di Gampong Paloh Jeurat Kecamatan Padang Tiji atas nama Askari. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Untuk proyek penimbunan arena MTQ seluas enam hektare dengan kedalaman 1, 60 meter di samping Kantor Mahkamah Syariah, di jalan lingkar Sigli, Pidie,  material tanah urug diambil di Gampong Paloh Jeurat, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, di mana izin OP dipegang oleh Askari. Luas WIUP 1, 4 hektare.

“Penghitungannya, sistem pemetaan  Arcgis. Langsung keluar otomatis.  Penghitungan dengan kontur. Apabila melakukan kegiatan pertambangan di luar luas yang berizin itu sudah illegal. Pengawasan di kami. Tapi kami kewalahan karena tenaga yang kurang, karena Aceh begitu luas. Aturan yang mengharuskan kewenangan di provinsi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Mineral dan Batu Bara pada Dinas ESDM Aceh Said Faisal ST MT, Jumat, 16 November 2018 lalu di Banda Aceh.

Ihsan, 40 tahun, pengawas lapangan proyek penimbunan arena MTQ seluas enam hektare, itu, mengatakan, ada 20 armada truk yang dalam sehari-hari beroperasi.

“Sehari-hari truk-truk tersebut melakukan delapan atau sepuluh kali perjalanan untuk mengangkut tanah urug,” kata dia, pertengahan November 2018 lalu. "Kemudian untuk pengerjaan serak sertu itu luasnya 10 meter dan panjang 300 meter. Serak sertu itu hanya untuk jalan saja.”

Kasi Penataan Lingkungan pada Dinas Perkim Pidie, Teuku Epi Iswari, mengatakan kedalaman pekerjaan timbunan tersebut sekitar 1, 60 meter dan luas areal penimbunan ialah enam hektare.

“Realisasi pekerjaan penimpunan tersebut telah mencapai 85 persen. Insya Allah akan terkejar hingga 30 Desember 2018,” kata dia, Rabu, 12 Desember 2018. “Kontrak untuk timbunan 150 hari."

Di lokasi tersebut, ada tiga paket pekerjaan. Selain penimbunan, ada pekerjaan talud dan pembangunan panggung utama.

Panjang talud 600 meter dengan ketinggian 2,10 meter. Kontrak talud 90 hari. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Panjang talud 600 meter dengan ketinggian 2,10 meter. Kontrak talud 90 hari,” kata Epi lagi.

Penelusuran sinarpidie.co pada laman LPSE Pidie, lelang penimbunan arena MTQ ke-34 itu dibuka pada awal Agustus 2018. Lelang tersebut diikuti oleh 25 perusahaan. Dari 25 perusahaan tersebut, hanya PT. Bripona Jaya Abadi, PT.  Lamkapai Pratama Mandiri, dan PT. Verina Bangun Persada, yang mengajukan penawaran. Dari tiga perusahaan yang mengajukan penawaran, PT. Bripona Jaya Abadi sebenarnya mengajukan penawaran dengan harga terendah, yakni Rp 6.394.320.000. Sementara, PT. Lamkapai Pratama Mandiri mengajukan penawaran Rp 6.710.000.000. Namun, PT. Lamkapai Pratama Mandiri, yang beralamat di Dusun Balee Gampong Simpang Lhee, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, yang memenangkan proyek tersebut dengan nilai kontrak  Rp 6.709.999.000.

Selain itu, tanah urug untuk penimbunan lokasi pameran MTQ di belakang kantor Baitul Mal Pidie yang diambil di Gampong Grong-Grong, Kecamatan Grong-Grong, Pidie, diduga berasal dari supplier yang belum mengantongi izin OP.

“Atas nama Yusnardi,” kata Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Pidie Teuku Epi Iswari.

Lelang penimbunan untuk Lokasi Pameran MTQ ke-34 di belakang Kantor Baitul Mal Pidie, itu, diikuti oleh delapan perusahaan. Dan, hanya PT. Atlas Casamayor Global satu-satunya yang mengajukan penawaran. Dan tentu saja perusahaan ini yang memenangkan proyek tersebut. Nilai kontraknya: Rp 2.596.551.000.

Berdasarkan data yang dihimpun sinarpidie.co pada  Dinas ESDM Aceh per November 2018, Yusnardi bukanlah pemegang izin OP tanah urug di Pidie.

Pemegang izin OP tanah urug di Pidie per November 2018 ialah Askari, Sabarati, Budiman H Syamaun, dan H Teuku Soelaiman. []

Reporter: Diky Zulkarnen, Candra Saymima, dan Firdaus

Komentar

Loading...