Sejarah

[Bagian IV-Tamat] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda

·
[Bagian IV-Tamat] Menziarahi Makam Sumbu Perang Aceh-Belanda
Makam Teungku Abdullah bersama dengan beberapa makam anggota keluarganya. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co--“BAGI kami, menjaga makam ini, adalah bagian dari 'peutimang agama Allah', sebagaimana perjuangan garis keturunan Teungku Chik di Tiro, yang dulu berjuang dengan tidak memikirkan harta. Berjuang di jalan Allah. Perang Fisabilillah,” ujar Zainal Abidin tatkala diwawancarai sinarpidie.co untuk kedua kalinya, Senin 14 Agustus 2017, di kediamannya, masih di sekitar kompleks pemakaman Teungku Abdullah di Tiro.

PULUHAN tahun silam, Teungku Chik di Tiro diberikan tugas yang berat: menunjukkan pada Pemerintah Hindia-Belanda dan dunia bahwa Aceh masih berdaulat meskipun Sultan Aceh, Sultan Mahmudsyah telah meninggal dunia dan sang putera mahkota, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah masih belia. Teungku Chik di Tiro ditunjuk sebagai Wali Nanggroe sampai Sultan Aceh berikutnya naik tahta.

“Pemerintahan sipil Belanda sudah berdjalan dengan aman. Radja serta rombongannja sudah ke Kemala Dalam bagian Pidie. Panglima-panglima jang menjingkir dari Atjeh Besar ada jang menudju ke Gajo dan terus berumah tangga disana. Ada jang ke Samalanga, ke Pase. Simpang Ulim, Idi dan Tamiang. Djalan jang ditempoh selamanja bagian udik, dekat hutan, karena bila djedjaknja tertjium oleh kaki tangan kompeni, dapat menjingkir kedalam hutan dengan segera,” tulis Ismail Jakub dalam bukunya yang berjudul Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

Penunjukkan Teungku Chik di Tiro sebagai Wali Nanggroe bukan tanpa cemoohan dan bukannya berjalan dengan mulus.

“…untuk apa Tengku Sjech Saman ke Atjeh Besar. Kalau untuk berperang, ia bukan keturunan panglima. Ia hanja seorang hadji dan ulama. Walaupun misalnja pandai ia memimpin perang, mana sendjatanja dan belandja perang. Akan berperang dengan rentjong dan pedang, bukan masanja lagi. Musuh memakai senapan dan meriam besar, Sjech Saman mempergunakan parang. Itu artinja membunuh diri, bagai orang telah bosan hidup,” begitu khalayak berpikir saat itu, sebagaimana dikutip dari buku Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya (1960).

Tak hanya cemoohan di kalangan masyarakat biasa, elite politik Kerajaan Aceh saat itu juga mencoba merintangi Teungku Chik di Tiro dalam menjalankan tugasnya.

“… dia mempunyai saingan-saingan seperti Teungku Kutakarang dan seorang keramat dari Samalanga yang bernama Habib Samalanga. Teungku Kutakarang jelas melakukan sindiran dalam peringatannya kepada Teungku Syekh Saman dengan ucapannya tentang mendirikan masjid-masjid di pedalaman. Walau demikian, adalah Tiro yang dalam tahap perang paling menonjol di depan,” tulis Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985).

Di lain sisi, Teungku Chik di Tiro bukanlah tipikal orang yang isi kepalanya umpama pepatah: katak di bawah tempurung. Ia belajar agama di Mekkah selepas mengaji di Aceh Besar. Di sana, ia tak semata-mata belajar agama, tapi juga memerhatikan perubahan-perubahan sosial di negara-negara lain di dunia.

Kepada sang paman yang sekaligus kawan berdiskusi, Tengku Tjhik Muhammad Amin Dajah Tjut, Teungku Chik di Tiro berujar, semangat zaman saat itu adalah semangat untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

“Pendengarannja tentang perdjuangan Said Djamaludin dari Afganistan dan ummat Islam dinegeri-negeri lain, dipersembahkannja semuanja kepada pamannja Tengku Tjhik Dajah Tjut,” tulis Ismail Jakub.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda nyaris putus asa menghadapi perlawanan secara gerilya yang dipimpin Teungku Chik di Tiro. Sang Teungku berhasil mengkonsolidasikan kekuatan di seluruh pelosok Aceh.

“Pada tahun 1889 dibentuk dua detasemen pengawalan mobil yang dapat dianggap sebagai pelopor korps yang sesudah dua puluh tahun akhirnya merupakan jawaban terhadap masalah-masalah militer yang dikemukakan oleh Perang Aceh. Korps ini adalah Korps Marsose Jalan Kaki,” tulis Paul Van’t Veer.


Namun, membunuh seorang Teungku Chik di Tiro ternyata dilakukan dengan cara yang paling pengecut, yakni dengan meracuninya. Adalah imbalan jabatan—menjadi Panglima Sagoe di Mukim XXII— yang mendorong seorang Aceh membunuh Teungku Chik di Tiro.

“Pengchianat itu mendjalankan usahanja, mentjari seorang perempuan tua diberinja djandji jang muluk-muluk supaja meratjuni Tengku Tjhik di Tiro. Perempuan tua itu bernama Njak Ubit, mengintip kepergian Tengku Tjhik di Tiro. Kebiasaan panglima perang sabil itu, selain dari memimpin pertempuran, pun djuga selalu mengundjungi benteng muslimin, melihat pertahanan dan 'keadaan barisan sabil. Maka waktu mudjahid besar itu mengundjungi benteng Tui Seulimeng bahagian sagi XXII, Njak Ubit datang membawa kenduri dalam satu hidangan makanan jang tertutup baik dengan sange daja (penutup hidangan makanan bikinan anak negeri). Ratjun itu dimasukkan kedalam daging burung berkik,” tulis Ismail Jakub.

Harapan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda: dengan wafatnya Teungku Chik di Tiro, maka perang akan berakhir.

Tapi, hal itu ternyata keliru.

Teungku Chik di Tiro, tulis Paul Van’t Veer, mempunyai lima orang putra, yang kesemuanya gugur di medan perang. Dengan kata lain, peperangan dilanjutkan oleh putra-putranya selepas Teungku Chik di Tiro wafat.

Anaknya yang pertama, Muhammad Amin “gugur pada tahun 1896 pada aksi-aksi besar pertama sesudah 'pengkhianatan' Teuku Umar. Empat orang putra lainnya dan dua orang cucu semuanya gugur dalam perlawanan antara tahun 1904 dan 1911”.

Masih dikisahkan oleh Paul Van’t Veer, Korps Marsose dibawah pimpinan Schmidt berhasil melakukan operasi mereka “berkat gabungan pekerjaan mata-mata, kerja pelacakan yang tidak bercela, dan daya tahan yang sempurna. Tidak seorang pun dari pemimpin-pemimpin pemberontakan itu yang menyerah hidup-hidup”.

Akhir tahun 1911, pasukan gerilya Aceh semakin melemah. Pimpinan pasukan pihak Kerajaan Aceh saat itu digambarkan Paul Van’t Veer sebagai “seorang pemuda yang karena kekeramatan datuknya juga menyandang gelar keagamaan teungku”.

Untuk menghindari kehilangan muka untuk kesekian kali, akibat kekejaman korps Marsose dalam melakukan operasi militer, yang acapkali dikecam dalam rapat-rapat parlemen di Belanda, Schmidt meminta bantuan orang-orang Aceh agar membujuknya untuk menyerah. Jika menyerah, sang pemuda keturunan keluarga Tiro itu takkan dijatuhi hukuman oleh Gubernur Hindia-Belanda.

“Tetapi 'lapor diri' bagi seorang teungku Tiro? Tidak mungkin. Pada bulan Desember kopral Ambon bernama Nussy, seorang pelacak jejak yang termasyhur yang biasanya jalan mendahului brigade, disergap oleh sekelompok Muslim yang terdiri dari tiga orang. Nussy menembak dua orang di antaranya. Seorang dari mereka ini ternyata adalah orang terakhir keluarga Tiro. Namanya Cit Ma'at. Usianya lima belas tahun. Dengan kematiannya, tiga generasi Teungku Tiro diabadikan dalam Perang Aceh,” begitu Paul Van’t Veer menuliskan.

KEMBALI ke Pante Garot dan Kemukiman Klibeut, pertengahan Agustus 2017. Di akhir wawancara, Zainal Abidin berujar, “Kalau kami katakan kami ini miskin, tidak bisa juga seperti itu, karena banyak lagi orang yang lebih miskin daripada kami. Sementara itu, kalau kami sebut diri kami ini sebagai orang kaya juga tidak bisa, karena hidup kami pun pas-pasan.” []

[Tamat]

Komentar

Loading...