Figur

[Bagian II-Selesai] Muhammad Iriawan, Laut, dan Partai Aceh

·
[Bagian II-Selesai] Muhammad Iriawan, Laut, dan Partai Aceh
Muhammad Iriawan. Sumber foto: Humas Protokol Pidie.

sinarpidie.co--PULUHAN TAHUN SILAM, Muhammad Iriawan kecil adalah seorang pembaca yang rakus. Latarbelakang bapaknya, Drs H Ismail Hasan, sebagai guru dan dosen bahasa Inggris, menjadikan rumahnya bukan hanya sebagai tempat berteduh bagi keluarga melainkan juga menjadi sebuah perpustakaan.

“Tatkala pulang dari luar daerah, selain mainan, Bapak selalu membawa pulang buku cerita sebagai oleh-oleh. Saat itu, kan, tidak ada televisi, jadi ya…, membaca sebagai hiburan,” kenang Muhammad Iriawan. “Sejak kecil saya sudah tahu bagaimana Majalah Times. Bapak berlangganan majalah itu. Makanya saya tahu tentang Perang Vietnam di zaman Presiden Nixon. Ya, walaupun saya tidak paham isinya, tapi ada gambar-gambar di majalah itu, kan, sudah bisa kita bayangkan, bagaimana saat Perang Vietnam dulu, sampai orang yang digantung, ditembak, anak-anak kecil yang telanjang, berlarian, dibom oleh tentara Amerika. Dan debat-debat Presiden Amerika, sejak kecil saya sudah tahu, bahwa ada debat dalam pemilihan presiden. Dari gambar-gambar majalah itu.”

Di rumah, sang Bapak, mula-mula, mengajari enam anaknya membaca melalui cerita bergambar.

Kebiasaannya membaca buku cerita bergambar dan melihat gambar-gambar di majalah ternyata berpengaruh pada bakat melukis Muhammad Iriawan kelak.  Sedari sekolah dasar, ia hobi coret-coret di kertas.

“Saya belajar melukis secara otodidak. Saya melukis huruf dan melukis wajah manusia. Untuk melukis pemandangan saya kurang bisa, mewarnai juga saya kurang bisa. Saya melukis karikatur, wajah manusia, dengan pensil karbonik. Cuma sudah lama saya tinggal itu,” tuturnya.

“Ketika sedang duduk-duduk dengan kawan, Bang Wan bisa lukis wajah kawan-kawan dalam bentuk karikatur,” tutur teman Muhammad Iriawan, Ilyas Ali. “Pada saat lebaran, dulu, Bang Wan membuat karikatur untuk kartu lebaran. Untuk lucu-lucu. Ini untuk Abua Kanto, Bang Safwan, misalnya.”

“Dia pernah menggambar gapura di Blang Paseh pada saat 17 Agustus. Dulu,” ujar salah seorang teman Muhammad Iriawan lainnya, Ir Bustami MS.

Saat sang bapak, Drs H Ismail Hasan, menjabat sebagai Kandep Pendidikan di Pidie, pada tahun 1982, keluarganya pindah dan tinggal di Gampong Blang Paseh. 

“Rumah di Lampineung, Banda Aceh, sudah kosong. Jadi, anak-anak muda Blang Paseh yang kuliah di Banda Aceh, tidur dan tinggal di sana. Tanpa sewa. Akhirnya, jadi rumah orang Blang Paseh. Siapa saja orang Blang Paseh yang pergi ke Banda Aceh, akan tidur di rumah,” kata Muhammad Iriawan.

Baca juga:

“Pada 1982, Bang Wan sudah kuliah di Unsyiah. Apa Da dan saya tinggal di Taman Siswa. Tapi saya dan Apa Da sering ke Lampineung di tempat Bang Wan. Bang Yus, Bang Helmi, Bang Ki, Bang Lah, Bang Taufik, semua mahasiswa asal Blang Paseh yang kuliah di Banda Aceh, pos-nya di rumah Bang Wan,” ungkap Ilyas Ali atau yang akrab disapa Apa Yeuk.

Apa Yeuk, Lulusan Akademi Keuangan dan Perbankan, itu, mengatakan, dua tahun kemudian, saat keluarga Muhammad Iriawan pindah ke Blang Asan, Muhammad Iriawan muda tetap “main” ke Blang Paseh. “Ketika sudah kerja di kantor Kandep Koperasi PPK pun, ia kerap nongkrong di Blang Paseh,” kata Ilyas Ali.

Sisi lain Muhammad Iriawan, kata Ilyas Ali, adalah “ia suka humor dan sering melucu”. []

Artikel ini pernah tayang di portalsatu.com. 

Komentar

Loading...