Klik Tambang

Sudut Pandang

[Bagian II] Aceh dan Narasi Universal  

·
[Bagian II] Aceh dan Narasi Universal  
Hugo Chavez (kanan) dan potret Simon Bolivar (kiri). Sumber foto: npr.org.

Novel itu berkisah tentang hari-hari terakhir Simon Bolivar, pemimpin revolusi bersenjata Negara-negara di  Amerika Selatan—Bolivia, Panama, Kolombia, Ekuador, Peru, dan Venezuela—dari penjajahan Spanyol pada abad ke-19.

Usai memerdekakan Negara-negara tersebut dari Spanyol, Simon tak dapat mengendalikan lagi apa yang telah dengan susah payah ia bangun. Keinginannya untuk menyatukan Negara-negara tersebut dalam Negara kesatuan terpusat tak dapat ia gapai karena perang sipil--perebutan kekuasaan di masing-masing wilayah yang telah bebas dari penjajahan Spanyol itu— pecah dan berdarah-darah, yang sebagaimana dituliskan Gabriel Garcia Marquez dalam novel Sang Jenderal dalam Labirinnya, “Enam belas juta orang Amerika yang baru mulai hidup merdeka harus berada di bawah kekuasaan tiran-tiran lokal”.

“Peru, yang didominasi aristrokrat reaksioner, tampaknya tidak bisa diselamatkan. Jenderal Andres de Santa Cruz memimpin Bolivia berdasarkan aturan yang dibuatnya sendiri. Venezuela, di bawah pimpinan Jenderal Jose Antonio yang angkuh, baru saja memproklamirkan otonominya. Jenderal Juan Jose Flores, yang memimpin wilayah Selatan, telah menyatukan Guayuquil dan Quito untuk membentuk Republik Ekuador. Republik Kolombia, embrio sebuah Negara yang besar dan bersatu, berubah menjadi Negara kecil seukuran wilayah New Granada pada pemimpin terdahulu,” tulis Gabriel Garcia Marquez dalam novel Sang Jenderal dalam Labirinnya.

Cerita ini mungkin sedikit beririsan dengan apa yang dialami sang deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro. Ia, pada akhirnya, tak bisa lagi mengendalikan apa yang telah ia bangun.

 “[...] I have written enough books on this subject. What we have to do now is to make our people study these books. Thus the paper works had already been done by me during my long exile in the United States. The only thing they have to do now is read! (Saya sudah menulis banyak buku tentang proses politik dan sejarah Aceh. Apa yang harus kami lakukan sekarang adalah mendorong bangsa kami mempelajari buku-buku tersebut. Buku-buku atau naskah-naskah tersebut telah tuntas saya tuliskan saat saya menjadi eksil di Amerika. Hal pertama yang harus mereka lakukan sekarang adalah membaca!),” tulis Hasan Tiro dalam bukunya Unfinished Diary the Price of Freedom.

Yang ia bangun mula-mula adalah gerakan membaca, agar orang-orang paham substansi yang mereka perjuangkan dan menemukan alasan mengapa mereka harus memperjuangkan hal itu.

Karena audience buku-buku yang disebut Hasan Tiro dalam bukunya Unfinished Diary the Price of Freedom adalah orang-orang Aceh, maka buku-buku itu dituliskan dalam bahasa Aceh: Atjeh Bak Mata Donja, Sireutoih Thon Mideuen Prang Bandar Atjeh, Masa Ukeue Politek Donja Meulaju, dan Perdjuangan Atjeh Meurdehka.

Baca juga:

Sekarang, pada pustaka siapa dan di pustaka mana buku-buku itu bisa ditemukan?

Alasannya membangun gerakan membaca terlebih dahulu mungkin karena Tiro sadar, tanpa itu, yang akan terjadi sama seperti yang dialami Simon Bolivar di Amerika Selatan atau sama sebagaimana yang dituliskan George Orwell dalam novelnya Animal Farm: penumbangan rezim oleh mereka yang tertindas, yang dilakukan dengan hanya bermodal indokrinasi tanpa dibarengi kesadaran dan pengetahuan, hanya akan menghasilkan tatanan kekuasaan bagi para penindas baru yang ternyata lebih buruk dan lebih menyengsarakan.

Puluhan tahun jadi artefak, gagasan Simon Bolivar dimaknai kembali dan diimplementasikan dalam cita-cita politik dan program-program pembangunan di Negara-negara Amerika Selatan, setidaknya oleh Che Guevara (Kuba-Bolivia), Hugo Chavez (Venezuela), dan Evo Morales (Bolivia). []

[Bersambung Bagian III]

Komentar

Loading...