Papua

[Bagian I] Rasisme terhadap Papua Kini dan saat Perang Dingin

·
[Bagian I] Rasisme terhadap Papua Kini dan saat Perang Dingin
L.B. Moerdani, saat itu berpangkat Kapten, dalam operasi militer di Papua. Foto dari buku Kibaran Sampari: Gerakan Pembebasan OPM, dan Perang Rahasia di Papua Barat.

sinarpidie.co--Rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019, menyebabkan gelombang aksi massa di Jayapura, Manokwari, dan Kota Sorong. Teriakan kata-kata monyet menggalang solidaritas massa Papua dan komunitas masyarakat internasional.

Cara pandang demikian ternyata menjadi cara pandang pemimpin politik Indonesia dan pemimpin politik Amerika, Tiongkok dan Soviet tatkala Soekarno hendak memasukkan Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada tahun-tahun yang berdarah-darah tersebut, Soekarno, pada satu sisi, menggalang Negara-negara Dunia Ketiga, untuk melawan penjajahan. Namun, di sisi lainnya, ia justru melakukan apa yang menjadi watak sahih kolonialisme itu sendiri terhadap Papua, yang ia namai Irian Barat, satu komunitas masyarakat yang ia klaim harus diselamatkan oleh Indonesia.

Suatu hari pada tahun 1960, Jenderal Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, membeli senjata pada Uni Soviet. Soviet juga memberikan bantuan lunak— belakangan Tiongkok juga ikut membantu—untuk dibelanjakan kapal selam, kapal pemburu, pesawat tempur, dan pesawat pembom berukuran sedang. Untuk mengimbangi pengaruh Uni Soviet dan Tiongkok yang berhaluan Komunis, Amerika Serikat yang semula menolak membantu Indonesia, juga ikut membantu.

“Di Papua, pemerintah kolonial Belanda saat itu sedang mengabaikan masalah persenjataan dan lebih menekankan pada perencanaan demokratisasi daerah koloninya,” tulis Robin Osborne, dalam buku Kibaran Sampari: Gerakan Pembebasan OPM, dan Perang Rahasia di Papua Barat.

Perang Dingin antara Uni Soviet (Blok Timur) dan Amerika Serikat (Blok Barat) menjadikan Indonesia sebagai sebuah pertaruhan walaupun sikap politik Soekarno saat itu adalah Non-Blok alias netral. Hitung-hitungan Amerika, sekaligus meyakinkan sekutunya Australia untuk mendukung Indonesia menduduki Papua, agar Indonesia tidak jatuh pada Blok Soviet.

Robert Komer, seorang staff Gedung Putih, menuliskan memo pada Presiden Kennedy, “… Semua bantuan ekonomi dan militer yang dapat kita berikan pada Soekarno akan lebih memberikan keuntungan kepada kita ketimbang menguntungkan obsesinya yang menggebu…”

Pada sebuah memo lainnya, Amerika menganjurkan Australia, “Negara Indonesia yang non-blok, kalau tidak bisa dibilang Komunis, merupakan sebuah ancaman yang jauh lebih besar bagi mereka, dan kita, daripada sekadar kepemilikan Indonesia terhadap ribuan hektare persegi tanah para kanibal.”

Bukan hanya perspektif penasihatnya yang memandang Papua demikian, melainkan juga pandangan Kennedy. Menurut Kennedy, Papua adalah 700.000 penduduk yang masih berada di zaman batu.

Belakangan, kita tahu, Operasi Pembebasan Irian Barat dikenal dengan sebutan Operasi Trikora (1962) digelar. [Bersambung Bagian II]

Komentar

Loading...