Figur

[Bagian I] Muhammad Iriawan, Laut, dan Partai Aceh

·
[Bagian I] Muhammad Iriawan, Laut, dan Partai Aceh

sinarpidie.co--SEORANG perempuan paruh baya duduk di balai bambu. Di samping tempat ia menyandarkan tubuh, tergeletak sebuah ember hitam yang dipenuhi asinan salak dan rujak yang telah terbungkus dalam kantong plastik kecil.

“Lima, sepuluh ribu,” ujar perempuan paruh baya tersebut.

Di depan perempuan itu duduk, seorang pria tua tengah memasang kail pancing. Ia mula-mula melilit tali pancing di jempol kakinya. Sejurus kemudian, ia memasangkan kail pancing pada tali tersebut dan menancapkan benda itu pada sebatang pelepah rumbia.

“Harus ada minimimal 120 buah. Untuk persiapan sebelum ke laut,” kata dia sambil melanjutkan pekerjaannya itu.

Balai bambu itu berada di dalam sebuah bangunan yang beratapkan daun nipah. Ia disangga 14 tiang beton dengan lantai keramik motif batu alam. Jambo Nelayan, begitu nama dan sebutan yang dikenal orang-orang untuk bangunan yang  terletak di belakang Taman Kota Sigli, Pidie, itu. Posisinya agak menjorok ke dalam.

Orang-orang lalu-lalang. Beberapa dari mereka pergi ke belakang bangunan tersebut, mengambil wudhu di tempat wudhu, yang juga dilengkapi kamar mandi beton. Tempat wudhu dan kamar mandi itu, kira-kira, seluas 3 x 2 meter.

Mereka kemudian menunaikan salat Ashar di mushala yang serupa dengan rumah panggung. Sebagian lainnya duduk di balai bambu di dalam Jambo Nelayan. Ada yang bersandar pada tiang-tiang beton. Ada yang langsung merebahkan tubuh mereka di atas dipan bambu. Gelak tawa, gurauan, dan makian, menggantung di udara. Membahana.

Di sisi kanan bangunan tersebut, perahu-perahu mesin nelayan berjajar di pinggir sungai.

“Sebelumnya,” kata penjual minuman di kedai minum yang ada di dalam Jambo Nelayan, Zulkifli Husen,  Sabtu, 5 November 2016 lalu, “kami hanya punya balai bambu reot. Uangnya hasil dari kami patungan.”

Kata dia, Jambo Nelayan baru berdiri sekitar dua tahun. “Bantuan Negara. Saya tidak tahu apa namanya. Yang jelas, itu atas usaha Bang Wan. Malahan, dia tambah uang pribadinya,” ujar Zulkifli Husen.

Orang-orang di sana memanggil Muhammad Iriawan dengan panggilan Bang Wan.

Zulkifli melanjutkan, biasanya, saat Muhammad Iriawan tidak sedang berada di luar daerah, pria bertubuh jangkung tersebut menyambangi tempat ini “sampai lima malam berturut-turut. Akan tetapi, kadang, kalau dia sibuk, sampai satu minggu hingga lima belas hari dia tidak datang”.

“Di sana,” ujar Zulkifli Husen, menunjuk ke arah satu sudut Jambo Nelayan, “Bang Wan biasanya duduk.”

Kali ini Zulkifli Husen menunjuk ke arah mushala. Sambil menyeduh kopi pelanggannya, ia berujar, “Waktu magrib, kalau ada Bang Wan di sini, dia yang jadi imam.”

***

MUHAMMAD IRIAWAN, pria kelahiran Sigli 30 November 1961, adalah Bapak Koperasi di Pidie yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pidie.

Di samping itu, suami Elfiza Hasni Yusuf, itu, juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Pidie pada tahun 2009-2012. Karirnya terus menanjak: terpilih dan menjabat sebagai Wakil Bupati Pidie periode 2012-2017.

Muhammad Iriawan mulai akrab dengan laut dan nelayan sejak 2001 silam. Pria berkulit sawo matang itu berkisah, pada 2001, setelah Kantor Departemen (Kandep) Koperasi dan Pembina Pengusaha Kecil (pada 2003 berubah menjadi Dinas Koperasi dan UKM) dibakar, selama tiga tahun, kantor tersebut vakum. 

Pada tahun itu, lulusan Fakultas Ekonomi Unsyiah pada 1987, itu, menjabat sebagai Kasi Koperasi Kandepkop dan PPK Pidie. 

Seluruh peralatan kantor, dari kertas hingga komputer mula-mula dipindahkan ke rumahnya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Belakangan, setahun berikutnya, aktivitas kantor tersebut berpindah ke salah satu ruko di alun-alun Kota Sigli, Pidie.

“Dulu, saya hobi mancing di pinggir sungai. Maka, pada awalnya, saya coba-coba berkawan dengan mereka yang melaut. Nelayan,” kata dia, Minggu 6 November 2016, di kediamannya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Setelah beberapa kali dan kian sering pergi ke laut, Muhammad Iriawan akhirnya mulai akrap dengan para nelayan yang sering mangkal di kawasan Kuala Pidie, yang rata-rata berasal dari Pasirawa, Gajahe, Lampoh Krueng, dan Rawa Pidie.

“Saat itu, di darat, kontak senjata dan berita tentang perang selalu kita dengar. Jadi, saya pergi ke laut untuk melepas penat,” kata ayah satu anak itu.

Surya Dharma, 45 tahun, warga Gampong Kuala Pidie, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, masih mengenang penampilan Muhammad Iriawan saat awal mula ia “main-main” ke Kuala Pidie.

“Dengan celana training, kaus, dan topi jerami,” ungkapnya.

Ia bercerita, karena baru “mengenal” laut, Muhammad Iriawan pernah menaiki perahu dayung untuk memancing ikan pada saat musim angin. “Nelayan tidak melaut, tetapi beliau justru ke laut,” kata Surya Dharma, yang saat itu masih berprofesi sebagai nelayan.

“Anehnya, meskipun suka mancing ke laut, beliau tidak bisa berenang sampai sekarang,” tutur Surya Dharma.

“Tempat itu (Jambo Nelayan/tempat nelayan sebelumnya-red) adalah tempat paling nyaman bagi saya untuk bersantai. Di situ tidak ada cerita-cerita tentang kejelekan orang lain, tidak ada cerita tentang politik praktis. Yang ada, ya…, urusan mereka sendiri, tentang melaut dan memancing,” kata Muhammad Iriawan. [Bersambung bagian II]

Artikel ini pernah tayang di portalsatu.com. 

Komentar

Loading...