Liputan Khusus Pileg DPRK Pidie 2019

[Bagian I] Kopi, Sagu dan Kakao di Dapil 4 Pidie

·
[Bagian I] Kopi, Sagu dan Kakao di Dapil 4 Pidie
Kebun sagu warga di Gampong Lhok Mee, Kecamatan Sakti, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Dapil 4 Geumpang, Sakti, Tangse, Tiro/Truseb, Keumala, Mane, Titeue merupakan Dapil dengan jumlah pemilih terbanyak pada Pemilu 2019: 62.555 pemilih. Di Dapil ini, pada Pileg DPRK Pidie 2019, terdapat 127 caleg yang berebut delapan kursi.

sinarpidie.co—Perempuan itu menunjukkan satu per satu letak pohon sagu di kebun di belakang rumahnya. Potongan-potongan pohon sagu berceceran di tanah. Tergelupas sana-sini. “Per pohon Rp 80 ribu atau Rp 100 ribu,” kata Aminah, 71 tahun, warga Gampong Lhok Mee, Kecamatan Sakti, Pidie, pada sinarpidie.co, Rabu, 24 April 2019.

Pohon-pohon sagu yang telah terpotong-potong tersebut diangkut dan dibawa ke pabrik pengolah tepung di Bireun sebagai bahan baku tepung. Per bulan, kata Aminah, dirinya tiga kali menjual pohon sagu di kebunnya.

“Sekali jual 4 pohon. Sebulan 12 batang totalnya,” katanya.

Pohon-pohon sagu tersebut tumbuh secara turun-temurun di Gampong Lhok Mee, Kecamatan Sakti, Pidie.

Selain sebagai bahan baku tepung, pohon sagu juga berguna sebagai bahan baku atap. Per pohon, dedaunan pohon sagu yang bisa diolah menjadi atap: 50 potongan atap dengan batang bambu sepanjang 1,1 meter.

“Batang bambu yang telah dipotong kami beli Rp 40 ribu per 100 batang. Atap kami jual per batang Rp 5000,” kata Aminah lagi.

Sagu dapat dikatakan penggerak ekonomi rumah tangga di Gampong Lhok Mee. Semua perempuan di tiap rumah di gampong tersebut menganyam atap dari dedaunan pohon sagu.

Atap yang terbuat dari daun pohon sagu. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Upah menganyam per atap Rp 1000. Istri saya juga menganyam atap tersebut,” kata Bahtiar Umar, warga Gampong Lhok Mee, Kecamatan Sakti, Pidie, Rabu, 24 April 2019. “Yang kami butuh untuk dibantu, modal usaha: beli batang bambu dan tali rotan untuk menganyam atap tersebut.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, luas areal tanam sagu di Kecamatan Sakti 94 hektare. Produksinya per tahun mencapai 386.60 ton tepung.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Ir Syarkawi mengatakan, membudidayakan komoditi sagu di Pidie membutuhkan lahan basah yang luas.

“Selain lahan yang sudah digunakan oleh masyarakat untuk membudidayakan sagu selama ini, potensi lahan lainnya untuk dikembangkan secara lebih besar belum kami lihat. Sejauh ini, Dinas Pertanian Pidie belum mengembangkan budidaya sagu secara besar. Selama ini masyarakat menanam sendiri satu per satu. Tapi kalau memang itu punya potensi ekonomi yang baik untuk masyarakat mengapa tidak,” kata dia, Kamis, 25 April 2019.

Kata dia lagi, pihaknya tetap akan memperhitungkan potensi nilai tambah secara ekonomi jika komoditi tersebut dikembangkan ke depan.

Selain di Kecamatan Sakti, di Kecamatan Titeue, produksi sagu  per tahun 32.31 ton setara tepung.

Di samping sagu, kakao merupakan tanaman yang rata-rata dibudayakan oleh masyarakat di Titeue.

Dikutip dari data BPS, luas tanam kakao di Kecamatan Titeue 1.096 hektare dan jumlah produksi 131 ton biji kering per tahun.

Mahmud Ibrahim, 78 tahun, warga Gampong Asan Tumpeudeng, Kecamatan Titeue, miliki 2 hektare kebun kakao. Ia sudah 16 tahun menjadi petani kakao.

“Biji kakao kering dibeli Rp 22 ribu per kg. Panen per 20 hari. Sekali panen 100 kg,” kata dia. “Untuk kebutuhan keluarga sangat mencukupi.”

Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kecamatan Titeue dalam Pemilu 2019: 4.771 pemilih. Sementara, berdasarkan rekapitulasi perolehan suara tingkat Kecamatan Titeue, Kamis, 25 April 2019, pengguna hak pilih 3.707.

Perolehan suara Pileg DPRK Pidie 2019, berdasarkan rekapitulasi perolehan suara tingkat Kecamatan Titeue, Kamis, 25 April 2019, Partai Gerindra memperoleh suara tertinggi: 659. Lalu, Partai Aceh memperoleh 618 suara. Partai Daerah Aceh 534 suara.  Nasdem 370 suara, Partai Demokrat 315 suara, dan PKS 259 suara. [] [Bersambung Bagian II]

Reporter: Candra Saymima, Firdaus, Diky Zulkarnen.

Komentar

Loading...