Serba-serbi ramadhan

8 Perusahaan Sawit di Aceh Timur Disebut Buka Lahan Hutan Hujan di Dataran Rendah Timur Laut KEL

·
8 Perusahaan Sawit di Aceh Timur Disebut Buka Lahan Hutan Hujan di Dataran Rendah Timur Laut KEL
Foto Ist.

sinarpidie.co—Kerusakan habitat akibat pembukaan hutan hujan di dataran rendah timur laut Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) meningkat tajam dalam bulan-bulan pertama tahun 2019 ini.

Hal itu terungkap dari Citra satelit dan investigasi lapangan yang dilakukan oleh Rainforest Action Network (RAN), di mana ditemukan delapan dari sembilan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Aceh Timur telah melakukan pembukaan lahan dengan secara aktif dengan menebangi hutan di dalam konsesi mereka yang berada di dalam hutan hujan dataran rendah KEL.

Rinciannya: sekitar 187 hektare lahan dibuka mulai bulan Januari hingga Maret 2019 menjadikan total 246 hektare hutan hujan rusak hingga April 2019.

“Kita perlu menempatkan kondisi ini ke dalam konteks sekarang: jumlah karbon dunia baru saja tercatat mencapai 412 ppm untuk pertama kalinya dalam sejarah,” ungkap Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan Rainforest Action Network (RAN), dalam siaran pers yang diterima sinarpidie.co, Kamis, 16 Mei 2019. “Laporan IPBES dan IPCC baru-baru ini memperingatkan bahwa kita hanya punya sedikit waktu untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati. Perusahaan dan merek-merek dunia semuanya hanya mengadopsi kebijakan mereka di atas kertas, namun hutan hujan tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi dan berfungsi sebagai paru-paru dunia seperti Kawasan Ekosistem Leuser, terus terdegradasi."

Hutan dataran rendah Kawasan Ekosistem Leuser, kata dia, berperan penting secara global dan menjadi rumah berharga bagi satwa liar. Hutan ini sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang unik dan merupakan habitat inti yang masih tersisa bagi spesies kunci yang terancam punah atau berisiko tinggi untuk punah, termasuk diantaranya orangutan, gajah, dan harimau Sumatra.

Dikatakannya lagi, data satelit dari Januari hingga April 2019 menunjukkan bahwa delapan perusahaan kelapa sawit telah melanggar moratorium pemerintah Indonesia tentang pembukaan hutan untuk minyak kelapa sawit dan kebijakan ‘Nol Deforestasi’ dari perusahaan-perusahaan makanan ringan. Kerugian ekologi yang signifikan telah terjadi di enam perusahaan perkebunan yang membuka hutan.

“PT. Nia Yulided (78 ha), PT. Putra Kurnia (30 ha), PT. Tualang Raya (45 ha), PT. Indo Alam (18 ha), PT. Tegas Nusantara (10 ha) dan perusahaan perkebunan kelapa sawit milik negara PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) I Blang Tualang (10 ha). Sedangkan data satelit dari bulan April 2019 menunjukkan empat perusahaan kelapa sawit terus membuka hutan; PT. Nia Yulided (dari 56 ha meningkat jadi 78 ha), PT. Indo Alam (dari 13 ha meningkat jadi 18 ha), PT. Putri Kurnia (dari 25 ha meningkat jadi 30 ha), dan PT. Tualang Raya (dari 17 ha meningkat jadi 44 ha),” kata dia merincikan.

Perusahaan minyak sawit milik Negara PTPN I Blang Tualang, kata dia melanjutkan, telah memproduksi TBS yang terbukti memasok pada pabrik kelapa sawit untuk pasar dan merek-merek global, termasuk di antaranya PepsiCo, Unilever, Nestle, Mondelez, Mars, Hershey's, General Mills dan Kellogg's. Seluruh perusahaan ini memiliki kebijakan yang melarang perusahaan-perusahaan untuk memasok minyak kelapa sawit dari lahan deforestasi. 

RAN pertama kali mengungkap perusahaan-perusahaan yang menebangi hutan hujan dataran rendah yang kritis ini pada November 2015, dan hingga saat ini merek-merek dunia ini telah gagal memantau dan melakukan intervensi untuk menghentikan laju kerusakan hutan hujan tropis.

“Fakta bahwa perusahaan kelapa sawit tidak sadar, atau tidak patuh terhadap kebijakan ‘Nol Deforestasi’ telah menunjukkan bahwa merek-merek dunia telah gagal untuk menerapkan komitmen mereka secara memadai pada tempat-tempat yang paling penting untuk dilindungi –– salah satunya mencegah ekspansi kelapa sawit di lanskap hutan kritis Kawasan Ekosistem Leuser,” tutup Gemma. []

Komentar

Loading...