4 Cucu Nek Naimah yang tak Miliki Akta Kelahiran

·
4 Cucu Nek Naimah yang tak Miliki Akta Kelahiran
Naimah, 54 tahun, warga Gampong Cut, Kecamatan Delima, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Naimah, 54 tahun, warga Gampong Cut, Kecamatan Delima, Pidie, dapat mewakili satu kisah tentang keluarga yang tak dapat mengakses layanan publik berupa dokumen administasi kependudukan, yang juga berdampak pada bantuan sosial dan bantuan pendidikan yang juga tak dapat diakses.

Sehari-hari, Naimah bekerja sebagai buruh tani dan pengayam atap daun rumbia bersama ibunya, Marian, 84 tahun. Tak hanya tinggal bersama ibunya yang sudah renta, Naimah juga merupakan tulang punggung bagi keempat cucunya yang juga tinggal bersamanya: Putri Rahayu, Rizki Andrian, Miftahul Jannah, dan Muhammad Safrizal.

Keluarga ini tinggal di sebuah gubuk berdindingkan pelepah rumbia dan beratapkan anyaman daun rumbia dengan luas sekira 5 x 6 meter. Di dalam rumah tersebut, hanya ada satu kamar tidur yang disekat dengan pelepah rumbia. Selebihnya, digunakan untuk dapur dan tempat penyimpanan segala keperluan rumah.

“Saya tinggal bersama dua cucu di gubuk ini, yang satu Putri Rahayu, kelas 3 SD. Yang kedua Rizki Andrian kelas 1 SD, dan ada lagi dua cucu yang sudah menjadi santri tetap dan mondok. Muhammad Safrizal di Pesantren Bambi, Kecamatan Peukan Baro. Miftahul Jannah mondok di pesantren Usi, Kecamatan Mutiara Timur,” kata Nek Naimah, saat sinarpidie.co datang ke rumahnya, Sabtu, 31 Agustus 2019.

Keempat cucunya tersebut menjadi tanggungannya sejak kedua orangtua mereka bercerai. Karena kedua orangtua mereka bercerai, akibatnya, keempatnya tidak memiliki akta kelahiran, yang menjadi salah satu syarat mengakses layanan bantuan sosial dan layanan bantuan pendidikan. Bahkan, keluarga ini juga tidak masuk ke dalam daftar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH).

“Kalau untuk KK, keempat cucu saya KK saya,” kata Naimah. “Setiap tiga minggu sekali saya pergi ke tempat pemondokan kedua cucu saya di pesantren. Kadang pergi menggunakan RBT. Kadang saat mengunjungi cucu yang di Pesantren Bambi saya naik sepeda,” kata Naimah.

Kata dia, selama ini kedua cucunya yang masih duduk di bangku SD Negeri Desa Neulop itu belum pernah tersentuh beasiswa dari pemerintah, seperti beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).

“Setiap hari, mulai dari beras untuk makan, jajan mereka sekolah, itu tiap hari harus saya pikirkan, agar cucu saya bisa merasakan hidup seperti anak-anak seusia mereka,” kisahnya. “Pihak sekolah pernah meminta akta kelahiran dan kedua cucu saya itu tidak ada akta kelahiran. Hingga sekarang tidak ada kabar lagi dari sekolah.”

Putri Rahayu di dalam rumah. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Desa Neulop, Rusnadi, saat dikonfirmasi sinarpidie.co, Minggu, 1 Agustus 2019 mengatakan, terkait bantuan dari pihak sekolah untuk Putri Rahayu dan Rizki Andrian yang bersekolah di SD yang dipimpinnya, keduanya mendapat fasilitas bantuan dana BOS untuk pelengkapan keperluan sekolah.

“Kalau bantuan dari dana BOS semua anak dapat dalam bentuk berupa perlengkapan alat dan kebutuhan sekolah,” kata Rusnadi. “Untuk PIP, semua anak kita naikkan datanya, tidak kita tebang pilih, memang datanya diminta berupa akta kelahiran biar akurat datanya, kalau memang tidak ada akta kelahiran, kita ambil kartu keluarga KK saja.”

Keuchik Gampong Cut Rubee, Kecamatan Delima, Al Muslim, membenarkan, keempat anak yang diasuh oleh Naimah tidak mempunyai akta kelahiran. Namun, kata dia, jika keempat anak tersebut membutuhkan akta kelahiran untuk keperluan administrasi sekolah, pihaknya akan membantu untuk mengurus akta kelahiran mereka tersebut dengan surat keterangan dari keuchik.

Baca juga:

“Kita akan memfasilitasi anak-anak yang diasuh Naimah untuk membuat surat keterangan dari keuchik agar bisa mengurus akta kelahiran. Kemudian, pada tahun ini juga ada diusul pembangunan rumah untuk Naimah,” kata Keuchik Gampong Cut Rubee, Al Muslim, Minggu, 1 September 2019.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pidie, Effendi, mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti hal itu.

“Kami akan berusaha membantu dengan mengikuti prosedur. Silahkan dibawa berkasnya ke kantor dulu,” kata Effendi, Minggu, 1 September 2019. []

Koreksi: terdapat kasalahan penulisan nama sekolah dan nama kepala sekolah-- Sekolah Dasar Negeri Desa Neulop dengan Kepala Sekolah Rusnadi--yang dimintai tanggapan terhadap Putri Rahayu dan Rizki Adrian. Sekolah Putri Rahayu dan Rizki Adrian adalah Sekolah Dasar Negeri Reubee dengan Kepala sekolah Yusrizal.

“Kedua nama anak tersebut tahun ini sudah diusulkan pihak sekolah untuk mendapat beasiswa PIP,” kata Yusrizal, Kepala Sekolah Dasar Negeri Reubee Senin, 2 September 2019.

Komentar

Loading...